Dedikasi

Posted: Jumat, 12 Februari 2010 by Iqbal Fajar in
0

“seseorang terlihat kualitasnya ketika dia menemui masalah”

Kata-kata atasan saya kembali terngiang ketika salah satu Tenaga Ahli yang akan perusahaan kami gunakan memberitahukan bahwa dia akan mengikuti tender yang sama. Kompetensi perusahaan saya yang lebih menekankan terhadap survey dan inspeksi memang menggantungkan beban pekerjaan ini pada tenaga konsultan yang lebih layak. Perusahaan saya hanya bertindak sebagai institusi yang secara legalitas menaungi pekerjaan tersebut. Substansi secara keseluruhan akan diserahkan kepada tenaga ahli. Alhasil jika tenaga ahli yang jadi ujung tombak itu membelot dan berjalan sendiri, tentu perusahaan saya akan kelabakan.

Pekerjaan ini memang sudah kami giring sedemikian rupa sehingga prosentase kemenangan menjadi lebih besar. Praktek yang jamak terjadi di pekerjaan pemerintahan. Akan tetapi, tender tetaplah tender. Ada factor luck and bargain disana. Bargain memang sudah kami rancang sedemikian rupa, tapi luck? Who knows?...

Kenapa kata-kata atasan saya tersebut dijadikan pembuka? Mari melihat sebentar sejarah terucapkannya kata-kata itu. Ketika itu saya sedang mengalami tekanan besar. Saya yang awalnya hanya menangani pekerjaan delivery (istilah yang kami buat untuk tugas pelaksanaan pekerjaan lapangan), harus menerima jabatan sebagai Person In Charge untuk satu departemen. From nothing to something, frasa yang tepat untuk menggambarkan posisi saya ketika itu. Perubahan yang drastic itu membawa saya pada konsekuensi target project yang tinggi. Dan pada saat itu tekanan sangat kuat. Project yang tinggal melanjutkan dari tahun lalu terancam di cancel (dan ternyata memang di cancel,,). Saya yang saat itu sudah kalut di panggil oleh atasan. Melihat wajah Account Executivenya yang sudah pusing, semaput dan bingung, atasan saya menceritakan posisi dia ketika pertama kali tiba di kantor pusat. Ketika itu beliau hanya menempati spot kecil di ujung ruangan. Tanpa staf, tanpa fasilitas. Belum lagi tatapan remeh karena statusnya yang dipindahkan dari Cabang Surabaya. Tapi keadaan itu tidak menciutkan nyalinya. Targetnya satu, memberikan profit dan pekerjaan bagi perusahaan dalam waktu kurang dari 6 bulan. Dan itu terbukti. Salah satu dari banyak pekerjaan yang di bawa kini menjadi kebanggaan perusahaan. Menghidupi ratusan orang dan memberikan banyak profit bagi perusahaan. Spot kecil di pojokan itu pun kini sudah menjelma menjadi ruangan setara direktur.

Dan kalimat itu terucap, sindiran sekaligus pemacu semangat. Sederhana, tapi mengena. Hingga kini, kata-kata beliau terus terngiang. Menjadi acuan tentang arti perjuangan dan dedikasi. Bahwa bekerja bukan sekedar mengerjakan tugas tapi bagian dari pembuktian diri terhadap kehidupan itu sendiri []

0 comments: