Simfoni malam itu,

Posted: Kamis, 18 Februari 2010 by Iqbal Fajar in
0

Rupanya memang hanya bertahan 2 bulan saja kesetian sejati pada sang pacar. Pemicunya adalah seseorang di acara outbond kantor. Bermula dari berita bahwa seseorang dari kepanitian outbond menanyakan profil FB saya. Karena memang FB asli saya hanya memiliki satu teman dan itu adalah sang pacar, maka lebih mudah saya mengatakan bahwa FB adalah barang haram. Tetapi memang godaan sulit di tolak. Setelah bergeriliya selama 3 hari, akhirnya saya mendapatkan no hp dan identitas sang pengagum tersebut. Kita sebut saja Vindy. Sang penyanyi dan penghibur malam outbond itu. Gadis dengan wajah manis dan hidung khas arab diramu dengan putihnya kulit hasil perlindungan udara sejuk Bandung yang sudah terbukti menghasilkan dara cantik terkenal seentaro negeri. Menarik, menggoda, dan mengundang. Bagi pria dengan sindroma “falling in love just too fast” seperti saya, Vindy bagaikan durian runtuh. Tanpa cape-cape mencari dan menghayal, dia membuka dirinya bagi saya.

Maka hubungan yang dimulai dengan sms dan miscall itu pun berlanjut hingga malam ini. Sifat yang supel dan ketertarikan awal menjadi pemanis perbincangan. Obrolan sembari mencuri waktu kerja pun memakan waktu yang jika digunakan bagi peruntukannya, cukup untuk mereview RAB dan TOR project. Tugas yang seharusnya saya selesaikan hari itu. Percakapan berlanjut malam hari. Walaupun tidak ada sms “good night darl” dan sejenisnya, malam ini tetap menjadi sejarah baru.

Disebut sejarah karena sekali lagi account FB fake itu saya aktivasi lagi. Account itu sebelumnya saya deactivate karena ketahuan Ibu Negara. Beliau mengamuk sejadi jadinya. Butuh waktu cukup lama untuk menenangkannya hingga memupuk kembali kepercayaan yang hancur itu. Kala itu saya berjanji (yang ternyata terbukti hanya bertahan 2 bulan :hammer) untuk tidak mengaktifkan lagi account FB palsu itu.

Sebenarnya bukan tanpa rasa bersalah saya mengaktifkan lagi FB itu. Bukan hal yang mudah mengatasi perasaan bersalah tersebut menyesap dalam hati kecil ini. Sang pacar terlalu berharga untuk dikorbankan demi seorang nun jauh disana yang tidak diketahui kejelasannya. Kepercayaan pacar juga menjadi perhitungan. Setidaknya dia kini akan lebih hati-hati mengawasi pejantannya yang sedang dalam masa puber entah untuk keberapa kalinya.
Sejujurnya, tidak ada seorang wanita pun yang bisa menggoyahkan posisi pacar dari hati saya sebagai calon pendamping hidup. Mapan, cantik, manis, smart, keibuan, sangat perhatian, mau mendengar, penurut, sangat terbuka, tidak mengekang serta sederet sifat menarik lainnya. Entah kenapa saya masih saja bodoh untuk mempertaruhkan itu semua dengan seorang yang belum jelas asal usulnya.

Akh,, tapi lelaki memang bodoh dan kebodohan itu makin menjadi pada diri saya ini. Jadilah malam ini saya kembali bermain api, menantang prinsip yang dipegang serta mengubur dalam-dalam janji yang telah di ucapkan. Malam ini saya menulis sembari mengutak atik profil FB dengan kepulan asap yang memenuhi kamar. Saya selingkuh (lagi)..

0 comments: