Manusia dan Tuhan

Posted: Senin, 01 Maret 2010 by Iqbal Fajar in
0

Entah bagaimana saya harus memulai tulisan kali ini. Terlalu banyak yang ingin diceritakan. Masih ingat dengan tulisan saya sebelumnya tentang resetting my life?. Ini adalah kelanjutannya. Kemarin, ketika keputusan cancel project dilontarkan oleh atasan saya, rasanya dunia runtuh seketika. Sangat down saat itu. Bukan hal yang berlebihan sebenarnya karena project itu adalah idealisme dan mimpi saya selama ini. Tiba-tiba harus di cancel karena alasan yang sepele.

Pagi itu ketika saya masuk kantor, rasanya adalah saat yang paling tidak nyaman. Berita tentang project yang bermasalah ternyata bukan dominasi saya. Tante dan Pak TK, rekan sesama AE juga membawa berita bahwa project mereka yang sudah di inisiasi dari tahun kemarin terancam cancel juga. Untungnya kami, sekumpulan buruh marketing di BUMN ini memiliki saraf humor yang berevolusi dengan baik. Maka, pagi itu dihiasi dengan menertawakan project yang tidak jelas kelanjutannya. Setidaknya pagi itu saya sedikit terhibur. Walaupun rasa gundah tetap menetap.

Siang hari, adalah puncaknya. Tekanan akibat project cancellation makin menjadi karena siang itu saya tidak ada kerjaan. Rencana pergi menemui klien baru pun harus ditunda karena ketidakprofesionalan tim dukungan usaha. Mobil yang seharusnya mengantar saya ke kantor klien dipakai untuk makan siang hingga jam 2 lebih. Padahal kami berjanji tiba di kantor klien jam setengah 2 dan perjalanan ke sana membutuhkan waktu 45 menit !!. Setelah lama menunggu dengan amarah yang mencapai ubun-ubun kepala, saya harus puas dengan kenyataan mobil yang ditunggu ternyata akan digunakan untuk atasan. Tanpa ucapan kasar, tanpa umpatan, tanpa raungan penghuni kebun binatang, saya berjalan kembali ke ke meja. Hanya menyimpan amarah di hati sembari mengutuk diri sendiri kenapa saya harus bertahan di perusahaan ini. Siang itu, saya putus asa. Tidak ada lagi senyum yang terlontar. Hanya amarah yang dengan sangat jelas terlukis di wajah. Tiba-tiba saja HP berbunyi. ID klien muncul.

“Pak Dirjen mau ketemu dengan tim kamu jam 18.00 hari ini untuk membicarakan keputusan kelanjutan project. Ajak atasan kamu”

Singkat saja klien menelpon dan saya yang memang sudah putus asa mengamininya dengan cepat. Saya tahu jawabannya. Setidaknya kali ini saya tidak harus mendengar keputusan cancel project sendirian seperti tahun lalu. Ada atasan dan tim saya. Cukup untuk membuat lebih malu lagi. Sore itu saya berangkat dengan ogah-ogahan. Bahkan karena sangat yakinnya saya akan penolakan Pak Dirjen, diperjalanan saya melontarkan usulan taruhan ke rekan marketing tentang keputusan Pak Dirjen. Saya yang putus asa tentu saja memilih project cancelled. Taruhannya traktir makan di tempat yang dipilih oleh pemenang.

Setelah menunggu setengah jam, Pak Dirjen dan Pak Direktur datang. Kami masuk ke ruangan beliau. Saya pasrah. Maka mengalirlah semua kata-kata sakti itu dari klien utama kami. Project continue. Ya, project yang sudah saya menyerah kepadanya tiba-tiba datang menghampiri saya. Project akan dilanjutkan, bahkan Pak Dirjen akan memberi dukungan penuh. Malam itu saya terperangah. Menyadari betapa kecilnya seorang Account Executive seperti saya. Seorang pandir yang tidak bisa melihat dunia kecuali dalam tempurung kecilnya. Manusia yang selalu membanggakan logika tanpa tahu bahwa ada sang Maha Logika disana. Seorang yang mengaku pejuang tapi tunduk pada kenyataan yang belum jelas kebenarannya. Malam itu saya kembali terpekur.

Kita, mahluk sombong yang menjelajahi dunia ini mungkin mahluk paling kurang ajar. Kita tinggal menumpang di bumi milik Sang Maha Kuasa, berjalan diatas bumi-Nya, makan dari-Nya, mengacak-acak milik-Nya. Semua yang kita punya adalah pinjaman dari Sang Pemilik Semesta. Bahkan tubuh ini pun hanya dipinjamkan-Nya. Kita berusaha dengan semua yang memang hanya dipinjamkan oleh-Nya. Dan ketika kita mengaku sudah berusaha, dengan semua yang hanya dipinjamkan, kita masih ngotot untuk menentukan hasilnya. Menurut saya, kita kurang ajar. Sangat.

Dan konsep ini yang baru saya sadar malam itu. Ada Sang Maha Kuasa pemilik semua isi dunia ini yang saya lupa minta izin kepadanya. Semoga ini terakhir kali saya harus terlupa kepada-Nya. Semoga anda tidak mengulangi kesalahan saya.

0 comments: