Wedding Day
Posted: Rabu, 14 November 2012 by Iqbal Fajar in
0
Saya akan memulai tulisan ini dengan bercerita tentang sebuah festival.
Parade kegembiraan yang hadir baru beberapa jam yang lalu. Ini menjadi menarik
bagi saya karena aktivitas yang diikuti ini sebenarnya bukanlah salah satu
kegiatan favorit saya. Bahkan cenderung dihindari. Kalaupun hadir, saya
biasanya memasang topeng bahagia, bersalaman, menikmati sajian yang ada, untuk
kembali menyingkir di tengah keramaian bersama hentakan nada di push up
earphone. Melokalisir bising yang datang dan menikmati ritmis yang selalu
menemani dalam kesendirian. Tulisan ini adalah dedikasi sekaligus perenungan
akan makna sebuah ritual kegembiraan yang semua pasangan harapkan dan nikmati.
Resepsi Pernikahan.
Siapa yang tidak suka pada acara ini ? Apalagi ketika di acara tersebut
anda dapat berkumpul kembali dengan teman dan saudara, bercengrama,
bersosialisasi, melupakan beban pekerjaan untuk tertawa, bergembira. Belum lagi
hidangan makanan yang bermacam-macam sebagai tanda hormat si empunya acara akan
kehadiaran anda. Oh, jangan lupakan juga hiburannya, musik, karoke gratis atau
bahkan tarian pembuka yang mengutamakan adat dari kedua belah keluarga. Acara
pernikahan selalu menyenangkan. Tapi tidak bagi saya.
Aneh ya ? Tapi itulah yang terjadi. Entah sejak kapan ini bermula,
tetapi saya memang tidak begitu menikmati acara dengan banyak orang berkumpul,
tertawa, mengobrol, bersenang-senang, menanyakan kabar masing-masing, bertukar
contact, hingga melanjutkan kegembiraan di tempat lain. Acara pernikahan selalu
menjadi kegiatan yang sebisa mungkin dihindari. Mungkin karena saya memang
tidak terlalu suka keramaian, tetapi kalau mau jujur, alasan utamanya ialah
karena saya memang tidak pernah menyukai menghabiskan waktu untuk
bersosialisasi.
Pengalaman buruk di masa lalu dan tingkat kepercayaan pada manusia yang
memang sangat rendah membuat saya sedikit anti social. Do not mistaken. I’m not
that kind of person that shy, not confident and afraid of human. Salah satu
profesi yang saya geluti ialah marketing dan kepribadian saya cukup
menyenangkan. Hanya saja, waktu luang nampaknya akan lebih berharga jika
dihabiskan untuk beristirahat dan menyalurkan hobi daripada sekedar
bersosialisasi, bercanda dengan teman, mengingat masa lalu atau makan gratis.
I mean, what so fun about that ? Jika ingin bersosialisasi, maka lakukan
di sesi tertentu. Bertemu di kafe yang nyaman pastinya lebih nikmat dari
berdiri, ngobrol sambil setengah berteriak karena bising. Mencari nomor telp
teman lama ? Anda punya Facebook kan ? Saya rasa Facebook untuk urusan ini
lebih unggul. Tanyakan saja no telp via wall atau lewat chat dan inbox jika
ingin lebih aman. Jika ingin menikmati musik dan hiburan, anda kan bisa
mencarinya di acara atau tempat yang memang khusus menyediakan itu. Tanpa perlu
bertenggang rasa dengan selera musik orang lain yang sebagian besar bernada
melayu. Food ? Come on, you could afford a way better at your favorite
restaurant. Lagipula, makanan di resepsi terbatas dan harus berdesakan
mengantri pula. Bagi saya, hadir di pernikahan sebenarnya hanyalah sebuah
penghormatan atas kedua belah mempelai. Tidak lebih dari itu.
Tapi unsur paling tidak saya sukai dalam pernikahan ialah ketika mulai
mengobrol topik yang selalu hadir dalam pernikahan dan ditanyakan bagi pria
single seperti saya. Kok datang sendiri ? Pasangannya mana ? dan puncaknya
ialah Kapan nyusul nih ? Blah blah blah. Jika ditanya seperti ini saya hanya
akan menjawab dengan candaan, humor garing dan senyum palsu. I hate those
question and because wedding day is perfect moment to ask that, I became more
resist to those sacred ritual.
Maka ketika ada undangan pernikahan dari salah satu teman di SMA, saya
sedikit malas untuk hadir. Apalagi dengan tumpukan report yang harus
diselesaikan. Itu saja sudah menghancurkan weekend saya, ditambah dengan
undangan ini. And not to be mention about a hell week came to me. Its been a
rough time for me. Bermula dari kandasnya hubungan dengan pasangan, break up
syndrome yang menyesakkan serta upaya untuk memulai lagi dari awal yang dibalas
dengan penolakan. Semua itu menjadi menyakitkan ialah karena saya sangat
mencintai wanita ini dan berniat untuk melangkah serius bersamanya. But lets
save the story for later.
Back to topic, saya pun memutuskan untuk datang sambil bersiap membawa
laptop agar bisa langsung ke kantor sesudah acara. Rencananya sama seperti
resepsi lainnya. Datang, salaman, makan demi menghormati sohibul hajat, ngobrol
sedikit dengan kenalan, lalu pulang. Tapi kali ini tampaknya saya memang
ditakdirkan untuk hadir disana lebih lama. Karena setelah resepsi ini, saya
disadarkan bahwa pernikahan memang bukan hanya sekedar resepsi atau ijab Kabul.
Itu semua lebih dari itu.
Acara resepsi ini terbilang unik. Teman saya adalah seorang betawi asli,
tinggal di lingkungan yang kental budaya betawi, di daerah yang mayoritasnya
betawi dan pastinya masih memegang kuat tradisi mereka. Maka berbeda dengan
kebanyakan resepsi, acara ini diadakan di rumahnya. Alasannya simple. Agar bisa
santai dan tidak terburu waktu. And he make it in a such crazy way. ! hari
penuh acara. Dari pagi hingga jam 10 malam ! Jangan lupakan juga 2000 undangan
yang disebar. Itu baru yang formal. Yang informal jauh lebih banyak lagi.
Menurut teman saya yang menjadi EO nya, seluruh kampung diundang, termasuk yang
kerabat dari penjuru Jakarta. Jadilah acara yang biasanya hanya 3 jam tersebut
berlangsung seharian dengan tamu yang tidak berhenti berdatangan.
Actually, its kind of crowd. Booth makanan seringkali kosong, sampah
bertebaran, belum lagi dekorasi yang sudah copot sana sini. Itu semua
diperparah dengan acara hiburan yang, sorry to say, terlalu berlebihan.
Panggung dan karoke yang memekakkan telinga. Saya sempat berfikir, kok bisa ya teman
yang terkenal akan modisnya ini mau melaksanakan acara seperti ini.
Tapi disinilah hal menarik muncul. Sang istri teman saya ini. Lahir dari
keluarga berada, dia tidak malu untuk mengikuti semua proses melelahkan dan
pada beberapa point, memalukan, dari prosesi pernikahan ini. Berdiri terus
menerus sembari senyum, sebahagia apapun dia adalah hal yang melelahkan ketika
harus dilakukan puluhan jam. Belum lagi harus menemui tamu yang entah siapa
namanya dari tamu-tamu orang tua dan mertua.
Terlepas dari semua kerumitan itu dia tetap turut larut dalam
kegembiraan yang indah hari itu. Tidak hanya sang istri tetapi juga teman saya.
Mereka berdua sangat menikmati saat-saat kebersamaannya. Ada kecocokan yang
memang jelas terlihat. Ada kebanggaan, penyerahan, dibalut ketulusan dalam
senyum dan perbuatannya. Mereka berdua sangat nyaman satu sama lainnya, bahkan
mereka terlihat tidak begitu peduli pada semua keramaian yang ada. Tatapan
mata, sentuhan mesra, kegembiraan yang tidak terbelenggu akan minder dan
pandangan orang lain, itu semua muncul dengan lepas, bebas, jelas. Ketika saya
bertanya padanya apakah lelah dan ribet akan semua rangkaian acara, dia
menjawab singkat. “Gak usah dipikirin. Nikah itu yang penting ijab qobulnya.
Resepsi itu hak orang tua. Gw dan istri nikmatin aja, cuek aja. Yang penting
bareng-bareng berdua” jawabnya riang.
Dan momen itulah yang menyadarkan saya akan arti sebuah pernikahan. Ini
bukan tentang resepsi. Bukan tentang catering yang kosong, atau kostum yang
berganti ganti. Bukan pula tentang keinginan keluarga, atau akan seperti apa
nantinya dunia setelah acara. Tidak. Pernikahan adalah tentang dua insan
manusia yang berpasangan. Ini tentang bagaimana mereka menikmati rumitnya
permintaan dan harapan keluarga dalam bingkai kepercayaan, kesetiaan, penyerahan.
Tentang bagaimana mereka menikmati, berbangga hati, mendukung satu sama lain,
tertawa bersama, menangis bersama.
Saat-saat itulah yang saya inginkan selama ini. Didambakan dalam setiap
lamunan. Dikhayalkan pada tiap kejadian. Diinginkan hingga ke dasar sumsum
tulang. Saya ingin bahagia bersama pasangan. As simple as it is.
Dan melihat kembali apa yang sudah terjadi selama masa-masa pencarian
pasangan hidup, saya memang harus mengakui bahwa jalan yang diambil sudah
terlalu menyimpang. Demi kebahagiaan yang sudah membuncah itu, saya berkompromi
dengan prinsip-prinsip yang dipegang. Dimulai dari mencintai wanita yang
jelas-jelas saya tidak nyaman, kemudian melakukan kesalahan bodoh dengan
selingkuh yang tidak jelas tujuannya, menyerah pada kenyataan bahwa orang tua
tidak mengizinkan, bertemu dengan seseorang yang saya anggap pasangan hidup
walau jelas-jelas kami sungguh bertolak belakang hingga mencintai wanita yang
berbeda agama hanya demi pelarian dan kenyamanan.
Sayangnya, pelajaran tidak pernah masuk secara permanen ke otak bebal
ini. Seperti yang diceritakan diawal, saya kembali jatuh cinta dan menyerahkan
kepercayaan pada wanita yang, entah saya harus bagaimana mendefinisikannya.
Hubungan kami rumit. Sungguh rumit. Saya tahu dia mencintai dan rela berkorban
bagi kehidupan bersama. Saya juga mencintainya, hingga saat ini saya tidak
menyesali bahwa saya jatuh cinta dan memilih menyerahkan kepercayaan pada
dirinya. Dia memang insecure, selalu mempertanyakan segala hal,
mempermasalahkan semua yang tidak sesuai, selalu melihat dari satu sisi, tidak
mau menduga maksud dibalik tindakan, serta menyerang dengan kata-kata ketika
emosi tidak terkendalikan.
Ya, dia memang tidak sempurna tetapi dia adalah segalanya bagi saya. Dia
lah yang mencerahkan kegelapan di hati, melindungi dari pikiran negatif yang
berkubang pesimis, bekerja lebih keras daripada kata-katanya. Dia, terlepas
dari semua kekurangannya adalah cahaya yang selalu bersinar terang. Dia yang
hingga kini membuat saya tercekat pada kenyataan bahwa kami harus
berpisah.
Entah memang saya yang terlalu bodoh, lemah, egois, penakut. Hubungan
kami tidak berhasil. Saya menyerah pada kemarahan, pada ketakutan akan
pandangan dan pendapat, keraguan atas kekecewaan orang tua, serta kelemahan
pada kata dan makna percaya. Ini salah saya dan memang akan tetap menjadi beban
penyesalan seumur hidup.
Tapi karena kelemahan dan semua kekurangan itulah saya membutuhkan semua
perasaan dan kepercayaan yang dimiliki oleh teman saya dan istrinya.
Kegembiraan akan penerimaan pasangan, ceria pada cobaan, kenikmatan akan
kesulitan, kekuatan dalam penyerahan, kepercayaan akan cinta yang selalu
bertahan.
Itulah sayangnya yang sulit didapatkan dalam hubungan singkat kami. Pada
akhirnya, dia dan saya adalah dua insan yang sudah terluka berkali kali dan
gagal dalam perjalanan mencari cinta. Fakta itulah yang akhirnya menyebabkan
kami menyerah dan pasrah pada keadaan. Kami terlalu takut untuk berjuang karena
sudah pernah kalah. Kami trauma pada perasaan yang hancur akibat terlalu percaya
dan menemukan kenyataan tidak seindah bayangan.
Seharusnya kami lebih percaya pada pasangan, mencintai lebih jauh,
berjuang lebih keras, saling menguatkan dalam cobaan, bangun dan terus mendaki
gunungan ketidakpercayaan orang lain. Itulah yang seharusnya dilakukan
pasangan. Jika kami mampu melaluinya, niscaya kebahagiaan sejati dan selamanya
pastilah menjadi hadiah terindah yang akan selalu menghiasi kehidupan kami.
Dan inilah yang memang harus terjadi. Saya hanya memimpikan dan berharap
itu semua terjadi. Pada kenyataannya, kami berdua menyerah kalah pada
ketakutan. Dan entah apakah akan ada lagi kesempatan yang hadir untuk bahagia
seperti teman saya dan istrinya. Saya tidak tahu. Yang saya tahu sekarang
hanyalah kami berdua kembali bergumul dengan sakitnya kegagalan percintaan.
Kembali memulai proses melelahkan untuk mencari arti dari cinta dan
kepercayaan. Dan khusus bagi saya, resepsi pernikahan serta semua tetek bengek
yang terkait dengannya akan tetap menjadi ritual yang dihindari. Entah sampai
kapan…