Laki-laki, Wanita, dan Cinta

Posted: Senin, 01 Maret 2010 by Iqbal Fajar in
0

Laki-laki mungkin adalah mahluk yang selalu merasa superior jika dibandingkan wanita. Banyak alibi dijadikan pembenaran, mulai dari asal-usul wanita yang konon berasal dari rusuk lelaki, sifat laki-laki yang selalu berusaha melindungi wanita, postur tubuh yang mendukung, dilengkapi perintah agama yang membenarkan itu semua. Laki-laki memang sepatutnya lebih kuat dari wanita. Setidaknya itu pandangan orang konservatif. Pada nyatanya, banyak wanita yang lebih superior dari laki-laki. Sebut saja Margaret Thatcher, Benazir Bhuto, Megawati Soekarnoputri serta sederet nama pemimpin besar lainnya. Tapi lelaki, menurut saya, memang diciptakan lebih superior dari perempuan. Orang biasa menyebutnya kodrat.

Tapi tidak malam itu. Semua pendapat saya tentang superioritas laki-laki harus ditelan mentah-mentah. Alasannya? Karena saya yang merasa superior ini harus tergagap menyatakan cinta kepada seseorang di ujung telepon. Ya, saya tergagap dengan nafas yang tidak beraturan karena kencangnya adrenalin dipompakan oleh jantung ini. Hanya karena harus mengucapkan. “aku sayang kamu”. That simple words. 3 kata yang seharusnya sangat mudah diucapkan. Bayangkan, apa susahnya mengatakan kata-kata itu. Dilihat dari ejaan tidak ada yang sulit. A-K-U S-A-Y-A-N-G K-A-M-U. See,, so simple…

Malam itu, sebenarnya bukan malam seharusnya 3 kata itu diucapkan. Seharusnya saya mengucapkannya ketika kami di salah satu rumah makan di Bandung. Suasana mendukung, sepi, tempat yang nyaman, obrolan yang mengalir santai. Seharusnya itu momen yang tepat. Seharusnya. Tapi menjadi tidak berarti karena mahluk Tuhan yang mengaku superior ini kehilangan nyalinya. Usaha kedua dilakukan esok pagi ketika mengantar sang pujaan hati ke tempat bekerjanya. Kali ini waktu yang tidak mengizinkan. Usaha ketiga dilakukan ketika menjemput si dia dari tempat kerjanya. Kali ini semua siap sedia. Dia santai, suasana mendukung, dan ternyata kata-kata itu kembali harus tertelan dalam mulut dalam-dalam. Saya memang pengecut.

Malamnya saya tidak bisa tidur. Pikiran tentang pernyataan cinta yang tertunda sangat menggangu. Maka malam itu saya beranikan diri lagi untuk mengucapkan 3 kata itu. Mungkin kali ini sang nyali yang selalu menjadi kebanggaan laki-laki akan menunjukkan tajinya. Setelah basa-basi simple sembari mengatur detak jantung yang mulai tidak beraturan, saya pun mengatakan 3 kata sakti itu sembari tergagap. “Aku sayang kamu”. Hening. Jantung saya berhenti sejenak. Menanti suara di ujung telepon. “Apa? Coba ulang lagi”. Dia berbicara singkat. Argghhh rasanya muka saya memerah saat itu. Bukan karena marah tapi karena malu yang menyergap dengan cepat. Akhirnya saya ulang lagi kata kata itu dengan penekanan serta intonasi yang lebih jelas. Hening lagi. Jantung saya berhenti lagi. Lalu tawa renyah keluar dari mulut si cantik itu. “Apa lagi ini??” Pikir saya malam itu. Dan percakapan selanjutnya didominasi dengan tawa si pujaan hati dan pertanyaan seputar alasan saya mengucapkan 3 kata itu.

Entah dengan si manis berhidung mancung itu, tapi setengah jam sesi pengakuan saya malam itu membuat saya tidak bisa bertingkah selayaknya manusia normal. Bangun, tidur, berguling, jongkok, tengkurap. Semua rasanya salah. Malam itu saya harus puas berkeringat karena tegang dalam dinginnya udara Dago. Saya harus mengatur nafas sembari memegangi muka yang memerah tidak jelas. Belum lagi kaki yang gemetar tanpa sebab. Malam itu yang superior adalah sang pujaan hati dengan tawa renyahnya.

Dan malam disaat kami pertama kali bertemu kembali menyesap. Dia berdiri di tengah panggung dengan balutan gaun putih yang menawan. Suara yang menawarkan keriangan, sikap yang menghidupkan malam, keceriaan yang mengisi hati serta tawa yang menyejukkan. Saat itu saya duduk tepat di depannya. Menyaksikan wajah cantik dengan hidung mancung berbalut putihnya kulit. Tidak pernah terbayangkan kalau malam itu saya akan diberi kesempatan bertemu lagi dengannya. Mencari tahu lebih dalam, berkenalan lebih dekat bahkan mengutarakan isi hati ini padanya. Malam itu saya terinisiasi. Sejumput doa terlontar. Semoga tawa itu bisa menemani hingga akhir nanti. Semoga.

ps :

Aku sayang kamu J

0 comments: