The Place I Call Home
Posted: Senin, 19 Juli 2010 by Iqbal Fajar inSebagian dari kita mungkin dianugrahi sedikit kelebihan dengan mempunyai rumah. Entah bentuknya bangunan bertingkat dengan luas tanah sebesar lapangan bola atau rumah kecil sederhana dengan furniture yang itu-itu saja. Bagaimanapun bentuknya, saya yakin rumah adalah tempat paling nyaman bagi anda. Tempat kita bisa merebahkan badan untuk sejenak melupakan masalah. Menghisap sedikit kenikmatan yang bernama ketenangan. Yah,, mungkin definisi rumah juga tidak bisa dipersempit dengan lapisan tembok yang ditutupi dengan atap sebagai peneduh. Rumah menurut saya bisa berwujud komunitas, kehangatan persaudaraan, kelembutan alam atau kenyamanan jalanan. Intinya, rumah ialah sesuatu yang bisa membuat kita lepas dari semua topeng-topeng yang membungkus keseharian kita.
Maka jika mengacu definisi tersebut, jalanan adalah rumah saya yang sesungguhnya karena di jalananlah saya menemukan hidup yang sebenarnya. Kesederhanaan, kekerabatan, kesombongan, kegilaan, ketenangan dan paling penting kesendirian. Jalanan menjadi tempat saya bersitirahat, bermain, bersukacita, menangis, tersenyum, berteriak, dan meratap. Tidak ada tempat yang memberikan sensasi itu lebih daripada jalanan.
Kenapa jalanan? Bukankah jalanan adalah media berkumpulnya kekerasan, ketamakan, kejahatan ? Itulah salahnya ketika kita melihat jalanan sebagai suatu bagian terpisah. Hanya melalui media-media dengan propaganda picisannya. Tentang tingginya pencopetan, maraknya pembunuhan, tunawisma yang bertebaran dan entah apalagi kata mereka. Percayalah, semua itu hanyalah sisi lain dari jalanan. Tahukah anda, bahwa di jalanan, di tempat semua kriminalitas itu berkumpul terdapat kebajikan yang terpendam? Jangan lihat dari tempat anda yang tinggi, dengan pakaian mahal dan handphone yang lux. Tanggalkan semua, berjalanlah dengan nurani, diatas kaki anda sendiri. Berjalanlah, resapi, pelajari dengan khidmat.
Anda akan temukan bahwa dibalik kesulitan seorang nenek tua yang merangkak, masih mau ia berbagi bekal makan siangnya. Diantara sulitnya pembeli, seorang pedagang tetap ikhlas berbagi. Mungkin tidak disetiap ujung kota kita temui kebaikan, tapi percayalah. Negeri ini belum habis kebaikannya. Mungkin keramahan itu langka disini, tapi bukan alasan kita melupakannya. Bukan karena jalanan adalah tempat yang sedemikian keras sehingga kita harus mencampakkannya.
Saya sendiri termasuk penggemar jalanan. Setiap meter, setiap langkah, memberi warna baru dalam kehidupan. Saya teringat masa kecil dulu ketika pulang sekolah adalah saat-saat paling menggembirakan karena berarti saya dan teman-teman akan berjalan kaki dari sekolah kami menuju rumah melewati pedesaan. Ingatan itu masih lekat kala kami bermain di gorong-gorong pipa, bergulingan di tanah merah, menyapa pak tua (saya lupa namanya) yang setia menjaga kebunnya. Dari pak tua itu pula kami belajar tentang mencabut ubi, bermain-main dengan kambingnya atau ikut terjun ke empang dimasa pengurasan.
Jalanan masa kecil itulah yang membentuk jiwa kesederhanaan dan social saya. Bandingkan dengan anak sekarang. Pulang sekolah langsung menunggu jemputan menuju rumah sembari sibuk dengan gadget mininya. Kalau bandel, bermain ke warnet atau mall. Terkungkung dalam lapisan-lapisan beton, berhadapan dengan grafis berbentuk pahlawan, tembak-tembakan atau sepakbola. Dengan itulah mereka tumbuh dan berkembang, dengan kepribadian persaingan, individualisme, kekerasan, dalam kecilnya bilik-bilik atau tanpa batasnya dunia maya. Disanalah mereka tumbuh dan belajar. Jangan heran jika karakteristiknya tidak jauh dari sikut-menyikut, soliter, ekslusivisme, dan rendahnya kesadaran.
Percayalah, ketika di jalanan bahkan seorang professor psikologi tidak dapat menjelaskan seluruh fenomena yang ada disana. Banyak sekali anomali-anomali yang terjadi. Seorang pemuda dengan dandanan lusuh dan gembelnya ternyata bisa berargumentasi dengan cerdas tentang buruknya pengelolaan negeri. Atau tukang ojek yang dengan semangat 45 menjelaskan keteraturan dan siklus macet secara sistematis serta ilmiah. Lain waktu seorang kernet berteori tentang best practice pembagian komisi.
Terlepas dari itu, jalanan juga teman cerita yang paling sabar. Dengannya saya bisa membuka semua kebohongan dan topeng yang dikenakan selama keseharian. Saya bisa memaki, mengutuk, menangis, berteriak, tertawa, menjadi gila tanpa ada yang protes. Di jalananlah saya bisa menulis, berpuisi, bersandiwara, merenung, mengkaji, dan mengerti. Saat yang paling saya rindukan dari jalanan adalah kala menyambanginya di tengah malam, menyusuri lenggangnya aspal, mengukur dengan tiap langkah sembari menikmati hembusan angin malam. Dan tanpa dipaksa, semua beban dan masalah terlebur dengan sempurna. Perfect moment.
Jalanan mungkin tidak seramah dan senyaman yang kita harapkan. Banyak kepentingan disana, banyak kebutuhan yang tidak terpenuhi dan mencari pemuasnya. tapi cobalah lebih merendah dan menyelami bahasa-bahasa mereka. Mungkin anda akan menemukan rumah baru serta menambatkan hati disana. Enjoy the road :)