Up in The Air

Posted: Selasa, 08 Juni 2010 by Iqbal Fajar in
0

Kadang saya merasa hidup saat ini sangat cocok dengan film Up in The Air, terlebih lagi dengan status saya sebagai penghuni apartemen seperti sekarang. Kamar luas hanya untuk saya, kehidupan pribadi yang ekslusif (walaupun tidak se ekslusif Bingham), dan kenyamanan pada suatu tempat nun jauh disana. Ketika sebagian orang pulang kerumah mereka akan disambut dengan anjing yang melompat, anak anak yang berisik, istri yang tersenyum, kemudian mereka pun tidur di kasur yang empuk. Berbeda dengan saya, hanya ditemani sofa yang sudah setengah jebol karena berat badan, segelas Chivas, sepiring kentang goreng, serta yang paling penting, kesunyian malam.

Bingham dalam Up in The Air adalah pria yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di jalan, pria dengan prinsip tidak ingin memiliki komitmen, tidak berfikir mengenai rencana masa depan (menikah, memiliki rumah, memiliki anak, melihat mereka tumbuh, getting older n then dead.), sangat nyaman dengan kesendirian nya yang tanpa teman dan sahabat. Hanya ditemani hotel, room service dan pastinya American Airlines yang mengantarkannya ke seluruh penjuru benua Amerika. The place that he call home.

Saya cuma menunggu saat yang tepat untuk menjadi Bingham. Pekerjaan saat ini belum memungkinan menjadi seorang Bingham. Autisme yang akut, workaholic, kecintaan pada kesendirian serta semua tanda lainnya yang secara jelas menunjukkan bahwa kehidupan seorang Bingham benar-benar saya lakukan (dalam skala kecil) saat ini.

Dan saya pun sadar akan konsekuensi dari semua kehidupan itu. Kesendirian. Sama seperti Bingham yang pada akhirnya mendapati kenyataan bahwa dia adalah pria kesepian yang hanya ditemani langit Amerika yang luas.

Kecewa? Tentu tidak. Ini adalah pilihan dan saya sudah berkomitmen untuk memegang pilihan ini hingga batas yang sejauh-jauhnya. Setidaknya hingga saya benar-benar merasa cukup dengan semua ini. Selama itu, yang saya akan menikmatinya. Till the last supper..

0 comments: