Leaving Jakarta,,,
Posted: Jumat, 12 Februari 2010 by Iqbal Fajar inYah, benar. Saya akan meninggalkan Jakarta. Kota yang telah menjadi bagian dari hidup ini selama setahun kebelakang. Kota yang telah memberikan saya kehidupan lain, sensasi plus keruwetannya. Stress tingkat tinggi sekaligus potensi kenikmatan yang berbanding lurus. Panas dan polusi vs dinginnya angin malam dan kesendirian. Di ibukota ini saya menemukan sebagian diri yang hilang sekaligus kehilangan sebagian idealisme. Kota dengan eksotisme berbalut gaya hidup yang terlalu tinggi (bagi sebagian orang,,). Hanya di kota ini saya bisa menemukan tingginya delta konsumerisme dan pendapatan. Semua terangkai dengan sempurna. Menjadikan ibukota ini selalu menarik untuk di eksplorasi
Melihat kebelakang, saya tiba di kota ini untuk bekerja pada salah satu BUMN spesialisasi survey dan verifikasi sebagai product development. Saya masih ingat saat itu, keluar dari kantor berlantai 19 dengan senyum yang tidak bisa hilang. Ketika itu saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin proses rekrutasi di perusahaan sebonafide itu dapat begitu cepat dan mudah. Bahkan hingga 3 hari berselang, saya masih belum percaya bahwa akan hidup di Jakarta, kota impian bagi sebagian orang daerah seperti saya.
Tapi Jakarta memang Jakarta. Kota dengan impian yang sangat lekat dengan kenyataan sekaligus mimpi. Malam pertama saya tinggal di Jakarta benar-benar pengalaman yang tidak mengenakkan. Insomnia, pengapnya kamar, dan nyamuk menjadi mimpi buruk, bahkan hingga sekarang. Saya terjaga hingga pagi menjadikan hari pertama kerja sungguh siksaan yang tak tertahankan. Selain harus beradaptasi dengan orang baru dan lingkungan baru, saya juga harus menahan kantuk dan lelah akibat nyamuk dan pengap.
Siksaan belum usai. Ternyata nyamuk dan panas hanya satu dari rentetan penderitaan saya di bulan pertama. Macetnya jalanan menambah tingkat strees saya. Keluar kostan, macet, pulang kerja lebih macet. Bahkan di kostan pun kuping saya harus berhadapan dengan bisingnya pekerjaan konstruksi dan tentu saja, deruman kendaraan bermotor. Belum jika dihitung dengan tinggi nya polusi dari bus dan metro mini. Perfect,,,
Kesendirian adalah masalah utama lainnya. Saya memang terbiasa dan kerapkali menempatkan diri untuk sendiri. Tapi saya juga makhluk social. Sefanatik apapun saya terhadap kesendirian, tetap merupakan siksaan jika tidak punya teman untuk berbagi dan bercerita. Lingkungan kost sangat tidak kondusif, mulai dari bapak kost yang minim komunikasi, teman-teman kost yang tidak pernah saya lihat penampakannya hingga sahabat saya yang ikut-ikutan pergi meninggalkan Jakarta. Fanatisme saya terhadap kesendirian pun berubah menjadi kebutuhan terhadap kebutuhan sosialisasi, yang akut..
Sebagian dari masalah tersebut memang cerita lama. Saya sudah bisa beradaptasi dengan macetnya Jakarta. Jalan tikus, kelokan maut sang pulsar tercinta ditambah mp3 player yang tersembunyi dibalik helm menjadi obatnya. Padatnya jalan serta suara bising kendaraan sudah bisa saya nikmati dengan lagu-lagu kesukaan. Walau pun terkadang saya tetap tidak bisa habis pikir, kenapa Jakarta bisa semacet ini, kenapa tidak pernah ada solusi yang tuntas bagi semuanya. Bukannya saya tidak suka menggunakan moda transportasi kebangaan kota ini. Trans Jakarta. Percayalah, saya sempat menjadikan Trans Jakarta sebagai moda transportasi utama saya. Ada optimisme tersimpan disana. Bus yang tepat waktu, jalur yang khusus, AC yang selalu berhembus, hingga metode latihan menghilangkan lemak saya yang mulai bertumpuk. Nyatanya saya selalu harus terlambat tiba di kantor karena minimnya armada yang bertugas. Belum lagi antrian panjang dan bus yang selalu penuh, AC yang terkadang kencang terkadang pelan hingga informasi halte yang berganti menjadi suara petugas. Dan kecintaan saya pada Trans Jakarta hanya bertahan seminggu.
Masalah kostan yang individualisme sudah terpecahkan. Tidak tahan dengan pengapnya kamar dan sikap bapak kost yang tanpa kata, hanya menyelipkan kuitansi tagihan kostan setiap tanggal 25. Padahal ketika pertama kali masuk kost saya sudah minta kompensasi pembayaran hingga tanggal 27 karena kantor memang membayarkan gaji karyawannya pada tanggal tersebut. Tetap saja kuitansi itu menyembul dengan dinginnya. Dan pada bulan ke empat tepatnya sebelum libur lebaran, saya hengkang.
Kost kedua saya sangat bersahabat. Teman samping kamar yang bersahabat, ibu kost yang ramah, bapak kost, saya kerap kali memanggil beliau babeh, serta anak anaknya yang lucu dan menggemaskan. Paling penting ialah segarnya udara serta sunyinya lingkungan. Saya sendiri sempat tidak percaya dapat menemukan kost seperti ini di Jakarta. MIrip sekali dengan kost saya dulu. Hanya nyamuk dan insomnia yang masih menjadi masalah hingga kini. Mahluk brengsek itu tetap saja ada, mungkin hanya di daerah sub tropis saya bisa terbebas darinya.
Begitu pula dengan panas, pengap dan polusi. Kini semua aspek tersebut sudah menjadi bagian hidup saya. Orang kedokteran kerap menyebutnya dengan resiten. Sebenarnya saya tidak sepenuhnya kebal. Hanya saja saya menemukan formula conterpartnya. Kehidupan malam Jakarta. Tapi bukan kehidupan malam yang gemerlap dengan remang-remangnya, atau kelap kelip lampu club yang membuat saya tenang. Justru kesendirian jalanan, dinginnya angin malam dan indahnya taman suropati serta kota tua yang membuat saya terpikat. Aneh bagi sebagian orang, tapi saya benar-benar terbius dengan perbedaan ekstrim antara siang dan malam Jakarta. Siang hari penghuni Jakarta berpanas ria dan berjejalan di jalan. Malamnya, Jakarta bagaikan penghuninya, terlelap dalam ketenangan. Angin malam yang menusuk ketika bermotor, taman suropati yang menyanyikan simfoni akustik pengamen jalanan, kota tua yang redup dan misterius adalah sebagian dari obat rindu saya. Hingga saat ini, saya masih mengandalkan Jakarta versi malam sebagai pengganti kehidupan. Bisa dibilang ini salah satu alasan saya bertahan di Jakarta. Di kota tempat tinggal sebelumnya, saya memang menemukan sensasi ini. Tapi Jakarta berbeda. Dibalik semua ketenangannya ada derik-derik kehidupan lainnya. Tidak banyak memang yang sesuai dengan anomaly kesendirian saya, hanya beberapa. tapi itu sudah cukup. Saya bahagia. Bahkan kerapkali pekerjaan kantor di switch ke jam malam karena di saat itulah ide mengalir dengan sempurna.
Hidup menjadi berarti ketika kita menikmatinya. Frasa itu yang saya selalu pegang teguh. Tidak penting bagi saya bergelimang harta jika harus pusing menyembunyikannya dari auditor. Bukan kenikmatan jika kita hanya bisa menjalani hidup tanpa meresapi maknanya. Jujur, saya lelah tinggal di Jakarta. Tapi kota ini telah memberi saya pengalaman baru. Selalu ada cara menikmati kesulitan, hanya kita yang harus sedikit berusaha meraihnya. Jika ditanya pada saat 3 bulan pertama saya menginjak Jakarta, apakah saya suka tinggal di Jakarta? saya pasti akan menjawab tidak. Jika pertanyaan yang sama dilontarkan sekarang, setelah satu tahun bercengkrama dengan kota ini, saya akan menjawab,
“Jakarta akan selalu mendapat satu tempat di hati saya, dan ya, saya suka Jakarta” []
ps.
Honestlly, saya tidak benar-benar meninggalkan Jakarta, hanya berpindah tempat tinggal ke rumah tercinta yang sudah ditinggalkan hampir selama masa belajar saya. Pekerjaan dan kuliah masih memberikan saya kesempatan untuk lebih mengeksplorasi Jakarta. Ini hanya romantisme yang kerap singgah kala saya harus berpindah tempat. Bukan hal penting, tapi layak di dokumentasikan.