Empty Backpack

Posted: Kamis, 01 Juli 2010 by Iqbal Fajar in
2

Sebagian dari kita mungkin nyaman dengan perlindungan mobil mewah, menikmati indahnya pakaian branded, hangatnya keluarga atau manisnya persahabatan. Prototype sebagian besar warga metropolitan. Harus diakui, itulah mimpi ibukota negeri ini (juga sebagian besar warga kota lainnya). Kemakmuran, kemapanan, ketenangan, ekslusifitas dan segala atributnya. Tidak ada yang salah disana. Memang itu mimpi manusia.

Atau kita beralih ke yang lebih konservatif. Siapa yang tidak ingin pulang ke rumah yang nyaman dengan istri yang manis membukakan pintu, anak yang tertawa ceria serta bagi sebagian orang ketenangan dalam kehidupan. Bagi anak muda, bisa berbentuk teman yang menemani bercanda, sahabat yang bisa menjaga rahasia atau pasangan yang mengerti keadaan kita. Terlihat sempurna bukan? Walaupun mimpi itu sebagian besarnya adalah buah dari tontonan sinetron di layar televisi kita, harus diakui ambisi untuk hidup yang lebih baik ada di tiap-tiap raga kita.

Ambisi demi hidup yang lebih baik itu tanpa terasa merasuk di banyak sendi kehidupan. Kalau iman dan tekad masih kuat, ambisi hadir dalam bentuk positif. Kerja keras, pantang menyerah, rajin beribadah, integritas atau keteguhan hati. Bahayanya adalah ketika nafsu berkuasa. Muncullah penyakit negara ini, kemalasan, kebohongan, kecurangan, hingga yang paling konkrit : korupsi.

Tanpa sadar, semua ambisi menjadi tekanan. Tanpa sadar kita hidup dalam tuntutan. Tanpa sadar semua adalah pertarungan. Atas nama ambisi itu, energi kita banyak terbuang. Kelelahan karena sesuatu yang mungkin tidak seharusnya menjadi penghalang.

Saya ingin mencatut filosofi empty backpack dari Ryan Bingham di film Up In The Air. Bingham mengumpamakan dirikita dan ambisi dalam hidup sebagai sebuah tas dan isinya. Pada awalnya, tas kita kosong, hanya beban tas yang dirasakan. Kemudian kita mulai memasukkan banyak hal kedalamnya. Laptop, buku, meja kerja, orang terdekat kita, mobil, rumah kalau perlu seluruh kekayaan kita dimasukkan kesana.

Sekarang cobalah berjalan dengan tas anda. Berat bukan? Itulah kehidupan kita. Ketika lahir kita hanya membawa tas kosong. Semakin bertambah usia, pengalaman, kemapanan, maka semakin banyaklah ambisi yang kita masukkan ke tas kita. Hingga pada akhirnya, kita tidak mampu bergerak karena beratnya ambisi itu.

Sayangnya banyak orang tidak mengerti beratnya sebuah keinginan. Kita membebani diri dengan banyak hal tapi tidak menyadari bahwa sebuah tas ternyata juga punya batas. Entah itu kapasitasnya, kekuatannya dan paling penting ialah kemampuan manusianya.

Saya tidak meminta anda mengosongkan tas tersebut. Cukup pilih semampu anda, dan jangan biarkan isi tas anda dipenuhi oleh barang yang mungkin tidak terlalu penting sebenarnya. Masih banyak barang penting yang bisa diisi di tas anda. Sesuatu yang bisa anda temui dengan berjalan lebih jauh dari biasanya. Sesuatu yang bisa kita lakukan jika dan hanya jika tas kita tidak terlalu penuh dan menghambat perjalanan. Semoga kita tergolong manusia yang berjalan lebih jauh daripada manusia yang kelelahan memanggul tasnya.

2 comments:

  1. yuwey says:

    Well guys, this life isn't it?.. ketika lo bertambah usia makin banyak yang berharap sama lo, lo juga punya harapan untuk menjadi sesuatu... Check this song : dare you to move - switchfoot.. I've pasted sort of lyric..

    Welcome to the fallout
    Welcome to resistance
    The tension is here
    The tension is here
    Between who you are and who you could be
    Between how it is and how it should be

    ...

  1. yup,bener banget. tapi maksud gw tekanan tidak boleh menjadi penghambat. just enjoy the world :)