Control, External Factor and Let Things Go
Posted: Minggu, 13 Januari 2013 by Iqbal Fajar in
0
There is a lot of things that you couldn’t control. You just have to be wait and enjoy the process” Itulah kata-kata yang teman saya ucapkan malam itu. Tentu saja saya tahu itu. Tidak semua bisa kita kendalikan dan harap akan berjalan seperti yang kita mau. Permasalahannya seberapa besar kita melihat dan memutuskan bahwa satu hal tidak bisa dikendalikan dan hal lain bisa dikendalikan. Kematian dan cinta. Bagi saya dua hal tersebut adalah faktor-faktor yang cukup pantas untuk dikategorikan dalam “tidak bisa dikendalikan”. Yang lainnya ? Saya cukup yakin mampu mengatasinya.
Maka ketika teman saya memberikan alasan dengan kalimat diatas atas terhentinya proses pembuatan buku yang sedang dikerjakan, alasan itu tidak masuk dalam logika. Pantang menyerah, passion, dan kerja keras adalah syarat untuk sukses. Begitupun dalam pembuatan buku yang sedang saya kerjakan. FYI, alasan mengapa saya melakukan sesi curhat dengan teman saya itu ialah karena seminggu terakhir pengerjaan buku terhenti. Tidak ada progress yang memuaskan. Bahkan saya bertambah pusing dan ragu atas kemampuan untuk menyelesaikan buku ini. Terlalu banyak yang belum sesuai, tidak terstruktur, masih kurang dalam, terlalu banyak pembahasan, tidak jelas tujuan dan manfaat serta puluhan scenario buruk yang mengisi otak. Hasilnya, berdampak pada fisik yang terus menurun. Waktu istirahat yang kurang ditambah makan yang tidak teratur dan tentu saja pikiran yang terus menerus bekerja. Dampaknya, sakit kepala dan badan yang lemas. Buat saya, pusing dan pilek adalah penyakit yang paling menyebalkan. Konsentrasi dan ide seakan hilang ditelan cenat cenut yang terus mengganggu. Anehnya, ketika sakit kepala sudah tidak tertahankan dan saya kembali ke apartemen, menonton dan bersantai, semua itu hilang.
Tentu saran teman saya mudah saja. “You need some rest, and a lot of refreshing time. Leave your project for a while and have fun !” ujarnya. “ I rest a lot already. And have fun ? Come on, we had a lot of time spent for have fun. Remember new years eve? and last week when we cooked together at my apart ? That’s some quality time and of course it’s fun” balas saya. “Then you need more !” jawab dia sambil tersenyum. “More ?! How much ? And are those fun time will be a guarantee me to finish my project ? Of course its not. I should finish it. That’s the only way I could sleep and relaxing my mind. That’s how it works, always” sanggah saya lagi. Keluarlah kata-kata sakti yang di quote diatas. Dia juga menjelaskan bahwa saya tidak bisa mengontrol semua yang diharapkan. “Lo gak bisa maksa nulis kalau lagi stuck. Lo gak bisa maksa kerja kalau lagi sakit. It doesn’t work that way”. Dan saya dengan kepala batu tetap saja memaksa bahwa itu bukan alasannya. Sesi curhat itu pun berubah jadi adu argument tentang bagaimana seharusnya berpikir, menyelesaikan masalah dan menyikapinya.
Intinya ialah, saya selalu berpendapat bahwa semangat, sakit, hambatan, kerja keras dan hal lainnya adalah tanggung jawab diri sendiri yang dapat kita kendalikan. Anda bisa saja memilih menyerah ketika ada masalah atau bersantai ketika stuck. It’s the easy way. Tapi itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Masalah tidak akan selesai. Pada akhirnya kita anda akan menghabiskan waktu mencari alasan. Alasan untuk istirahat lebih banyak, alasan jalan-jalan, alasan ketika pekerjaan tidak selesai dan segudang alasan untuk setumpuk tanggung jawab yang dibebankan. Alasan-alasan itu yang disebut Stephen Covey sebagai faktor eksternal. Ketika pekerjaan tidak selesai, maka waktu yang disalahkan. Saat project tidak sempurna maka itu karena pekerjaan orang lain yang tidak benar. Ketika hubungan percintaan tidak berhasil, ketidakcocokan adalah penyebab utama.
Hell with that ! Apapun itu yang dikerjakan, ketika tidak selesai seperti diharapkan maka itu adalah kesalahan kita. Tidak perlu melihat orang lain dan mencari-cari penyebabnya diluar sana. Its reside on us ! Project tidak selesai tepat waktu karena kita terlalu banyak istirahat, hasil tidak maksimal karena tujuan bersama tidak kita jelaskan lebih detail pada tim. Hubungan percintaan tidak berhasil karena kita tidak cukup mencintai pasangan. As simple as it is. Jangan pernah jadi orang yang eksternal. Individu yang menganggap kesalahan ada pada dunia dan isinya. Jadilah orang internal yang selalu melihat ke diri sendiri. Bertanggung jawablah dengan keputusan dan bekerjalah lebih keras. Membaca lebih banyak, bekerja lebih larut, fokus lebih keras dan mencintailah lebih dalam. Karena pada akhirnya, masalah anda hanya bisa diselesaikan oleh anda sendiri. Bukan orang lain. If it’s about you, then it’s up to you.
Tentu saja walaupun sudah berusaha semaksimal mungkin, dunia tidak selalu bekerja seperti yang diharapkan. Terlepas dari keras kepala saya akan mengatur keadaan, saya tahu bahwa takdir adalah sesuatu yang tidak bisa kita atur. Tetapi sekali lagi, yang harus difokuskan ialah bagaimana kita tidak mudah mengambil keputusan bahwa ini tidak mungkin, itu memang sudah begitu dan alasan lainnya ketika hal yang kita inginkan tidak terjadi. Go further, dream bigger, walk longer and never give up. Kamu hanya harus terus percaya. Itu kata Donny Dhirgantoro dalam bukunya 5 cm. Menjadi orang yang fokus pada internal, bekerja keras dan menjaga mimpi sudah berhasil saya lakukan. Tetapi ketika kerja keras dan semua usaha tidak memberikan hasil yang diinginkan maka yang harus dilakukan adalah menerima dan merelakannya. Legowo kalau kata orang Jawa. Berserah diri kalau di Islam. Pelajaran itu yang masih belum bisa saya lakukan. Ketika sesuatu tidak terjadi sesuai harapan, saya akan mencari penyebabnya, memperbaikinya, bekerja lebih keras, melakukan dengan cara lain dan sebagainya. Bagi saya, itu semua karena kesalahan saya yang kurang kompeten dan kurang berusaha.
Lucunya, tidak lama dari sesi diskusi itu, saya mendapatkan pelajaran (atau teguran?) bahwa keputusan sukses atau tidak adalah domain Sang Maha Pencipta. Kita hanya harus berusaha dan berdoa. Hasilnya adalah terserah Dia. Pelajaran terakhir tersebut yang saya dapatkan dengan menyakitkan. Saya kecelakaan malam itu. Mobil di depan saya rem mendadak dan motor terjungkal akibat ban selip. Motor terbalik dan saya terguling ke tengah jalanan. Tepat di depan mata, mobil dibelakang sudah siap menabrak. Untung pengemudinya mengerem dengan cepat. Hanya beberapa centimeter di depan muka. Kacamata pecah terlindas serta lutut bengkak dan berdarah.
Sesaat saya sempat menyalahkan pengemudi di depan yang sudah lari entah kemana. Beberapa orang yang menolong sempat mau mengejar tetapi segera dihentikan. Its my fault. Saya tidak bisa mengendalikan motor. Pengereman mendadak harusnya bisa saya atasi dengan pengalaman bertahun-tahun. Slipnya motor pun salah saya yang menunda-nunda melakukan servis rutin.
Sangat mudah untuk marah pada mobil depan tetapi apa gunanya ? Maka saya pun legowo dengan motor yang stangnya bengkok, legowo dengan kaki yang pincang dan legowo untuk beristirahat sendirian di apartemen. Pengalaman itu juga yang membuat saya memutuskan untuk beristirahat sejenak dari project buku yang dikerjakan. Setidaknya sampai tangan yang terkilir cukup rileks untuk mengetik serta kaki sudah tidak pincang untuk berjalan ke D’Japan, spot menulis favorit saya.
In the end, I learn about the other forces that control our life and what I should do if the force decide it’s not the right time.