Malas yang Akut

Posted: Selasa, 09 Maret 2010 by Iqbal Fajar in
0

Terjebak dalam keadaan dimana tidak ada yang bisa dilakukan kecuali tidak berbuat apapun adalah hal yang paling menyebalkan. Entah itu menunggu delayed flight di bandara, menanti kekasih yang ternyata masih tertidur pulas di kamarnya atau seperti yang saya rasakan kali ini. Terjebak dalam kereta commuter Jakarta Bogor. Sudah 45 menit saya mendiami kereta ini. Waktu yang seharusnya bisa mengantarkan saya ke Depok setidaknya. Semua bertambah menyesakkan karena ini kereta AC sehingga tidak ada yang bisa dilakukan selain menuggu, tanpa rokok, minuman, makanan, buku, ataupun jalan keluar alternative. Hanya tersudut di bangku kereta.

Huff,, jika menilik lagi, semua ini memang kesalahan saya. Seharusnya tadi malam tidak dihabiskan dengan menonton TV hingga larut. Padahal saya tahu sabtu pagi ini saya harus kuliah di Bogor. Berangkat jam 6 pagi tentu kegiatan yang sangat sulit dilakukan ketika malamnya baru memenjamkan mata jam 3. Maka ajakan teman untuk kuliah ke Bogor pagi itu harus mengalah dengan empuknya kasur serta dinginnya AC. Pagi itu saya terlelap lagi.

Baru jam 10 saya benar-benar bangun dan logika kebanggaan mulai bekerja. Hari ini presentasi kelas. Memang itu di jam mata kuliah kedua setelah makan siang. Sudah sekali saya meningalkan sesi presentasi. Jika meninggalkan untuk kedua kalinya, praktis saya akan kehilangan banyak poin untuk penentuan huruf mutu nantinya. Tapi dasar memang malas adalah bawaaan orok, pagi itu masih saya isi dengan bersantai di sofa sembari sarapan asap rokok. Waktu mulai menunjukkan jam 11 siang. Lapar mulai datang dan saya tahu di lemari es tidak ada french fries kesukaan saya maupun rolade daging yang baru dibeli kemarin. Semua karena listrik apartemen yang diputus sementara kemarin sehingga makanan beku siap saji itu rusak. Alasan pemutusan sementara itu pun sama saja. Tidak jauh karena kemalasan saya mengecek kotak surat sehingga tagihan bulan kemarin lupa dibayar.

Baru jam sebelas lebih saya bergerak ke kamar mandi dan bersiap berangkat. Sempat bingung apa yang akan membawa saya ke Bogor. Omprengan di Cawang atau KRL di Gambir. Pilihan jatuh di KRL. Paling aman menurut saya.

Selesai dengan semua persiapan saya turun ke lobby. Siang itu panas. Bahkan dari lobby yang ber AC itu saya sudah bisa merasakan panasnya udara luar. Si malas kembali menggoda. Alih-alih menggunakan Bus way yang mengharuskan saya berjalan 10 menit dalam panasnya Jakarta, saya pun memlih TAXI. Dengan konsekuensi menuggu lebih lama dan tentunya biaya yang lebih membengkak. Singkat kata, TAXI yang ditunggu hampir setengah jam itu pun datang dan sampailah saya di Gambir. Cacing di perut mulai demo. Lagi-lagi saya malas makan. Sekalian di kampus saja pikir saya.

Kereta pun datang. Entah kenapa saya sudah mulai tidak nyaman ketika kereta mulai berjalan. Lambat. Seharusnya kereta express tidak seperti ini. Tidak ada pemberhentian di stasiun kecil. Kereta yang saya naiki mulai menunjukkan anomalinya di perjalanan ke Stasiun Lenteng Agung. Kereta melambat kemudian berhenti.

5 menit. Saya masih asik dengan MP3.

15 menit. Mulai membaca Bahan presentasi nanti.

30 menit. Saya gelisah. Penumpang gelisah. Lapar mulai menggangu.

40 menit. Panik. Bisa-bisa saya melewatkan lagi sesi presentasi kelompok. Giliran kemarin saya tidak mendapat nilai karena tugas kantor. Masa kali ini saya harus kehilangan nilai lagi karena kemalasan?? Perut mulai melilit. Dan ini kereta AC. Tidak ada yang bisa berbuat apapun. Mengetuk pintu kondektur bukan solusi. Maka saya mulai menggerutu tidak jelas

45 menit. Akhirnya kereta mulai bergerak. Tapi saya pasrah. Setidaknya saya sampai di kampus jam setengah 3. Ditambah makan siang yang digabung dengan sarapan menghabiskan waktu minimal setengah jam. Jam 3 baru saya bisa masuk kelas. Semoga saja keberuntungan masih bersama saya. Kata-kata penghibur diri itu yang selalu bertugas menutupi kemalasan akut ini. Entah kapan rasa malas ini hilang dari saya. Hanya semoga yang bisa saya panjatkan. Tidak adil rasanya kan? Saya tahu pikiran anda. Tidak seharusnya kita hanya berharap dan berdoa. Harus berusaha. Tapi sekali lagi, saya malas J

0 comments: