Diantara Pilihan

Posted: Kamis, 01 April 2010 by Iqbal Fajar in
0

Semua orang selalu mempunyai pilihan. Saya sangat percaya itu. There is second chance and there’s always another way out. Setidaknya selama kita masih hidup di dunia ini. Seorang pemuda yang tidak bersekolah bisa memilih antara menjadi pemulung yang hina atau berusaha memperbaiki hidupnya walau harus makan tiga hari sekali. Seorang tentara bisa memilih antara mentaati Jenderalnya yang memerintahkan menembak membabi buta atau hidup bangga dengan menjadi desersi. Seorang guru bisa memilih untuk mengusahakan bocoran soal atau membiarkan anak muridnya gagal ujian akhir karena tidak memberikan contekan. Semua punya pilihan. Walau tidak semua pilihan berakhir dengan kisah yang manis. Semua punya konsekuensi. Semua harus dipertanggung jawabkan.

Seorang lelaki bisa memilih antara menggunakan handphone terkini dengan mengurangi jatah makan atau memegang handphone lama yang butut tapi berjalan dengan keyakinan bahwa yang dia butuhkan hanyalah HP penuh pulsa dan berguna bagi bisnisnya. Sebut saja wanita lainnya yang memilih mengirit uangnya demi pesta malam minggu atau menikmati indahnya malam di taman kota dengan uang yang selalu memenuhi dompetnya. Sekali lagi, semua orang bebas menentukan ingin jadi seperti apa dia. Miss Sosialita kah? Yang malam-malamnya dihabiskan dengan perpindahan dari satu keramaian ke keramaian lainnya ? Atau Wanita karier yang kesepian dengan tidur cepatnya karena kelelahan bekerja? Semua bebas memilih.

Itu pula yang saya lakukan kini. Hidup sebagai karyawan di BUMN milik Departemen Keuangan. Dengan jabatan Account Executive yang mengharuskan berpenampilan rapi, dandy, klimis atau apapun istilahnya. Intinya, mengutip kalimat favorit atasan saya, “You are the representatives of our company!”. Nama baik saya adalah nama baik perusahaan maka berlaku pula sebaliknya. Pandangan buruk orang pada saya mencerminkan image perusahaan. Terlalu berlebihan? Saya juga merasakan hal yang sama. Tapi itulah kenyataannya.

Dan hal-hal yang berkaitan dengan penampilan selalu di asosiasikan dengan sikap, kemampuan, gaya hidup, harga diri, serta hal lainnya yang sebenarnya tidak bisa dinilai dengan sekelebatan mata. Frasa don’t judge the book from its cover belum terimplementasikan secara menyeluruh di negara ini. Kemeja lengan panjang dan dasi melilit masih menjadi jaminan mutu, HP terbaru masih menjadi penanda status sosial, tampilan modis disertai terawatnya tubuh bukti kuat tingkat kemapanan. Pertanyaan saya ialah, apakah seorang Mark Zuckerberg adalah orang biasa? Karena dia terbiasa menggunakan jeans, sepatu kets, cardigan dan kemeja kaosnya menjadikan dia orang yang hanya pantas dipandang sebagai anak muda tak bertalenta ? Atau sebut saja Mahatma Gandhi dengan jubah putihnya, lengkap dengan kaki yang menapak bumi tanpa alas. Apakah dia orang tua biasa yang tidak memiliki pendirian? Seperti yang dapat kita temui di sebagian besar persimpangan jalan? Semua orang tahu jawabannya. Jika tidak, lebih baik anda ketikkan google.com di browser anda sekarang dan jawabannya akan tersaji dengan gamblang.

Maka saya pun mengambil pilihan saya. Walaupun tidak terbiasa dengan pernak pernik perlente, saya tetap berusaha untuk menjadi lebih baik. Kemeja lengan panjang yang biasanya digulung dengan mode yang ketinggalan jaman berganti dengan kemeja putih bersalur dengan rapinya lengan panjang terkancing lengkap dengan pantofel mode terbaru versi aladin. Sesuatu yang saya tertawakan dulu. Tidak lupa jam tangan kain bau berganti dengan merek ternama berwarna hitam elegan. Saya berubah.

Tapi tidak semuanya. Banyak orang protes dengan HP keluaran lama yang bahkan casingnya sudah mengelupas dan kaca yang setengah retak. Toh, bagi saya HP itu sangat multifungsi. SMS, telpon, internet, bahkan video call dapat dilakukan. Kelakuan pun tidak saya ubah seluruhnya. Tetap cuek dengan autisme yang mengakar. Hanya ketika bertemu klien sikap itu saya simpan dalam-dalam. Selebihnya sama. Masih saya yang dulu. Pria yang dengan santainya ke kantor menggunakan skecher kesayangan, tertawa lepas, sindiran dan ejekan yang selalu terlontar, kumpulan diksi yang tidak pantas didengar anak kecil, kenyamanan tidur di lantai kantor yang berdebu, makan di warung pinggiran, merokok di tangga dengan OB, kongkow bareng dengan satpam di saat jaga malam, nyaman nongkrong di Taman Suropati ketimbang ngopi ria di Starbucks, atau bersepeda sendiri mengelilingi senayan di malam hari.

Juga pilihan-pilihan lain yang bagi orang kebanyakan sulit masuk diakal. Menolak menjadi Account Executive, memutuskan pacar yang sudah mapan dan sangat perhatian serta menjalin hubungan dengan penyanyi di tempat yang sulit dijangkau, atau hal bodoh terbaru, menurut sebagian besar orang, yang saya lakukan. Touring ke Jogja. Sendirian. Tanpa kawan atau rekan klub, hanya seorang pengantar di salah satu tempat tujuan. Bukan karena ingin menonjol saya lakukan itu semua. Saya hanya melakukan apa yang menurut saya adalah pilihan. Orang lain bisa menikmati liburan di rumahnya yang nyaman, menonton televisi di sofa empuk sembari ber haha hihi. Itu pilihan mereka. Pilihan saya adalah terpanggang matahari diatas motor Pulsar kesayangan selama 13 jam, kram karena menahan buruknya jalanan, kemungkinan sakit karena kelelahan serta efek negative lainnya hasil dari kelakuan gila saya ini.

Tapi saya bahagia. Karena setidaknya saya masih bisa dengan bebas dan terbuka melakukan pilihan. Walaupun bagi sebagian orang itu tidak biasa, aneh dan menyimpang. Walaupun pilihan tersebut berarti sekali lagi menjalani hidup dengan lebih sulit dan berliku. Tapi saya yakin, pilihan ini akan membawa saya satu langkah lagi menuju mimpi mimpi saya. Semoga anda juga dapat membuat pilihan anda sendiri. Pilihan yang menurut anda adalah panggilan hati nurani.

0 comments: