A Time To Cry
Posted: Senin, 10 Mei 2010 by Iqbal Fajar inDan hari ini berlalu seperti hari-hari lainnya. Tetap dengan nongkrong di depan laptop, ngaskus gak jelas, mampir di loungenya kaskus, main main di SFTHnya kaskus, mengintip CCPBnya kaskus. Yup, semua tentang kaskus.us. the largest Indonesian forum. Tempat nongkrong menghabiskan waktu. Saya kosong. Tidak ada passion lagi. Atasan yang merasa anak buahnya kehilangan semangat pun tampaknya tetap tidak bisa mengerti. Mengoceh seharian tentang saya yang tidak juga beranjak mencari proyek. Bukannya tidak mau, tapi tidak bisa. Semua tools sudah terambil dari saya. Product Development yang seharusnya membantu saya menyusun konsep project tidak lagi diburi izin. Fokus ke Departemen lain katanya. Begitu pula fasilitas yang dulu ada. Bagi seorang marketing yang gagal mencari proyek, hukuman tidak langsungnya adalah ketidakpercayaan mengunakan fasilitas kantor.
Yah,, bagaimanapun juga seharusnya itu semua bukan halangan bagi saya. Diri ini tidak akan menyerah hanya karena kata-kata orang lain. Tapi jujur saja, masalahnya bukan di mereka atau apapun itu. Masalahnya ada di diri ini. Efek pembatalan proyek itu sangat berbekas. Saya benar-benar hancur. Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Tidak ada lagi letupan semangat yang dulu mewarnai hati ini. Saya kira dengan sedikit beristirahat dari rutinitas kantor diiringi dengan sedikit vodka dapat menyegarkan otak yang sudah terlanjur malas ini. Ternyata luka akibat kegagalan proyek begitu membekas. Mungkin ini karma karena saya. Kelakuan saya meninggalkan mantan sepertinya berbalik ke diri sendiri.
Entahlah, saya juga bingung hendak dibawa kemana hidup saya kedepannya. Saya hanya termangu di depan laptop. Walau sebenarnya banyak yang harus saya kerjakan. Tugas kuliah menumpuk, rencana bisnis juga sudah diberi target deadline, belum lagi mimpi-mimpi baru yang saya ingin capai. Semua berseliweran di otak saya. Tapi tidak ada satupun diantara hal-hal tersebut yang bisa membuat saya tergerak.
Saat ini hampir tidak ada lagi yang dapat dijadikan pegangan. Kehidupan spiritual pun sudah kacau. Jangan mengharapkan saya yang dulu sholat tepat waktu, Jumatan saja kadang terlupa. Rokok dan vodka sudah jadi teman sehari-hari. Belum lagi kelakuan bodoh lainnya. I’m desperate.
Saya tidak mengira efek project cancelation akan separah ini. Di depan orang lain saya berusaha kuat, tersenyum, tertawa. Bahkan pada pacar sendiri juga rekan kerja yang sudah saya anggap sahabat. Saya selalu menguatkan diri sendiri. Memberikan stimulus dan semangat ke diri sendiri. Cara yang selalu berhasil membawa saya keluar dari permasalahan selama ini. Tapi tampaknya cara itu tidak berhasil kali ini.
Saya jadi teringat pada beberapa permasalahan yang sempat membuat saya patah arang. Mulai dari dilecehkan oleh adik kelas di depan teman-teman ketika smp, hampir tidak naik kelas ketika sma, putus cinta pertama kali dari Nia, dimusuhi teman-teman se kampus karena idealisme dan kelakuan saya, hingga kegagalan proyek yang sama tahun lalu. Ya, seingat saya kejadian-kejadian itulah yang membuat saya terjatuh. Bebarapa bahkan membuat saya kehilangan harapan dan tujuan.
Entah apa yang salah dengan kejadian kali ini. Rasanya semua yang saya lakukan dulu untuk bangkit dari keterpurukan sudah saya lakukan. Bahkan dengan cara yang lebih baik. Sebut saja menyendiri, berfikir ulang, melakukan self encourage, bahkan hingga menentukan tujuan baru. Tapi kenapa cara-cara itu tidak berhasil untuk kasus ini??
Saya bingung.. Jujur saya bingung.
Sebenarnya ada satu hal yang belum saya lakukan. Menangis. Seingat saya, sejak saat vonis pembatalan proyek itu di jatuhkan, saya belum menangis sama sekali. Lebih tepatnya tidak bisa. Logika sudah terlalu mencengkram pikiran ini. Saya terlalu takut untuk menangis. Menumpahkan semua, menyalahkan semua. Membiarkan semua masalah itu terbuka lebar. Melepaskan semua penolakan dan alasan yang menghantui diri ini. Menghancurkan semua idealisme, mimpi, semangat, harapan, kenangan, pencapaian, kesuksesan serta semua belenggu yang membatasi hati ini.
Setelah itu, saya baru bisa mengais lagi serpihannya. Menata lagi bak puzzle yang imaji. Membentuknya lagi menjadi seuatu yang baru. Mimpi yang baru, idealisme yang baru, semangat yang baru, sesuatu yang baru. Sehingga saya sekali lagi bisa mencapai langkah baru.
Seharusnya itu yang saya lakukan. Tapi sayangnya menangis adalah hal terakhir yang belum dapat saya lakukan. Entah kapan, entah seperti apa, entah dalam bentuk apa. Saya tidak tahu. Satu hal yang pasti. Saya butuh menangis…