Thought, Curiosity and Question

Posted: Jumat, 23 November 2012 by Iqbal Fajar in
0


Malam ini adalah malam entah keberapa saya tidak bisa tidur. Dianugrahi dengan kemampuan berpikir yang kadang terlalu logis dan konseptual, membuat kepala saya selalu dipenuhi banyak hal. Mulai dari bahan tulisan buat blog dan draft buku, ide desain yang menarik, target pekerjaan yang masih jauh masa deadlinenya, atau sekedar gagasan-gagasan memperbaiki dunia yang kadang terlalu mengada-ada. Itu saja sudah cukup menyita perhatian saya. Belum lagi kenyataan bahwa hubungan dengan seorang wanita yang kandas baru-baru ini. It just make my brain exploded by thought. Terlalu banyak yang berputar di kepala saya dan pada beberapa kasus, menjadi berbalik menyerang. Ya, seperti saat ini. Tidak bisa tidur.

Sebenarnya saya bisa saja menghilangkan pikiran-pikiran itu. Tapi di hati paling dalam, saya juga menyadari bahwa berpikir adalah anugrah paling besar yang pernah Allah berikan pada manusia. Cogito Ergo Sum. Aku berpikir maka aku ada. Frasa itu seakan menjadi jargon yang selalu saya pegang sehingga seberapa menyusahkan, menyakitkan, merepotkan kebiasaan berpikir yang dimiliki ini, syukur dan terima kasih selalu dipanjatkan padaNya.

Kembali pada kebiasaan berpikir. Semua orang berpikir, semua orang melakukannya. Lalu apa bedanya ? Bedanya, saya tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu jika saya belum mendapatkan jawaban atau penjelasan logis dari pemikiran tersebut. Tidak hanya itu, saya juga terbiasa melihat segala sesuatu dari banyak aspek dan banyak aspek yang saya maksud adalah semua aspek. Bahkan dari sisi yang orang lain tidak pernah terpikirkan. Selain itu, karena terbiasa berpikir strategis, saya selalu mencari data atau pengalaman yang sudah ada, menganalisisnya, membuat hipotesa, mencari kesimpulan dan penjelasan kemudian memikirkan alternative-alternatif tindakan dan dampaknya hingga puluhan langkah kedepan.

Begini contohnya. Jika anda melihat sebuah kotak rokok, apa yang akan anda pikirkan ? Kebanyakan dari anda, akan melihat dari bentuk kotak yang menarik, bagaimana rasa rokok itu, kenapa harus merokok, berapa harganya, sudah berapa bungkus yang habis. Itu saja sudah jarang orang yang berpikir serumit itu. Sebagian yang lain mungkin berpikir lebih jauh, tentang bagaimana desain yang lebih bagus, bagaimana rokok dibuat, bagaimana pemasaran yang lebih efektif atau kandungan yang ada di dalam rokok tersebut. Tapi sekali lagi, tidak banyak yang berpikir sejauh itu. Well after all its just a pack of cigarettes. Who care ?

Tapi sayangnya, saya pada beberapa kasus berpikir lebih jauh dari itu. Bagi saya, kotak rokok memberikan banyak inspirasi dan keingintahuan. Saya akan memulai berpikir tentang sejarah rokok, penjualannya di masa lalu, cerita-cerita menakjubkan bagaimana rokok mengubah sebuah etnis menjadi raja dan orang terkaya, dan mereka tetap menjadi bersahaja. Lalu saya mulai bertanya tentang bagaimana rokok dibuat, bagaimana racikan yang pas, proses pembuatan yang efektif, lini produksi yang mendukung kecepatan sekaligus kualitas sempurna, layout gudang, pengaturan logistic, pemastian stock dari pabrik hingga ke pengecer. Berlanjut ke pemasarannya. Bagaimana mereka menciptakan ketergantungan, membuat iklan rokok tanpa ada rokok, mencipakan brand dan positioning, mempengaruhi pemerintah untuk mempertahankan pasal rokok, menyusup di rapat dewan tanpa ketahuan, dan bagaimana sikap bersahaja itu mungkin adalah sebuah konspirasi agar bisnisnya tetap langgeng. Lalu mulai melihat dari kemasan rokoknya. Mengapa harus kotak ? kenapa tidak bulat ? Atau segi enam? Kenapa harus ada 16 atau 12 batang ? Berapa biaya pembuatan kotak itu ? Bagaimana jika bahannya diganti ? Bagaimana jika desainnya berubah ? Bagaimana mengkomunikasikan perubahan pada pelanggan dan internal perusahaan ? Apa dampaknya ? Dan saya masih bisa menyebutkan banyak lagi pertanyaan dan pikiran yang muncul dikepala. Tapi bukan itu inti tulisan ini.

Bottom point is, kadang saya terlalu banyak berpikir dan menganalisa. Dan saya selalu berusaha mencari jawaban atas pikiran-pikiran tersebut. Untungnya kita hidup di era dimana informasi adalah barang murah, bahkan gratis. Cukup buka Google dan hampir semua jawaban itu saya dapatkan. Itulah mengapa membaca buku adalah kegemaran yang tidak bisa dipisahkan. Saya terlalu ingin tahu dan haus akan informasi. Apa saja dibaca, apa saja ditanyakan. Dan sekali lagi, saya bersyukur karena dikaruniai pikiran dan ketertarikan pada banyak hal.

But like someone said, curiosity kill the cat. Begitupun dengan saya. Karena terlalu banyak informasi, saya menjadi kelebihan informasi. Kesulitan mencerna mana yang penting dan mana yang tidak penting. Saya tidak bisa fokus dan konsisten dalam segala hal. Semua serba mendadak, semua kadang tidak terencana. Dan akhirnya saya sendiri kebingungan mencari benang merah dari jutaan informasi tersebut.

Benang merah itu juga yang berkontribusi besar dalam malam-malam tanpa tidur saya. Berusaha membuat kerangka, menyusun hipotesa, menguji hipotesa tersebut dengan alternative-alternatif, mencari kesalahan dan kemungkinan lain yang bisa cocok hingga mendapatkan jawaban yang menurut saya, saat itu, cukup logis.

Semua itu menjadi tidak terlalu bermasalah ketika berhubungan dengan sesuatu yang nyata, ada datanya dan bisa di uji coba. Yang membuat saya selalu pusing ialah ketika berhadapan dengan masalah atau kasus yang berhubungan dengan manusia. Terbiasa dengan hipotesa dan pikiran sendiri membuat saya terkadang memiliki pemikiran yang berbeda dengan orang lain. Saya juga stress karena data yang ada untuk membuat hipotesa kemudian menguji dan mengambil kesimpulan terlalu sedikit. Bagaimana saya bisa mendapatkan semua jawaban atas pertanyaan tersebut jika orang yang saya ingin tanyakan tidak berpikir sejauh saya ? Atau dia sendiri tidak bisa saya mintai pendapat dan jawabannya karena beberapa hal ?

Ketika itu terjadi, mulailah curiosity dan pikiran menghancurkan kehidupan saya. Mulai dari berpikir mengapa ini terjadi, mengapa tidak seperti ini, apa alasan dari tindakan, ada makna lain kah dari tindakan tersebut serta pertanyaan-pertanyaan lain yang tampak nya sepele tapi tetap saya pikirkan. Dengan data yang sedikit itu, saya mulai melakukan kesalahan kedua. Membuat hipotesa, asumsi-asumsi, pemikiran yang tidak masuk akal, penjelasan yang dikira-kira dan akhirnya berujung pada pengambilan keputusan yang salah dan tidak benar.

That’s just my flaw. Sisi negatif dari anugrah yang saya miliki. Pada akhirnya, terkadang saya tidak mau banyak berpikir soal manusia. Dan cara ini juga tidak begitu saja menyelesaikan masalah. Karena berusaha mengingkari nature sendiri, saya terkadang menyimpan sesuatu untuk diri sendiri. Masalah dengan orang lain tidak terselesaikan, perasaan curiga muncul tidak pernah hilang, pesimistis terus berkembang hingga berujung pada ketidakpercayaan dengan mahluk bernama manusia.

And its start to worsen me even more. Percaya pada manusia adalah salah satu anugrah yang bukan saja tidak bisa dihilangkan tetapi juga dibutuhkan. Tekanan karena tidak bisa mempercayai orang berdampak pada sifat buruk lainnya. Memakai topeng. Saya pun mulai terbiasa menyesuaikan diri untuk berdamai dengan perasaan, kemarahan, ingin tahu, keinginan karena jika saya ingin mendapatkan jawaban-jawaban atas curiosity tersebut, orang lain pasti menganggap aneh, terganggu bahkan tersakiti. Akhirnya, karena terlalu banyak memakai topeng, saya mulai kehilangan jati diri sendiri dan itulah puncak dari seluruh efek negatif pikiran tersebut.

Untungnya, beberapa tahun belakangan saya menemukan solusi sementara untuk pemikiran liar ini. Ada dua pendekatan yang digunakan dan memudahkan menjelaskan tentang bagaimana saya mengatasinya. Pertama, saya membagi sumber masalah pikiran menjadi dua, yaitu pikiran tentang pekerjaan dan pikiran tentang kehidupan pribadi saya. Seiring dengan waktu dan kematangan saya sebagai manusia, tanggung jawab dan passion terhadap pekerjaan menjadi hal baru yang akhirnya menjadi prinsip yang akan selalu melekat. Job is a job and it should not be interrupted by personal life. Ada kepentingan dan kepercayaan dari orang lain yang tidak seharusnya dikhianati hanya karena saya punya masalah pribadi. And yes, it works for me. At least I have a great professional life !

Ide, gagasan, inovasi, pikiran tidak jelas yang muncul dari sisi pekerjaan atau personal improvement berhasil saya atasi dengan lebih banyak membaca, bertanya dan menulis. Jika malam-malam saya terlalu membosankan maka tinggal turun kebawah, membuka buku yang belum dibaca atau mulai menulis di blog professional saya. It turns great. Saat ini saya punya blog yang secara teratur di update dan sedang menyusun buku pertama tentang bidang yang menjadi kompetensi saya. Jika itu pun membosankan, saya tinggal mencari akses internet terdekat, membuka forum luar negeri untuk ikut diskusi atau sekedar mengamati perkembangan yang sedang terjadi di luar sana. Like I said, everything that have proper data and support analysis is easy to handle.

But here come the nightmare. Metode fokus pada pekerjaan membuat saya sangat nyaman. Lagipula sejak awal saya memang tidak begitu perduli dengan hubungan antara manusia. Kepercayaan adalah barang mahal yang hanya saya berikan pada orang tertentu. Dan jumlahnya bisa dihitung dengan jari dari satu tangan saja. Saya bahagia, sebagai seorang professional tapi tidak sebagai seorang manusia social.  

Bagaimana pun, kebutuhan bersosialisasi dan menyalurkan pikiran tidak bisa sekedar dipuaskan dengan menulis di blog pribadi ini atau membuat cerita refleksi diri di forum tanpa membuka identitas. Kini keadaan tidak semudah itu lagi. Saat ini, saya hidup di lingkungan dengan lingkup social yang kecil. Manusia yang ditemui hanya sedikit, sebagian besar malah klien dari pekerjaan. Lainnya hanyalah outsider yang tidak terlalu penting dalam hidup. Apalagi saya tinggal di apartemen dengan tingkat social yang cukup rendah (or maybe its just me that reject the social life ? :) ).

Awalnya itu semua bukan masalah. Menjadi beban ketika saya mulai memutuskan membuka hati pada seorang wanita. Sebelum bertemu wanita ini, saya masih berjuang untuk melupakan kenyataan bahwa rencana terbesar dalam hidup harus kandas bersama mantan sebelumnya. Belum lagi sakit hati karena kepercayaan yang langka saya berikan ternyata bertepuk sebelah tangan. Tapi saya tidak bisa selamanya tidak percaya pada manusia kan ? It’s a nature that make us a human, not a robot.

Maka ketika ada kesempatan yang ditawarkan untuk kembali percaya serta kemungkinan untuk memiliki keluarga, saya mengambilnya. And swear to God, I love that woman till now. Dia dengan segala kekurangannya, adalah bagian hidup saya. Setidaknya hingga kenyataan, ketakutan, dan juga keadaan memisahkan kami berdua. Ya, terlepas dari semua kriteria yang saya cari dari seorang pasangan hidup ada beberapa kenyataan bahwa kami memang terlalu berbeda. Terlalu banyak pertanyaan dan ketidakyakinan yang menyertai hubungan kami. Ada energy negatif yang entah bagaimana selalu muncul sekuat apapun kami berusaha menyingkirkannya.

Pikiran-pikiran dan pertanyaan-pertanyaan pun mulai muncul tidak tertahankan. Logika pun mulai bermain, asumsi pun mulai dibangun dengan data yang tidak valid. Alternatif bodoh pun mulai bermunculan. Menariknya ialah berbeda dengan mengatasi pikiran-pikiran di sisi professional yang lebih mengutamakan logika, saya lebih banyak menggunakan hati dan kepercayaan dalam mengatasi ledakan pikiran dari sisi personal life.

Saya bukan orang yang mudah percaya pada seseorang tetapi ketika memutuskan percaya maka kepercayaan adalah totalitas. Itu cara paling ampuh untuk mengatasi pikiran dan logika bodoh saya tentang manusia. Saya hanya harus mempercayainya. Bahkan ketika semua data, variable, asumsi dan kesimpulan mengarah pada jawaban yang bertolak belakang. Saya hanya harus mempercayainya. Pada akhirnya, ada beberapa kejadian di dunia yang tidak bisa dijawab dengan otan yang terbatas ini. Tuhan, takdir, dan cinta. Mereka memang dibuat untuk dipercaya, bukan untuk dicari alasan mengapa atau penjelasannya. Setidaknya itulah yang saya yakini.

Maka ketika semua pikiran liar itu muncul, data memberikan bukti sempurna, logika memberikan hipotesisnya, bahwa hubungan kami memang sulit untuk berhasil, saya hanya perlu percaya pada mimpi bahwa wanita itu adalah tulang rusuk yang disiapkan Tuhan jauh sebelum terciptanya dunia.  

Ohh,, dear God. I wish life is just as simple as like that. Bertahan dari pikiran dan kebiasaan berpikir logis sudah sulit dilakukan. Kini saya harus melakukannya sembari meyakinkan wanita yang juga punya masalah yang sama. Dia pernah gagal dalam hubungan dan kegagalan tersebut merusak kepercayaannya pada cinta. Dia tidak yakin pada saya, tidak percaya pada kemungkinan kami bersama selamanya, ketakutan akan pendapat orang lain, tidak nyaman akan rasa insecure nya, tidak puas akan jawaban yang diberikan dan itu semua membuat dia terus menerus bertanya, bertanya dan bertanya. Pertanyaan yang akhirnya meluap dalam sebuah pernyataan yang menjadi titik kulminasi hubungan kami.

Kembali sedikit ke hubungan saya dengan beberapa wanita sebelumnya. Pengalaman mengajarkan bahwa keyakinan bisa mengalahkan semua keraguan. Itu mengapa pada hubungan sebelum ini saya mempercayai wanita yang faktanya jelas tidak bisa terbuka pada saya dan tetap melamarnya. Dalam semua ketidakpastian akan seperti apa dia setelah menikah, saya tetap mempercayainya. Karena saya hanya harus mempercayainya dan terus melangkah. Dan percaya atau tidak, sebagian besar wanita yang pernah mempunyai hubungan khusus dengan saya adalah wanita dengan tipikal sama. Unstable emotion, rotten by their self problem and offcourse, dealing with fact that I’m just not enough for her.

Tapi wanita ini berbeda. Dia haus kebenaran dan keyakinan padahal itu hanya bisa ditemukan dari kesadaran untuk mempercayai pasangan. Dan dia menyatakannya dengan kata-kata, pertanyaan pertanyaan yang terus menerus berulang, walaupun saya sudah berusaha menjawab dan memberikan keyakinan. Saya juga bertanya, ragu, insecure, takut, butuh dikuatkan dan disupport. Tetapi saya cukup sadar bahwa keraguan dan ketidakyakinan tersebut berasal dari diri saya sendiri, bukan dari keadaan atau kekurangan pasangannya. Itulah mengapa saya memendam semua, meyakinkan diri sendiri dan terus menerus percaya pada cinta.

Tetapi sekuat apapun saya, pada akhirnya energy negatif yang terus menerus datang itu meruntuhkan keyakinan yang sudah dijaga. Saya yang menyerah. Itu salah saya. Bagaimanapun saya adalah pria yang seharusnya menjaga dan terus meyakinkan dia. Saya lah yang tetap bertahan dan menjawab keraguan dia dengan tindakan. Memberikan apa yang diidamkannya karena hanya itu permintaan dia. Saya gagal. Berakhirnya hubungan ini adalah tanggung jawab saya. Tidak perlu dibahas lagi atau dicari alasan.

Kini, yang bisa saya lakukan adalah menata hati lagi, mencari metode yang bisa menghilangkan pikiran-pikiran negatif, pertanyaan-pertanyaan yang tidak akan pernah terjawab, hipotesis yang tidak akan pernah terbukti serta kesimpulan yang akan selalu jadi misteri. Beberapa solusi yang dilakukan untuk berhenti berpikir dan berasumsi adalah bekerja, membaca, dan paling efektif yaitu menulis dan terus menulis. Sayangnya hingga kini metode yang tepat itu masih belum ditemukan. Buktinya saya masih saja terbangun hingga pagi bahkan ketika badan sudah memaksa istirahat. Terbenam dalam puluhan gelas kopi dan ratusan batang rokok. Terbangun telat dan menjalani rutinitas kantor dengan badan yang melemah untuk mengulang lagi peperangan dengan pikiran dan terjaga hingga pagi menjelang.

Metode itu tampaknya memang tidak akan ditemukan karena semuanya hanya obat sementara yang menekan symptom bukan menyembuhkan akar masalahnya. Karena bahkan setelah semua yang terjadi, saya tetap percaya. In the end, love is just as simple as that…  

0 comments: