Another Lonelly Saturday Night

Posted: Senin, 12 April 2010 by Iqbal Fajar in
0

And there he goes, another lonelly Saturday night. Yup, malam minggu ini saya, untuk yang entah untuk keberapa kalinya, terdampar di apartemen tercinta ini. Hanya ditemani dengan laptop tercinta, tv kabel yang penuh dengan film romantic, sebungkus rokok, dan mungkin akan ditambah dengan satu gelas vodka. Sama seperti minggu-minggu sebelumnya.

Alasannya sudah jelas. Autisme sebagai bagian dari sifat introvert ini mengakibatkan tidak adanya teman yang menemani di malam ini. Saya terlalu malas mengajak orang lain berbagi kesendirian. Enam tahun di sekolah asrama membuat saya lelah dengan segala intimasi. Hampir tidak ada privasi. Maka ketika kuliah, saya lebih senang hidup dalam kesendirian. Khususnya malam-malam seperti ini. Harus diakui, awalnya sangat menyenangkan. Menikmati udara malam, menyesapi simfoni lagu, bermain dengan kesunyian alam serta kelakuan aneh lainnya. Tapi setelah tahunan menjalani itu semua, saya mulai menyerah pada takdir utama manusia. Sosialisasi. Sayangnya itu semua terlambat. Kebiasaan itu sudah mengakar dan berakibat walaupun saya mau bersosialisasi, ada sesuatu di dalam diri ini yang menahan untuk membuka diri pada orang lain.

Sebenarnya ada seorang wanita yang dapat membuka hati ini. Tempat dimana cerita dan keluh kesah dapat tersalurkan dengan lancar, tanpa ada penolakan dari hati. Wanita yang selalu siap dengan senyum manisnya dan candaan konyol serta jangan lupa intonasi aneh nan unik yang menyertai kata kata. Saya mencintainya, sangat mencintainya. Bahkan terkadang saya lupa kalau hubungan dengannya baru berjalan selama 2 bulan saja. Entahlah. Keakraban dan keterbukaan yang kami tunjukkan tidak menunjukkan fakta bahwa hubungan ini baru saja dimulai. Mungkin ini yang dinamakan chemistry.

Masalahnya ialah, sang nona cantik yang menyenangkan itu berada di tempat yang tidak memungkinkan kami bertatap muka setiap malam minggu. Bahkan hari-hari lainnya. Kami terpisah oleh jarak. Cukup jauh untuk membuat saya mempertimbangkan keinginan bertemu dengannya. Belum lagi sang waktu yang seakan jadi musuh besar ketika kesempatan bertemu itu datang.

Memang banyak jalan menuju Roma. Tatap muka bukan satu-satunya cara. Masih ada teknologi suara yang membantu kerinduan. Tapi sekali lagi, waktu pula yang jadi constrainnya. Pekerjaan kami hanya memungkinkan untuk berbicara leluasa di larut malam. Maka, disinilah saya. Tanpa teman berbicara, tanpa rekan bercanda serta kekasih untuk berbagi cinta.

Fiuh,,ini resiko yang sudah saya pahami ketika memutuskan menjalin hubungan dengannya. Tapi, kalau boleh jujur, saya lelah seperti ini. Banyak cerita yang ingin dibagi, sejuta impian yang hendak di tumpahkan dan luapan cinta yang butuh pelampiasan. Maka malam ini hanya satu harap terucap. Semoga si jelita itu merasakan hal yang sama dan segera meluangkan waktunya untuk sekali lagi bertukar kata. Semoga.

0 comments: