Atas Nama Keadilan

Posted: Rabu, 09 Juni 2010 by Iqbal Fajar in
0

“Hanya orang-orang yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan”

M.T. Zen, seorang sahabat Soe Hok-Gie


Quote dari buku Soe Hok-Gie… sekali lagi itu benar-benar membekas dihati. Di zaman yang penuh kebohongan, manipulasi, dan penghianatan ini, keadilan adalah barang mahal. Jangan tanyakan tentang contoh. Buka saja media cetak apapun hari ini. Paling tidak ada satu berita tentang keadilan yang terusik disana. Walaupun belum pula jelas siapa yang benar dan siapa yang salah atau malah tidak ada yang benar. Yang pasti penindasan sudah menjadi hal jamak di dunia ini. Pelakunya pun beragam. Bisa pribadi yang merasa kepentingan pribadi adalah segalanya, kelompok yang memperjuangkan kebebasan tanpa kontrolnya, atau negara yang berjuang demi tanah airnya yang sebenarnya tidak pernah ada. Atau mungkin saya yang selalu membuang puntung rokok sembarangan atau anda yang menggunakan fasilitas kantor demi kepentingan pribadi seperti membaca tulisan tidak jelas ini.

Keadilan adalah milik yang berkuasa. Frasa yang harus diamini dengan tawa masam karena itulah kenyataan yang kita lihat. Bagaimana mungkin seorang nenek yang mengambil beberapa butir semangka demi mengisi makan sehari-hari harus mendekam dalam penjara sedangkan pengusaha yang terang-terangan menghancurkan suatu kawasan dengan “bencana alamnya” dapat melenggang kangkung melaksanakan pernikahan putranya di salah satu hotel terbaik di Jakarta. Keadilan selalu buta dan merapat ke arah kekuasaan. Hukum alam yang tidak akan pernah berubah. Sadar karena hal itu pula, mascot dewi Themis dirupakan dengan timbangan di tangan serta mata yang tertutup. Sebuah pencitraan tentang hukum yang tidak akan pernah diketahui kebenarannya. Themis sendiri juga sebenarnya bukan dewi kebenaran yang sejati. Perlakuannya yang meminta kurban sebagai imbalan agar kapal Aghamemnon bisa berlayar ke Troya adalah suatu ketidakadilan.

Begitulah bentuk keadilan. Banyak orang yang memaki tentang lemahnya penegakan hukum, banyak orang yang berkeluh kesah tentang tidak adilnya keadaan, atau apatisme terhadap tegaknya kebenaran. Tapi sangat sedikit yang berani bergerak untuk meminta keadilannya. Sebagian besar dari kita hanya berani mengutuk dalam hati atau paling hebat memaki dengan ancaman pada polisi yang menilang dengan alasan tidak jelas. Sebagian besar memilih diam dan menawarkan selembar limapuluh ribuan demi menghindari sidang. Padahal, jika dalam jalur yang sebenarnya, kita cukup membayar 45 ribu untuk pasal sederhana atau bahkan beradu argument dengan alasan yang logis. Tapi kita terlalu malas memperjuangkan keadilan kita yang berharga 5000 rupiah itu. Kompromi pihak-pihak lemah terhadap pemaksaan ego kalangan kuat dengan alasan “daripada ribet..” Menyedihkan…

Sayangnya bangsa ini tidak pernah sadar kalau keadilan seharga 5000 rupiah itulah yang membuat kita tersungkur dalam keterbelakangan. Dengan dalih penyelamatan negara kita menerima bantuan dari IMF yang datang dengan kapal keruknya, dengan alasan stabilitas kita relakan kepentingan nasional dipermainkan dunia politik, dengan alasan menghemat dana kita terima barang bekas dari negara adidaya. Hingga akhirnya harga diri pun kita anggap pantas untuk dibeli dengan pertumbuhan ekonomi.

Maka benarlah quote yang dijadikan pembukaan tulisan ini, “Hanya orang-orang yang berani menuntut haknya, pantas diberikan keadilan”. Mereka yang berani memperjuangkan haknya pantas mendapat penghargaan karena mereka meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan keberanian untuk mendapatkan hal yang seharusnya mereka dapatkan. Bisa berupa uang 5000 rupiah, bisa berupa kenyamanan di lalu lintas, bisa berupa harga diri yang terkoyak, bisa berupa kebebasan terhadap ketertindasan. Pantaslah ketika pemberani yang menggugat tentang kedikatatoran Soekarno atau pelanggaran HAM Sang Smiling General, Soeharto mendapatkan keadilannya walaupun itu harus ditebus dengan pengorbanan yang tidak sedikit. Fisik, mental, bahkan nyawa. Begitupun dengan pengendara korban penipuan tilang, wanita korban pelecehan seksual, nenek yang berjuang demi makanan, ataupun korban ketidakadilan lainnya. Mereka berhak atas keadilan yang mereka yakini, keadilan yang mereka perjuangkan, keadilan yang mereka bayar dengan kelelahan, rasa sakit dan kekecewaan. Tidak ada jaminan keadilan itu akan didapatkan, tapi setidaknya mereka bisa memenangkan keadilan atas kebebasan dan harga diri mereka sendiri. Bagi saya, kebebasan itulah keadilan yang sejati dan layak untuk dipertahankan hingga tetes darah terakhir. Ketika itu dilakukan, maka layaklah kita bergabung dengan orang-orang besar lainnya yang gugur dan berjuang dalam memperjuangkan keadilan dan kemerdekaan atas dirinya sendiri.

0 comments: