Between What You Think and What You Do
Posted: Jumat, 16 Desember 2011 by Iqbal Fajar inAnd here I am folks, drunk with two bottle San Miguel nearby. Ini malam entah keberapa saya di meja yang sama. Dengan perasaan yang juga tidak jauh berbeda. Galau, kalau kata mereka. Penyebabnya juga masih sama, mantan yang masih saja menghantui pikiran. Ya, dia yang pernah bersama saya beberapa waktu belakangan. Dia yang menduakan, dia yang menolak untuk terbuka, dia yang dengan kata-kata “hunnie” nya, dia yang menolak untuk menjalani hubungan yang lebih serius demi perbaikan diri. Ya, dia yang beberapa waktu lalu saya sebut pasangan hidup dan ternyata membuang itu semua entah demi pikiran apa. Kami sama-sama keras hati dan egois. Kami yang tidak mau berusaha lebih jauh untuk mempertahankan apa yang kami percayai bisa dapatkan. Kami yang terlalu berpegang pada pendirian bodoh bernama harga diri.
Sayangnya kami, kita, kini sudah tidak ada lagi. Hanya ada saya dan dia. Saya dengan gila kerja dan bahagia, serta dia dengan kehidupannya yang menurutnya bisa lebih baik tanpa saya. Tapi saya dan dia memang sama. Aktor ulung dengan kemampuan menggunakan topeng bahagia. Saya dan dia yang bisa terlihat menjalani hidup dengan baik-baik saja. Dan kita memang expert dalam bidangnya. Tapi topeng tetap lah topeng. Tiada yang benar disana. Saya dan dia tetap berharap akan adanya keajaiban yang menyatukan kami menjadi kita kembali.
Itulah saya dan dia, dua manusia yang berharap menjadi kami, kita. Tapi itulah yang saya dan dia lakukan. Sebatas berharap. Ketika dia datang menawarkan proposal kita, saya dengan topeng baik-baik saja menolaknya. Begitupun dia yang merasa hanya cukup dengan sms dan YM belaka. Jika benar dia mencinta dan butuh, mengapa hanya datang dengan sms dan YM? Kenapa dia diam ketika saya datang tepat dimukanya dengan proposal untuk melangkah ke tingkat selanjutnya? Kenapa jika dia khilaf saat itu, hanya sms dan YM yang diajukannya? Mana perjuangannya untuk mendapatkan saya? Hanya sepenting itukah kita bagi dia? Sebatas sms dan YM lalu berharap semua terjadi dengan begitu saja seakan tidak ada apa-apa? Lalu kenapa dia tetap datang menawarkan perasaan dan harapan untuk kembali bersatunya kita?
Pun begitu dengan saya. Ketika dia menolak ajakan terakhir itu, saya memilih untuk melupakannya dan membuang jauh-jauh tentang dia. Bahkan berjanji untuk melupakannya selama sisa hidup. Lebih dari itu, saya berusaha melangkah maju dengan berkomitmen dengan orang lain. Dan lihatlah saya sekarang? Kembali berusaha percaya dan meninggalkan semua sumpah serapah yang dulu terucap. Berharap dia kembali di malam dan mimpi. Bolak balik mengaktivasi account FB demi melihat bagaimana kabarnya. Berharap dia melakukan hal lebih dari sekedar sms dan YM. Seburuk inikah pendirian untuk tetap menjauhkan dia dari kehidupan saya? Apakah saya memang sudah tidak bisa membuka hati lagi selain untuk dirinya?
Dan pada akhirnya semua pertanyaan itu tidak akan pernah bisa terjawab. Karena itulah sebatas yang saya dan dia lakukan. Berharap dan sms. Itulah memang harga saya dan dia di masing-masing pihak. Dia bagi saya hanya seseorang yang penting untuk diingat dan diharapkan, dan saya baginya hanya cukup dihadapi dengan sms dan YM. Dan inilah yang saya akan kerap kali lakukan. Bermimpi dan teringat padanya, pada tahapan tertentu maka berakhir dengan menulis tulisan bodoh sembari mabuk. Sementara dia akan tetap dengan sms dan YM nya yang kerap kali berkata tidak akan menghubungi lagi dan mungkin akan tetap mengingat saya sebagai kekasih sejatinya yang kelak, entah kapan, akan bersatu lagi dengannya. Mungkin akan benar adanya, mungkin juga tidak. Tidak ada yang tahu perasaan manusia. Saya mungkin akan bisa menjadi terbuka dan melangkah maju, dia mungkin akan menemukan pria lain yang menjadi pengganti posisi kekasih sejati dihatinya. Atau saya akan tetap dengan tidak bisa membuka hati dan menjalani hidup bodoh mempercepat kematian atau dia yang tetap berharap pada bersatunya kita walau entah kapan terjadi itu semua.
Satu hal yang pasti, saya dan dia akan tetap seperti ini selama kita adalah sebuah pikiran dan harapan. Result come from what you do, not what you think. As simple as it is…
Mungkinkah aku kembali di saat km sudah berkomitmen dengan seseorang?
Tidak, aku harus menghargai wanita itu.
Aku hanya memastikan bahwa rasa itu masih ada dan harapan itu masih akan mungkin terjadi, aku akan tunggu saat nya tiba sampai kamu sudah tidak bersama seseorang itu lagi.
Aku akan temui kamu setelah kamu sudah sendiri.
Aku masih akan di sini mencintai setulus hati menunggu mu dengan setia, karena "Kita" tidak akan lengkap jika tidak ada kamu.
Aku butuh kamu untuk menjadi "Kita"
With Love,
D