One Step
Posted: Selasa, 25 Mei 2010 by Iqbal Fajar inMalam itu saya terhenyak. Salah satu rekan yang pekerjaannya tidak jauh berbeda dengan saya, marketing, memberitahu tentang keberhasilannya mengundang meeting salah satu kliennya yang notabene juga klien saya. Kami berdua adalah teman kuliah yang bekerja pada dua institusi berbeda. Dia funding officer di sebuah bank sedangkan saya marketing di BUMN jasa survey dan konsultasi. Salah satu klien kami adalah teman kuliah yang kebetulan merupakan target pasar perusahaan masing-masing.
Alasan saya terhenyak ialah kabar yang disampaikannya bahwa dia baru saja meeting dengan teman kami itu sore tadi. Padahal dari kemarin saya sudah meminta waktunya untuk pertemuan dengan saya. Tanggapannya tidak cukup bagus, klien kami itu agak menjauh dari saya yang ditunjukkan dari sms dan telepon yang tidak dijawab. Kenyataan bahwa dia melakukan meeting dengan rekan saya memberikan banyak pertanyaan tentang efektivitas dan kemampuan saya melakukan pendekatan padanya.
Terlalu dangkal memang jika menilai kinerja dari kejadian malam itu. Tetapi jika saya mau jujur pada diri sendiri, kejadian malam itu menyadarkan saya tentang suatu hal. Saya mungkin tidak terlahir untuk dunia marketing. Sudah satu tahun setengah saya menjabat sebagai PIC untuk salah satu klien besar kami dan selama itu pula tidak ada satupun proyek yang dapat saya hasilkan. Sebagian besar hanya berakhir pada konsep tanpa realisasi. Bahkan proyek utama yang seharusnya tinggal melanjutkan dari tahun lalu juga tidak terealisasi di tangan saya.
Kecewa adalah hal yang pasti, tetapi keterpurukan itu sudah dapat saya lalui. Dan kejadian malam ini menjadi catatan khusus dalam rangkaian evaluasi saya. Selama masa menjabat itu, saya lebih banyak berpuas dan bersantai dengan adanya proyek utama tersebut tanpa mencari atau mengembangkan proyek pengganti. Maka ketika proyek utama itu terlepas dari tangan, yang bisa saya lakukan hanya meratap. Sikap introvert juga menjadi penyebab. Keenganan saya terhadap hal-hal baru membuat saya tidak produktif dalam melakukan hal paling utama dalam dunia marketing, heart share.
Sikap yang terlalu realistis juga membuat saya malas mengupayakan hal-hal yang sudah pasti tidak dapat dicapai. Bahasa lain dari kemalasan dan pesimistis. Kebiasaan yang terlalu reaktif dan over self confident membuat saya kurang dalam perencanaan serta kestabilan emosi. Sikap yang lagi lagi tidak mendukung dalam dunia marketing yang lekat dengan ketidakpastian dan naik turun keadaan. Saya lebih suka pada kenyamanan daripada terjebak dalam ketidakpastian.
Semua sifat itu sedikit banyak disebabkan oleh didikan keluarga dan lingkungan. Dibesarkan dalam keluarga konservatif yang sarat dengan norma dan aturan, membuat kreativitas tidak menjadi salah satu nilai tambah saya. Idealisme dan keteguhan jalan hidup yang ditularkan nyaris sempurna oleh Dosen-Dosen semasa kuliah menjadi pedang bermata dua. Disatu sisi, saya tumbuh sebagai manusia yang lurus dan teguh memegang prinsip, disisi lain saya terjebak dalam kesempitan pandangan dan sifat keras kepala.
Begitupun dalam pekerjaan saya. Proyek utama yang memang adalah buah dari idealisme dan mimpi semasa kuliah, menjadikan saya terlalu berfokus dan cenderung tidak menerima saran dari orang lain. Kerap kali saya menyalahkan rekan kerja atau klien yang tidak mengerti urgensi serta bagaimana pekerjaan ini harus dijalankan. Dalam pikiran saya yang naïf ini, semua pekerjaan adalah utopia yang harus sesuai keadaan dan keinginan. Maka yang ditakutkan itu pun terjadi. Proyek tujuan utama itu tidak jadi dilaksanakan.
Dalam malam-malam perenungan, saya menyadari satu hal. Ini bukan tentang keadaan, ini bukan tentang senioritas, ini bukan tentang ketiadaan dukungan, ini bukan tentang idealisme. Kegagalan ini adalah tentang kemalasan, tentang sifat mudah menyerah, tentang ketertutupan, tentang ketakutan pada perubahan. Keberhasilan teman saya dalam menggait hati klien adalah buah dari ketekunan menelpon klien hampir tiap hari, keberhasilan atasan mencapai jabatannya ialah akibat dari seringnya bertemu klien, dan rangkaian kesuksesan lainnya yang semua berasal dari kerja keras. Ini yang kurang dari saya.
Kini, setelah rangkaian cobaan dan masalah itu, saya sekali lagi mendapat pelajaran. Kini, saatnya berubah dan bangkit. Masih banyak yang harus dikerjakan. Dan malam itu saya selangkah lagi menatap masa depan.