Utopia
Posted: Selasa, 20 Desember 2011 by Iqbal Fajar in
0
Kalian tahu arti kata yang digunakan untuk judul tulisan ini? saya mengetahuinya ketika umur 9 tahun, dari sebuah komik bernama Dragon Quest. Kata itu mucul berkali-kali dalam komik-komik lainnya yang tetap saya baca sejak kecil hingga hari ini. Awalnya tidak bermakna apa-apa, hanya sebuah kata yang cukup membuat saya penasaran dan membuka kamus bahasa di perpustakaan sekolah. Kita akan kembali pada kata itu nanti. Perkenankan saya bercerita sedikit tentang hobi yang menurut beberapa orang sangat berguna.
Saya suka membaca, sedari dulu. Terutama komik jepang. Orang tua yang mengenalkan komik sebagai alat agar anaknya ini gemar membaca. Dan sukses besar. Komik pertama saya ialah Doraemon. Legend manga of all time by Fujiko F Fujio. Bercerita tentang seorang anak kelas 4 SD bernama Nobita dengan robot kucing masa depan bernama Doraemon yang dikirimkan oleh cucunya di masa depan, Sewashi, agar kakeknya bisa memiliki masa depan yang lebih baik. Simple story, really fit with young child full of imagination like me. Doraemon dengan kantung ajaib dan sederet alat masa depan yang membuat anak kecil normal berharap meja belajarnya punya laci yang berisi mesin waktu. Sebut saja alat ajaib Doraemon. Pintu kemana saja, baling-baling bamboo, senter pembesar, pinsil otomatis untuk mengerjakan PR, bubuk penghilang, celana tarzan dan alat aneh dan mengagumkan lainnya.
Dari Doraemon, kecintaan saya terhadap komik pun bertambah. Menggila jika bisa dikatakan. Mama bahkan menyempatkan berburu komik ke pasar tanah abang dan senen untuk memuaskan kebutuhan membaca saya. Komik seperti Dragon Ball, Kungfu Boy, Hattori, Astro Boy, bahkan hingga komik cewek seperti Candy Candy menjadi keseharian saya. Tak puas dengan itu, saya pergi ke Toko Buku seperti Gramedia dan Gunung Agung sekedar untuk membaca komik. FYI, took buku tersebut ada di Mall yang untuk pergi kesana anak kelas 4 SD lainnya biasanya akan datang dengan orang tua. Tapi tidak dengan saya. Dengan berbekal uang 1000 rupiah hasil menahan jajan selama 5 hari sekolah. Uang yang hanya cukup untuk ongkos pulang balik. Saya menghabiskan satu hari minggu hanya demi membaca komik sambil berdiri. Satu hari artinya dimulai dari toko buka jam 10 pagi hingga tutup jam 7 malam. Bayangkan anak kecil dengan kaus dan celana pendek, naik angkot, berdiri dengan mata berbinar melihat kumpulan komik sembari menahan lapar dan haus hanya demi membaca serangkaian komik Dragon Ball. Yeaahh, I’m that freak . Setelah saya SMP dan SMU pun kebiasaan itu tidak berubah. Sekolah asrama yang saya jalani selama 6 tahun dengan peraturan ketat tidak menyurutkan kecintaan pada komik. Sering saya kabur dari asrama hanya untuk terbenam di surga komik. Bedanya kini bukan lagi Toko Buku tapi tempat penyewaan komik. Beberapa kali saya dihukum karena ketahuan kabur, tapi apa yang bisa menghentikan passion seseorang? Tidak ada rasanya.
Secinta-cintanya saya pada komik, ada beberapa komik yang saya tidak begitu suka. Komik amerika dan korea adalah jenis komik yang saya jauhi. Komik jepang adalah yang terbaik. Baru ketika SMU , saya tahu istilah untuk jenis komik itu. Manga (selanjutnya komik jepang akan disebut manga). Ada hal yang menarik tentang manga. Ternyata, manga pun ada berbagai jenis dan dari manga itu yang paling saya suka ialah manga dengan genre petualangan, heroic dan battle manga. Doraemon dan Dragon Ball adalah dua manga yang termasuk dalam genre tersebut. Ciri-ciri manga itu adalah jagoan, kegembiraan, perjuangan. Keistimewaan lainnya adalah hubungan personal antara beberapa pemerannya yang digambarkan sangat detil. Manga yang saya baca ketika SMU kebanyakan bercerita tentang bagaimana beberapa orang sahabat yang berjuang untuk menjadi terbaik dalam bidangnya. Bahkan beberapa dikemas dalam kerumitan dan kompleksitas cara alur cerita.
Secara tidak langsung, manga telah mempengaruhi cara berfikir dan kepribadian. Dari Doraemon, saya belajar tentang Nobita yang lemah dan tidak bisa apa-apa, malas sekaligus bodoh. Tapi Nobita pada beberapa kesempatan bisa menjadi yang terbaik karena kepolosan dan kemurnian perasaannya. Nobita juga beberapa kali diceritakan sebagai anak yang tidak pantang menyerah walau sudah tertekan dan pada akhirnya sukses dan berhasil. Disanalah saya belajar tentang keteguhan hati sekaligus kepolosan memandang kehidupan. Ketika SMP saya membaca Detective Conan yang bisa memecahkan permasalahan dengan ketelitian. Disanalah saya mengenal pentingnya attention to detail and multiple point of view. Alur cerita Detective Conan yang rumit juga mempengaruhi saya pada cara berfikir terhadap permasalahn yang kadang mudah tapi dipersulit demi membuatnya menarik. Manga juga yang mengajarkan pada saya arti persahabatan dan pasangan yang bisa mengerti keadaan orang terdekatnya hanya dengan beberapa kata atau perbuatan. Manga yang saya baca di SMU dan kuliah memberikan pelajaran lebih banyak, bahwa semua harus didapatkan dengan perjuangan dan kerja keras. Shoot dan Slam Dunk adalah beberapa manga yang mempengaruhi saya. There’s no such thing called free lunch. I believe on that since young.
Kesamaan semua manga tersebut ialah semuanya akan berakhir dengan happy ending. Jagoan yang berjuang dari dasar, berusaha keras, kecewa beberapa kali dan akhirnya menang. Tidak lupa heroine (pemeran wanita) yang menjadi pasangan sang jagoan. Alur cerita ini ribuan kali menghampiri. Pada akhirnya, semua sama. Utopia. Dunia yang sempurna. Dan itulah cara saya memandang dunia dan segenap permasalahannya. Bahwa sekarang ada kekecewaan, kekalahan, kegagalan, kejahatan, ketidaksesuaian, tidak masalah karena pada akhirnya akan ada utopia bagi jagoan bersama sahabat dan orang tercintanya.
Dan itulah yang selalu saya amini hingga kini. Ketika diremehkan oleh teman-teman karena fisik yang lemah, saya berusaha menjadi yang terbaik dengan berlatih lari lebih banyak dari yang lainnya. Ketika nilai Bahasa Inggris jeblok, saya belajar mati-matian dan menyelesaikannya dengan menjadi salah satu peraih nilai tertinggi di UAN. Saat partner kerja meremehkan kompetensi, saya berjuang untuk menjadi salah satu konsultan dan marketing terbaik. Inilah utopia saya. Dunia manga yang penuh dengan perjuangan, kekecewaan, kekalahan dan pada akhirnya muncul dengan kemenangan. Saya secara sadar menjalani kehidupan bahwa akan ada kegembiraan diakhir perjuangan, tinggal sejauh mana ketekunan, kerja keras dan kesabaran akan bertahan.
Kini setelah sekian puluh tahun berjalan, saya masih terbenam dalam utopia manga tersebut. Bisa dikatakan, manga memberikan saya pelajaran lebih banyak dari apapun di dunia ini karena pada akhirnya, apa yang saya kerjakan, lakukan dan dapatkan adalah hasil pembentukan karakter dari ribuan manga dengan utopianya.