Antara Palmerah dan Serpong
Posted: Senin, 12 April 2010 by Iqbal Fajar inMinggu Sore itu saya terdampar di stasiun kereta Palmerah, memegang tiket kereta seharga 1500 rupiah. Tiket kereta ekonomi langsam tujuan Rangkas Bitung. Bukan kesana tujuan saya tapi karena jadwal kereta Bisnis Ciujung Jurusan Serpong paling cepat masih satu setengah jam lagi, maka saya terpaksa mengambil jurusan Rangkas Bitung. Stasiun Serpong adalah salah satu stasiun yang dilewatinya.
Malas rasanya menaiki “kereta merah” itu. Kereta diesel penuh polusi, dengan gerbang yang bersesakan, panas, tanpa ventilasi, sarang copet. Belum lagi kumpulan bermacam-macam barang yang dipaksakan masuk kedalam kereta. Sebut saja sayuran, barang dagangan, bahkan hewan seperti kambing dan ayam. Keparahan tersebut makin menjadi karena kelakuan beberapa penumpangnya yang dengan seenak udelnya merokok di tengah gerbong. Saya perokok, tapi saya punya aturan. Tidak pernah merokok di dekat ibu hamil, anak-anak dan ruang tertutup. Dan minggu sore yang cerah itu seakan terlihat kelabu.
Kereta itu datang. Suara sirine memenuhi udara, bersahutan dengan sinyal kereta dari stasiun. Saya sudah siap di bagian depan peron stasiun, berharap gerbong depan sedikit menyisakan ruang. Sayangnya saya harus kecewa. Kereta penuh. Entah kenapa banyak sekali orang. Padahal ini minggu, waktu libur. Kenapa orang-orang itu masih mau berjejalan di kereta? Sadar tidak ada gunanya menggerutu, saya berjalan ke gerbong terdepan. Ketika sampai di pintu gerbong, sudut mata saya melihat beberapa orang yang berlompatan ke bagian belakang lokomotif. Mereka menaiki bagian samping lokomotif yang tidak terlindungi. Hanya ada sedikit untuk pijakan kaki. Cukup nyaman tampaknya. Kenapa tidak?, pikir saya. Disana cukup nyaman, walaupun harus sedikit menghirup asap lokomotif. Angin dengan sangat banyak tersedia, panas tentu hilang disana. Maka tanpa pikir panjang saya menaiki bagian belakang lokomotif itu. Saya mendapatkan tempat yang cukup nyaman. Ada semacam besi yang menjadi pegangan disana. Saya bisa bertahan. Lalu saya tersenyum. Disini nyaman.
Ragu mulai datang ketika kereta berjalan. Agak tersentak karena tarikan lokomotif ke gerbong, saya terhuyung. Saya lupa. Di posisi saya sekarang sangat rentan terkena segala sesuatu dari luar, selain angin masih ada batang pohon yang menjulur, atau benda lainnya yang mungkin saja menghalangi jalannya kereta. Belum lagi kemungkinan terpelesat jatuh. Denngan sangat mudah saya akan terlempar ke sisi rel. Sadar dengan rentannya posisi, saya menyenderkan badan lebih erat kesisi lokomotif.
Untungnya ketakutan itu mulai hilang ketika angin sore menerpa wajah. Saya selalu mencintai terpaan angin. Itulah mengapa saya mencintai motor. Hempasan angin di wajah dan tubuh menghilangkan keringat dan kelelahan. Bahkan tidak hanya itu saja, bersama angin saya juga bisa melepaskan beban, emosi, kesedihan serta masalah lainnya. Serasa hidup kembali. Saya rela menukar kenyamanan hidup dengan sensasi angin ini. Karena pada saat-saat seperti inilah saya bisa memaknai hidup. Memikirkan semuanya sekaligus melepaskan semuanya. Sore itu kebahagian saya bertambah. Di depan saya, sang surya menampakkan kemegahannya. Dia akan kembali ke peraduannya dan menyerahan tahta pada malam. Ya, sore itu matahari menerangi langit dengan cahayanya, melukis birunya langit dengan oranye terang.
Terlepas dari indahnya sore itu, ada hamparan rumah-rumah kumuh yang menemani saya di perjalanan minggu sore itu. Rumah-rumah dengan atap triplek, seng besi, asbes. Sangat sedikit yang beruntung memiliki genting. Anak kecil yang berlarian disisi rel, lelaki yang asyik dengan tayangan televisinya, ibu-ibu yang mengejar anaknya untuk menyuruh mandi serta pemuda yang nikmat bercengkrama dengan sebayanya. Beberapa orang masih dengan semangat bekerja memisahkan hasil memulungnya hari itu, atau industry rumahan kerupuk kulit yang mengoreng di wajan penuh minyak hitam. Disana boleh terbelakang dan kekurangan, tapi saya melihat ada keceriaan disana. Ada kehidupan yang berbahagia. Walaupun saya tahu tidak ada cukup dana disana. Walaupun tidak ada fasilitas mewah tersedia. Walaupun semua nya tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Tapi mereka tetap tertawa.
Melihat itu semua saya malu. Mereka yang dengan segala kekurangannya masih bisa hidup sembari menikmati dunia. Sementara saya dengan segala fasilitas kantor, apartemen, kendaraan, kamar pribadi masih saja menggerutu dan tidak puas. Beberapa kali malah saya menyalahkan rendahnya gaji di kantor padahal saya tahu bahwa awal dari itu semua adalah keteledoran saya dalam mengatur keuangan. Sore itu saya merenung. Banyak diantara kita yang tidak pernah bersyukur terhadap apa yang sudah kita dapatkan. Selalu ada keluhan disana sini. Entah berupa uang jajan yang kurang, kerjaan kantor yang menumpuk, pacar yang tidak pengertian, anak yang tidak pintar, orangtua yang terlalu disiplin, gaji yang kurang, bahkan hingga ke hal-hal terkecil seperti pelayan yang tidak ramah, bangku mobil yang tidak nyaman, air PAM yang keruh hingga pulpen di saku yang macet.
Selalu ada yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tapi pernahkah kita melihat itu semua dari perspektif yang berbeda. Kita bisa mengeluh tentang gaji yang kurang karena kita masih punya gaji. Bagaimana jika kita tidak punya gaji? Apa yang harus kita keluhkan? Atau sebut saja pacar yang tidak menelpon di malam minggu. Bagaimana ceritanya kalau kita tidak punya pacar sama sekali? Bukan kah itu lebih menyebalkan? Walau kita akan diuntungkan karena tidak harus memikirkan kemana si pacar. Ya, karena kita tidak punya pacar sama sekali. Jadi apa yang harus dipusingkan? Intinya, kita harus bersyukur atas apa yang sudah kita miliki. Walaupun itu tidak sempurna. Setidaknya kita punya. Masih ada orang-orang di luar sana yang bahkan untuk memikirkannya saja tidak terbayang.
Sore itu diantara stasiun Palmerah dan Serpong, disisi lokomotif diesel, diatas bumi sang Maha Pencipta, ditemani angin, asap lokomotif, matahari, langit merah, ranting pohon di sisi rel, jalanan tol, kebun-kebun warga, serta tidak lupa, rumah-rumah kumuh yang berbahagia. Sekali lagi saya bersyukur atas semua karunia-Nya.