Catatan tentang Sayang
Posted: Selasa, 09 Maret 2010 by Iqbal Fajar in“Ketika kamu tidak tahu apa yang kamu harus sayangi dari seseorang, ketika kamu hanya bisa menyayanginya tanpa alasan apapun. Bukan karena wajahnya yang menawan, bukan karena suara yang merdu, atau kekayaan yang menggunung. Hanya rasa sayang, tanpa alasan dan tanpa penyebab. Maka itulah rasa sayang yang sebenarnya.”
Quote dari sahabat saya itu kini saya rasakan lagi. Kali ini dari seorang dara asal bandung dengan paras manisnya. Anda bisa tahu siapa dia dari tulisan saya sebelumnya. Wanita yang kini resmi menyandang gelar paling tidak penting di dunia : pacar saya. Semua bermula dari rongrongan seseorang dari masa lalu. Seseorang yang juga pernah memberikan rasa sayang yang sebenarnya kepada saya. Walau pada akhirnya tidak ada yang bisa dipertahankan dari hubungan kami. Lalu semua berakhir, dan kini rasa sayang yang dulu hilang kini ditambatkan di hati dara cantik itu.
Real problems comes along. Mantan tidak bisa terima dengan sikap saya yang mengakhiri hubungan begitu saja. Apalagi dia mengetahui saya sudah menggandeng orang lain. Serangan balas dendam pun dilancarkan. Bermula dari account email yang dibajak, YM serta Facebook yang diobrak abrik hingga menelpon ke pacar saya demi “misi mulia”: penghancuran image. Hal yang paling membuat saya lemas adalah terbajaknya account email. Menjadi sangat bermasalah karena melalui account tersebut saya berkomunikasi dengan client, teman kuliah, sahabat, serta dunia saya lainnya. Tanpa itu semua, praktis akses saya ke mereka tertutup, peluang yang sudah ada harus hilang, client lama harus me reconfigure alamat mereka, saya kehilangan contact di addres email, serta re-subscribe milis-milis yang salah satunya adalah milis kuliah. Akibatnya terlihat dengan cepat. Bermula dari client yang mempertanyakan kenapa tidak ada tanggapan, bahan-bahan ujian dan tugas kuliah yang tidak dapat saya akses, hingga rasa cemas tentang kemungkinan penyalahgunaan account email dan FB. Banyak upaya yang saya lakukan. Mulai dari re hack email yang berakhir dengan ter block nya email, deactivate account FB yang juga hanya bertahan sementara, sampai meminta kawan melakukan unsubscribe pada milis-milis saya. Usaha yang membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Sangat tidak sedikit.
Hal yang paling menguras pikiran sebenarnya adalah kenyataan mantan dapat menghubungi pacar saya. Tujuan utamanya jelas. Menghancurkan dan memastikan saya tidak menjalin hubungan dengan dara cantik itu. Dengan YM yang sudah ter hack dia dapat saja mengundang pacar untuk menelpon dengan bermacam-macam dalih. Jujur, ada beberapa hal yang tidak seharusnya diceritakan kepada orang lain. Hubungan saya dan mantan sudah sangat dekat. Banyak hal yang sudah kami lalui bersama. Tentu saja ada beberapa rahasia yang seharusnya hanya kami berdua yang tahu. Secara khusus, mantan pernah meminta saya berjanji untuk menjaga rahasia tersebut. Janji yang saya pegang teguh karena dari sekian banyak janji yang saya lontarkan setidaknya hanya ini yang dapat saya jaga.
Tentu tidak nyaman pula jika saya yang pastinya sudah dianggap setan bermuka iblis oleh mantan harus menerima kenyataan bahwa si cantik mendengar segala sesuatu tentang saya yang mungkin tidak sepenuhnya benar. Pikiran tersebut berkecamuk ketika mantan menelpon dan membenarkan bahwa dia memang meng hack account email saya. Tidak hanya itu, dia juga berhasil menghubungi pacar sembari menyombongkan diri bahwa pacar saya akan mengakhiri hubungan yang baru berjalan 3 hari ini.
Dengan lemas karena permasalahan hack ini, saya menelpon pacar untuk memastikan ancaman mantan. Ternyata hanya bagian hack email saja yang benar dari ancaman tersebut. Si manis itu tidak menerima telepon atau sms dari siapa pun pagi itu. Mengetahui kenyataan tersebut, saya menghela nafas. Setidaknya saat ini saya masih punya tempat berbagi. Ada yang bisa menenangkan kekalutan hati karena rumitnya masalah email, sosok yang rela tersenyum dan tertawa demi meringankan beban, hingga mendengar uraian keputusasaan yang meluncur deras. Saat itu, hanya Allah dan dia yang menenangkan saya. Entah apa yang terjadi jika tidak ada si manis itu.
Maka selama empat hari mulai dari hari ter hack nya account email hingga hari Minggu, saat kami bertemu di panasnya stasiun Cimahi bandung, berteman dengan sengatan terik matahari, makan dan bersantai di lounge café hingga nonton bareng salah satu nominasi Oscar yang baru tayang, tidak ada sedikitpun keluhan dan kemalasan yang ditampilkan olehnya. Berbeda dengan saya, dengan alasan masalah kantor, account email yang tidak dapat di akses sampai kelelahan kuliah, saya mengeluh dan menggerutu tantang semua hal. Si manis tetap dengan senyum, tawa dan kesabarannya meladeni pacar barunya. Tulus. Tanpa imbalan atau harapan berlebih.
Hari yang menyenangkan itu harus saya tutup dengan berat. Dikatakan berat karena saya akan mengungkapkan alasan sebenarnya ter hack nya account-account maya saya. Yang tentunya berafiliasi dengan pengakuan saya tentang mantan dan hubungan kami sebelumnya. Maka meluncurlah pengakuan itu. Setelah pembicaraan panjang yang melelahkan, rahasia saya dan mantan akhirnya terbuka. Aib itu menyeruak dengan segala busuknya. Mata sang kekasih masih belum berubah, hanya raut wajahnya yang menegang, sikapnya berubah, posisi badannya menjauh, bahasa tubuh akhirnya berbicara. Dia kecewa.
Lalu pengakuan itu meluncur dari mulut mungilnya, dia ternyata sudah menerima telepon dari mantan saya. Semua cerita saya sebenarnya pengulangan dari yang dibicarakan oleh mantan, walaupun memang ada hal yang dilebih-lebihkan dengan harapan hubungan kami berakhir. Saya hanya bisa diam dan termangu. Membayangkan betapa sakitnya hati kekasih saya harus menerima kenyataan tersebut. Manusia yang diharapkan dan dicintainya ternyata tidak seperti yang diharapkannya. Tapi di lain sisi dia tetap bertahan demi saya, demi lelaki tidak tahu malu yang mengeluh dan merengek di depannya. Bertahan selama 4 hari dalam ketidakpastian, kekalutan, kekecewaan, ketidakpercayaan, serta semua energi negatif lainnya. Tapi, dia bertahan. Dengan senyum manisnya, dengan keceriaanya, dengan ketulusannya, dengan pengorbanannya. Dia bertahan sembari memendam semua.
Malam itu, saya bertanya alasan dia melakukan semua pengorbanan itu. Jawabannya simple.
“Itu sudah kewajiban aku sebagai pacar kamu”
Terpekur diam, saya bisu sesaat. Speechless.
Dan malam itu pula derajat sayang kepadanya berubah. Dari hanya sebagai seorang pacar yang masih mementingkan sifat, penampakan, posisi, keadaan serta semua atribut logika lainnya yang selalu menyertai menjadi setingkat lebih tinggi lagi. Malam itu saya sayang kepadanya. Tanpa tahu apa dan kenapa. Hanya rasa sayang. So simple,,
dan ini jugalah yang gw lakuin ke pacar terakhir gw...sebuah pengakuan yang nyakitin hati dia...
reaksi dia pun sama persis, ditutup dengan kata2 :
"Jangan diulangin lagi ya, yah."
-biche-