Carrot and Stick
Posted: Kamis, 24 Januari 2013 by Iqbal Fajar in
0
Apa yang selalu dikatakan oleh semua motivator dan optimist di luar
sana? Mereka hanya mengatakan satu hal. Have faith in yourself. Caranya bisa
berbeda-beda. Bisa lewat kata-kata motivasi yang langsung, contoh kasus dari orang-orang
sukses atau bahkan sindiran pedas yang baik tujuannya. Everybody unique dengan
segudang potensi yang belum disadari. Terus melangkah dan menghargai diri
sendiri lebih baik. Tetaplah berpikiran positif. Apapun itu, setidaknya itu
yang ingin mereka tularkan. Percayalah bahwa anda mampu.
Saya adalah salah satu individu yang hidup dari dogma tersebut. Bagi
pribadi yang lahir dari keluarga di level medium, saya kerap tidak percaya diri
akan kemampuan diri sendiri. Ayah yang pegawai negeri, Ibu yang juga dari
keluarga biasa-biasa saja, sekolah yang hanya bisa dibilang cukup dan
lingkungan yang bersahaja. Ayah saya bahkan pernah berpesan. “Nak, kamu tidak
perlu jadi yang terbaik. Cukuplah jadi ditengah-tengah. Asal jangan dibawah”.
Cukup menginspirasi bukan?
Maka saya pun tumbuh jadi seorang remaja yang biasa-biasa saja, tanpa
ekspetasi lebih. Prestasi yang hanya dikejar agar cukup di lingkaran menengah
atau pergaulan yang hanya sekelumit itu saja. Pesan Ayah tersebut juga saya
pegang ketika pertama kali keluar rumah untuk masuk ke sekolah asrama di masa
SMP. Bertemu dengan banyak orang baru dengan segala antusiasmenya, hanya cukup
membuat saya tertarik beberapa saat. Selebihnya saya lebih banyak berdiam diri
di perpustakaan sekolah atau terbenam dalam kelakuan iseng kabur dari asrama.
To be honest, ada keinginan besar untuk berada di lingkungan para elite,
kelas atas. Mereka yang populer, keren, disukai banyak orang, bandel, melanggar
aturan atau para high achiever. Siapa yang tidak mau dipandang lebih dari orang
lain. Sayangnya cara yang saya lakukan tidak benar. Kurangnya sikap kompetitif
dan nrimo, yang orangtua ajarkan membuat saya rendah diri dan merasa cukup
dengan apa yang sudah ada. Akhirnya saya jadi malas ketika harus berusaha keras
mencapai lingkungan elite tersebut. Tidak hanya itu, karena memang dasarnya
saya ini cukup aneh dan lemah bagi anak seumuran, saya kerap kali dijadikan
sasaran bullying di masa SMP. Komplitlah sudah. Pola pikir tidak kompetitif,
nrimo yang salah arti dan selalu dijadikan sasaran ketidakdewasaan teman-teman
membuat masa SMP saya cukup traumatis. Saya tidak percaya diri dan mulai
tertutup pada dunia.
Untungnya, ada darah leluhur Sumatra yang bangkit diam-diam. Ketika
dilecehkan karena fisik yang kecil dan sifat penakut, saya mulai bekerja lebih
keras untuk menang dari mereka yang menganiaya dengan cara lain. Saya mulai
menggunakan bakat terbesar yang diberikan Tuhan dan tentunya gen dari orangtua
tercinta. Otak. I’m quite good at my study. Kegemaran membaca dari Ibu serta
kemampuan komunikasi yang excellet dari Ayah mendukung saya menjadi pribadi
yang lebih baik. Maka saya berjuang di sisi tersebut. Berusaha belajar lebih
keras dan membaca lebih banyak. Jika saya tidak bisa menang dari pada
pengganggu itu, maka saya tidak boleh kalah dari sisi otak dari mereka. And
thanks God, I’m become a success one. Menggunakan semua potensi tersebut, saya
perlahan berhasil naik kelas dari kasta bawah menuju ke golongan elit.
The problem is, I’m still the same kid that facing the world as
uncompetitive and easy environment. Tujuan saya untuk berjuang selalu saja
dimulai dari alasan bahwa ada pihak-pihak tertentu yang mensepelekan. Di SMP
pihak itu adalah para pengganggu dengan fisik besarnya, di SMA ialah para
remaja kota dengan kekayaan dan sikap coolnya. Masa kuliah pemicunya adalah
seorang wanita yang menolak cinta saya sedangkan masa professional adalah para
senior yang meremehkan kompetensi. See the pattern here? Selalu saja ada orang yang ingin saya buktikan
bahwa pendapat mereka adalah salah.
Anda tahu dampaknya? Sama seperti keledai bodoh yang terus berjalan
mengejar wortel yang digantung depan matanya, saya hanya berjalan karena
mengejar suatu alasan. Anda tahu apa yang terjadi ketika wortel tersebut
akhirnya bisa dimakan oleh keledai? Dia akan berhenti. Begitupun saya. Ketika
tujuan untuk membuktikan pendapat orang lain tentang saya adalah salah berhasil
dilaksanakan, saya pun kehilangan arah. Kosong. Parahnya lagi, wortel saya
bukan sesuatu yang hadir dari diri sendiri. Wortel itu adalah orang lain,
alasan tertentu yang kadang tidak berarti. Dilihat lebih oleh wanita yang saya
suka, dianggap pintar oleh guru, atau sekedar terlihat sebagai anak baik-baik
nan lugu.
Saya pun mulai menjadi orang lain. Berusaha mengikuti semua ekspetasi
mereka yang meremahkan dengan pendapat saya sendiri. Hasilnya? Tentu saja tidak
baik. Bukan hanya saja itu semua palsu tetapi saya mulai kehilangan keinginan
pribadi. Hanya berusaha memenuhi harapan mereka yang meremahkan saya. Dan
karena sejak awal saya punya bakat tidak percaya diri, sifat negatif itu pun mulai
menjadi karakter. Saya tidak cukup yakin bisa mencapai level tertentu, tidak
berani mendekati sesuatu yang tampaknya diluar jangkauan, menurunkan standar
dan harapan pribadi, serta berserah diri dengan keadaan menunggu keajaiban. Ini
berlaku untuk banyak hal. Saya tidak berani melamar pekerjaan dengan standar
yang tinggi, takut menuliskan karya-karya, malas berbuat lebih banyak ketika
menemui kegagalan, mengambil resiko untuk membuka usaha sendiri dan bersantai
diri dengan keadaan yang cukup-cukup saja.
Saya baru belajar untuk mengerti tentang diri sendiri, passion,
keinginan dan ambisi ketika bertemu dengan senior di pekerjaan saat ini. Dari
beliaulah saya mengenal konsep external dan internal factor nya Stephen Covey.
Beliau, bukan saja hebat dalam menyampaikan konsep tersebut di kehidupan
sehari-hari, tetapi juga menjalani konsep tersebut. Bahkan beliau bisa
dikatakan hidup dengan 7 Habit of Highly Effective People. Melalui beliau juga
saya kembali menemukan passion dan tujuan pribadi.
Tahun lalu adalah bukti konkrit dari penemuan passion tersebut. Banyak
pencapaian yang didapatkan, khususnya dari sisi professional. Begitupun dengan
kehidupan personal yang mulai menunjukkan titik terang. Saya berubah dari
pemalas yang hanya mengeluh dan tidak mau berusaha menjadi ambisius yang gila
kerja. Pribadi yang tidak percaya diri bertransformasi menjadi individu yang
yakin akan kekuatan mimpi dan kerja keras.
Masa-masa sulit ketika saya kehilangan kesempatan menikah juga bukti
kekuatan passion. Dulu ketika masa-masa putus cinta, kehidupan akan berubah
menjadi sangat menyedihkan. Merenung dan meratapi kesalahan sembari berharap
semua tidak terjadi. Mudahnya lihat anak ABG yang baru putus cinta pertama.
Saya tidak jauh berbeda dari mereka. Menyedihkan memang. Tetapi keadaan yang
berbeda terjadi sesudah saya menemukan passion itu kembali. Putus cinta ? Saya
hanya perlu membaca lebih banyak buku, mengerjakan pekerjaan kantor atau
menulis blog professional. Intinya, faktor-faktor diluar yang mempengeruhi bisa
dihadapi dengan keinginan dan passion yang kuat dari diri sendiri.
Setidaknya itu yang saya lakukan belakangan ini. Hingga masa-masa
menyedihkan itu kembali. Ternyata, saya memang belum bisa terlepas dari kutukan
carrot and stick itu. Beberapa minggu belakangan ini saya stuck kembali dengan
semua keadaan. Buku tidak bisa dilanjutkan, blog tidak terurus, begitupun
kerjaan tampaknya begitu membosankan.
I lost those passion, again. Lebih tepatnya saya kehilangan carrot itu
lagi. Tidak tahu mengapa harus mengerjakan dan tujuan akhirnya akan seperti
apa. Kosong. Salah satu sahabat mengatakan bahwa saya sudah bukan saatnya lagi
mengandalkan carrot and stick itu. Harus ada keinginan dari diri sendiri yang
bisa mempertahankan performa. Tidak bisa lagi menurunkan kinerja dan standar
ketika masalah datang atau tujuan telah tercapai.
Jujus saja, saya tahu itu semua. Juga tahu carrot apa yang harus saya
kejar saat ini. Pasangan. Tanpa pasangan saya hanya mengerjakan semua ini tanpa
arti. Bodoh ya? Tetapi itu kenyataannya. Walau setelah semua pengalaman hidup,
saya memang tidak bisa sendiri. Selalu harus ada orang lain yang harus saya
jadikan tujuan. Harus ada perjuangan dan jalan terjal yang dilalui untuk
membuat saya hidup. Adrenalin addict kalau kata sahabat saya itu. Setelah ada
tantangan dan sesuatu yang mustahil saya baru bisa bergerak lebih cepat, lebih
fokus dan lebih terarah.
Agak aneh memang, disatu sisi, saya sadar bahwa saya ini pemalas yang
sangat nrimo tapi disisi lain saya butuh suntikan tantangan agar saya mau
berjalan. Entahlah, mahluk bernama manusia ini memang sangat kompleks. Bahkan
untuk dirinya sendiri, kita terkadang tidak bisa tahu apa yang terbaik dan mana
yang berakibat buruk. Sama seperti saat ini. Saya kehilangan arah harus kemana
tulisan ini dilanjutkan. Terlalu banyak yang berputar-putar dikepala. Tampaknya
memang sudah saatnya saya beristirahat sementara dan bersantai lebih banyak. After
all, human can’t be predicted by simply reading books about human behavior or
guessing by their act.
PR besar lain yang juga menunggu saat ini adalah mencari lagi passion
tersebut. Kemudian merubah passion itu ke level selanjutnya. Bukan lagi carrot
yang akan segera kehilangan maknanya begitu semua selesai dicapai. In the end, its not the time to keep whining and regretting myself anymore.