Pendidikan, Sebuah Renungan
Posted: Rabu, 17 Maret 2010 by Iqbal Fajar in
0
“Apa fungsi pendidikan?”
Pertanyaan simple itu dilontarkan oleh dosen pembimbing saya di sela-sela sesi pembimbingan. Saya yang terlahir dengan bakat sok tahu langsung menjawab :
“Agar kita bisa mengetahui hal-hal baru, bisa mengembangkan dan meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh pendahulu kita, serta agar kita mensyukuri nikmat Tuhan”.
Saya tersenyum simpul. Jawaban yang cukup bagus dan intelek menurut saya.
Dosen saya hanya menggeleng kecil selagi menjawab,
“Bukan. Fungsi utama pendidikan adalah membuat kita lebih bijak”
Saya tersentak. Sangat sederhana, tapi menjabarkan semuanya. Fungsi pendidikan menurut beliau bukan hanya untuk memberikan kita pengetahuan, bukan hanya untuk mengeksplorasi dunia ini lebih jauh lagi. Bukan hanya untuk menciptakan alat-alat baru yang memudahkan kita, bukan hanya untuk mengembangkan IQ apalagi untuk sekedar pembuktian bahwa kita mampu menguasai suatu permasalahan.
Tidak hanya itu. Beberapa fungsi diatas memang tujuan sebagian besar akademisi di dunia ini. Tapi menurut saya, yang terispirasi dari dosen, fungsi utama pendidikan adalah membuat kita lebih bijak memahami sesuatu. Lebih terbuka dalam menanggapi permasalahan. Lebih tenang dalam menghadapi kemelut. Lebih sabar dalam menyikapi musibah.
Kenapa saya ingin membahas pendidikan? Ada kaitannya dengan beberapa orang yang mengaku berpendidikan, tapi menurut hemat saya belum mengerti fungsi pendidikan itu sendiri. Contoh pertama ialah kasus yang diutarakan oleh salah satu guru saya. Ada seorang ibu yang dipusingkan oleh kelakuan anaknya yang masih sering mengompol. Kejadian simple yang sering kita dengar. Banyak orang menyalahkan si anak karena sering mengompol. Tapi mari lihat kejadian sebelum tidur. Si anak merengek kepada ibunya hendak buang air kecil. Ibu yang sudah terlanjur mengantuk, balik memarahi anak. Akhirnya si anak dipaksa masuk kamar tidur dalam kondisi takut dimarahi dan menahan buang air dan seperti yang sudah kita duga. Anak itu mengompol dan Ibu kembali memarahinya karena kebiasaan mengompolnya yang tidak bisa hilang.
Contoh lainnya mengambil setting di sebuah kantor. Manager Pemasaran memarahi staf marketingnya karena target yang tidak tercapai bulan ini. Atasan tersebut beralasan bahwa strategi marketing yang dilakukan oleh bawahannya tersebut tidak berjalan dengan baik. Staf marketing yang dipojokkan pun akhirnya hanya bisa diam seribu bahasa. Alasan yang sama diutarakan oleh Manager Marketing kepada Direktur Pemasaran dalam sesi evaluasi. Direktur pemasaran yang notabene lebih “berpendidikan” memberikan pertanyaan balik.
“Kamu mengetahui rencana strategi marketing yang diajukan bulan lalu?
“Tahu Pak”
“Kamu setuju dengan rencana strategi marketing itu?”
“Setuju Pak”
“Lalu kenapa kamu menyalahkan staf kamu untuk sesuatu yang sudah kamu setujui?”
Dialog Direktur dengan Manajer tersebut tanpa kita sadari hadir di tengah-tengah kehidupan dalam bentuk yang mungkin lebih sederhana, atau malah lebih kompleks. Dosen yang memberikan soal ujian diluar bahan kuliah dengan alasan agar mahasiswanya lebih terbuka tetapi tanpa memberitahu sebelumnya atau kakak kelas yang marah-marah tidak jelas di OSPEK tanpa memberikan alasan logis, hanya berlandaskan kata sakti : Demi pendidikan.
Sebenarnya mudah mengukur tingkat pendidikan seseorang. Tidak perlu IPK tinggi atau jajaran gelar menghiasi nama. Tidak pula perlu kumpulan diksi yang dilontarkan dalam pidato kenegaraan atau beribu alasan tentang pembenaran suatu hal. Cukup lihat perilaku di kehidupannya sehari-hari. Sudahkah kebijaksanaan menghiasi pemikirannya, telah dianalisiskah permasalahan yang datang padanyanya, cukupkah dirinya dengan bersyukur terhadap nikmat Tuhan, telah terangkah pikirannya dari tipu daya, mampukah logikanya mengalahkan arogansi dan egosentris.
Jika belum, sekali lagi menurut pandangan saya, dia belum layak mendapat gelar berpendidikan. Baru sebatas mengecap pendidikan. Belum memahaminya. Semoga suatu saat kita diberi kesempatan menjadi manusia yang berpendidikan.