Tautan Maya

Posted: Minggu, 05 Juni 2022 by InvalidUser in
0

Menjadi kecewa kita pada kata
Yang memberi harap akan tautan

Dan telah berjuang kita untuk rasa
Dengan mimpi akan terbangun saling menggenggam

Tak mampu kita menerima fakta
Bahwa dia memang bukan tambatan

Sabda kita padanya tentang rela
Walau sadar hanya kias demi pelipur diri

Sudahlah wahai anda yang tak tahu posisi
Tautan mu bukan padanya
Kita hanya kata yang tak akan bersua kecuali dalam maya

Dansa Kata, Rasa, dan Cinta

Posted: Sabtu, 14 Mei 2022 by InvalidUser in
0

Berdansa kita dalam kata
Memberi makna pada rasa
Yang bermula dari maya
Tanpa harap, tanpa angan

Namun hati punya cara
Untuk berdansa walau tak ada alurnya


Ya! kita sudah terbuka
Ya! kita puas bertukar cerita
Ya! kita larut bertukar rasa

Maka angan pun menjadi harap
Untuk lalu dihempas realita
Dalam nama trauma dan norma

Kini sudah lelah kita berdansa
Karena nyata kita ada di dua realita
Dan topeng kembali di muka
Agar raga tak lagi terjebak asa
Tentang mimpi akan kata yang berdansa menjelma cinta

Membasuh dalam Sepi

Posted: Minggu, 19 Desember 2021 by InvalidUser in
0

Membasuh kita dalam sepi
Yang tidak terisi oleh hangat sapa
Hanya kita tersenyum tipis merajuk
Pada harap tentang balasan kata

Namun kini kecewa kita
Karena kata hanyalah angan
Sebab nada ingin berjalan di dalam pikirnya
Tanpa kita disana. 
Hanya ada tala yang sibuk entah dimana

Ya, memang hanya perlu kita disini saja
Menulis kata sembari berharap pikir ini sampai pada pikirnya 

A letter about dissapointment

Posted: Rabu, 17 November 2021 by Iqbal Fajar in
0

Chat malam itu jadi penutup semuanya. Aku sudah bilang tidak akan balas chat mu lagi. Tapi ada beberapa hal yang harus dipertegas. Pikiran ini tidak bisa puas sebelum isinya tercurahkan. So lets begin my unsent messages..

Pertama soal kamu yang insecure dan gak bisa komunikasi perasaanmu ke aku. This is so fucking stupid. Kamu bilang insecure dengan kata kata ku. Bahkan kamu sampai nangis ketika aku di balkon. Dari alasan kamu insecure aja aku udah gak tahu harus ngomong apa lagi. Kamu insecure sama kata kata ku yang kamu artikan sendiri dan udah ku klarifikasi maksudnya apa. Dan kamu masih bilang insecure karena kata kata ku? Sudah jelas maksudnya bukan seperti yang kamu pikirkan tapi tetap kamu gak mau terima alasannya. Dan setelah dijelaskan pun kamu malah diam dan gak mau komunikasi sama sekali. Terus salah kalau aku menyingkir??? Ingat kan sebelumnya kejadian juga dan aku menyingkir lalu aku datengin kamu lagi buat minta maaf dan bahas supaya jangan jadi pikiran kamu terus. FYI ya, saat pertama itu aku bener bener harus menahan marah dan sakit hati karena tangan ku ditepak kamu. Bahkan pas pertama itu ketika aku sudah jelaskan kondisiku yang marah dan aku sudah minta maaf. Tapi gak ada satu pun kata kata kamu minta maaf. So, ketika kejadian kedua kalinya, untuk masalah yang sama dan kesalahpahaman yang sama, yang aku kira sudah selesai dibahas di pertama, wajar gak sih aku marah dan memilih diam serta tidak mau bahas duluan? Buat kalimat kamu yang gak bisa komunikasi perasaan kamu ke aku. Ok, aku bisa ngerti ini. Tapi perlukah kamu tinggikan ego dan malah point out hal yang kamu gak senang dari aku, which is aku gak bilang terima kasih sama sekali. Dari semua yang kulakukan hari itu, hanya kata tidak bilang terima kasih yang jadi fokus kamu. Gak ada hal baik yang dibahas. Gak ada yang diingat. Seakan akan aku adalah orang jahat yang tidak tahu cara perlakukan kamu dengan baik. Dan FYI ya, ini bukan sekali kamu serang aku dengan tuduhan seperti itu. Hampir setiap kali kita berantem, selalu diawali dengan kamu bilang hal hal buruk yang kulakukan. Kayaknya selalu ada yang salah dari apa yang kuucapkan atau kulakukan. Aku tahu itu nyakitin kamu. Tapi pernah kah kamu mempertimbangkan hal hal baik yang sudah kulakukan? pernahkah kamu mulai diskusi ketika kita berantem dengan menyatakan hal hal baik yang sudah kita lalui bareng? No. You never did that. Kamu hanya akan mulai bahas hal hal positif yang sudah kulakukan setelah kamu puas bilang hal hal negatif tentang ku dan nunjukin kesalahan kesalahanku (yang kadang itu hanya ada di asumsi atau pikiran kamu aja). Let me tell you one thing, THAT FUCKING HURT!!! Kamu selalu bilang sakit hati, insecure, gak mood, dan marah karena kata kata ku. Tapi pernah kah kamu tanya dampaknya kata kata kamu ke aku? pernah tanya gimana perasaanku dengan kata kata tuduhan dan asumsi kamu itu? Sangat tidak pentingkah keberadaan ku sehingga apa yang kurasakan tidak perlu kamu pertimbangkan? Atau itu memang cara kamu buat nyakitin hati ku karena aku juga udah bilang kata dan kalimat yang menurut kamu bikin gak mood? I dont know and dont care anymore.

Kedua soal kecewa kamu yang disakitin hatinya sama aku gara gara semua perlakuanku. Let me remind you one secret that i already told you. I do have my own trauma! Aku trauma mencintai orang terlalu dalam dan akhirnya kecewa karena pasangan ku tidak bisa ada disaat lowest point ku. And that exactly what happened that day. Tapi gak usah cerita itu dulu. Karena kamu udah buat aku trauma sebelumnya tapi aku gak kasih tahu. Now let me tell you that story first, for the courtesy of your so called story by your last chat. Inget berantem kita sebelum hari itu? yang aku sendiri udah lupa marahnya apa karena sanking banyaknya kata kata ku yang dijadikan bahan gak mood atau marah kamu. Malam itu aku chat panjang lebar soal trauma ku dan berharap kamu bakal empati dan ngerti kondisi lowest point ku. Dan ingat balasan kamu apa setelah panjang aku cerita? "Ok, aku minta maaf". Thats it. That one fucking line. No emphaty at all and no more reply or consolation. Dan setelah itu, kamu chat selayaknya kita tidak ada masalah. At that time, i tried to understand that this is chat. And its ok in your case to just gave simple answer. Pada saat itu aku mikir, ya udah lah. at least dia minta maaf. Mungkin emang kamu gak bisa bales apa apa lagi. Mungkin lagi sibuk, dan segenap alasan lainnya untuk menerima satu line chat simple kamu itu. Mungkin nanti kalau kita ada masalah pas ketemu akan saling support dan mau ngertiin. Mungkin dan mungkin dan berbagai skenario mungkin lainnya. And guess what? It didn't happened! Buktinya ketika aku udah dateng ke kamu minta maaf dan berusaha clear kan masalah untuk yang pertama kalinya di hari itu, kamu gak ada keluar kata maaf sedikit pun. Bahkan aku harus setengah memohon supaya kamu gak bete walaupun pada saat itu aku lagi kondisi marah dan lowest point karena ngerasa gak dibutuhkan oleh kamu. Dan gak lama, kejadian kedua terjadi lagi. Out of nowhere you snapped dan tiba tiba gak mood. And thats my third lowest point. And where were you? and what did you do? berdasarkan cerita kamu, ketika aku di luar, kamu nangis dan sengaja nangis sendiri karena gak mau terlihat lemah di hadapan orang lain. Guess what? I'm just another person that doesnt deserve a chance to even see you opened up your true feelings! I just some persons that doesnt deserve to be put as a priority to as simple as understand your feelings. You think I'll feel sorry knowing you crying alone when I'm outside? No, i'm angry! because that validate my theory about me just being another persons. A person that cannot be considered as significant one that deserve to understand your true feeling by directly told face to face. You told me your feeling after my last chat, by chatting! Imagine that. Someone you hold dear, you care so much, you love so much, had to understand your true feeling by chat. After huge fight. Not by directly face to face. You can tell me that day. But you chose not to. You chose to keep quiet, keep it for your self, express it by "not in the mood", and want to go home alone. Oh, and thats not the best part. You think i'm okay after you left? I told you another secret. I cried, scream in silence, hurting my self, and trying to understand what i've done so wrong so i deserve this kind of treatment by the one person I called significant one, my girlfriend that i love so much. 

Dan ini yang ketiga. Kamu bilang aku sukses buat kamu hancur, insecure, dan break your mental jauh lebih baik daripada orang orang yang pernah dekat atau mampir di kehidupan kamu. Now you need to know this. You did the same to me. I already opened my deepest trauma to you. And you replicate the trauma so perfectly.. Awal dari trauma ku adalah mantan ku yang selalu punya cara buat being egois with her feeling, blaming me for doing various mistakes, and lure me with those ego so I will keep getting back to her even she already messed up with my feelings multiple times. Setiap kali ada masalah, harus aku yang inisitif buat clear the air dan asking how we can solve the problem. And you just like her.. Kamu yang sensitif soal kata kata ku yang buat kamu insecure walau aku udah jelasin bukan itu maksudnya, kamu yang gak mood tapi gak mau cerita apa apa, kamu yang jawab gak tahu ketika aku tanya harus lakukan apa, kamu yang menyalahkan aku atas kata kata ku tanpa mikir kata kata kamu juga nyakitin aku, kamu yang gak anggap semua hal positif yang kulakukan dan hanya fokus pada apa yang salah dari kata atau tindakan ku, kamu yang memilih diam dan fokus sama kerjaan tanpa mau berusaha reach out ke aku, kamu yang memilih pulang duluan tanpa menyelesaikan masalah, kamu yang gak mau dianterin pulang, kamu yang left me behind dan bikin aku merasa sebagai orang paling tidak dibutuhkan dan tidak ada harganya, kamu yang kecewa karena aku gak bilang terima kasih, kamu yang baru cerita semua perasaan kamu ketika semua sudah terlambat, kamu yang bilang "YOU ARE DOING A GOOD JOB" karena berhasil ruin mental kamu... 

And this is my last point. Thanks for making me trust you with my trauma. Thanks to let me able to love someone, after years denied it.  Just only to see the trust and love, tossed away like trash. Unwanted and insignificant.  YOU ARE DOING A GOOD JOB AS WELL. 

Sincerely,

Your disappointed EX-significant one

Tentang Rani

Posted: Senin, 20 September 2021 by Iqbal Fajar in
0

Berbicara Si Laras dalam maya
Tentang kecewanya 
Tentang bersalah dirinya
Tentang asumsinya

Tak mau dengar si Nada pada fakta
Bahwa Ia berharga
Bahwa Ia bukan wanita biasa
Bahwa Ia bertempat di hati ini

Maka kini dengarlah wahai Tala
Kau adalah gempita di hati
Kau pengisi kosong dalam sunyi
Kau selalu punya tahta di imaji

Jangan lagi salahkan pribadi mu, Rani. 
Karena kau wanita yang hampir kuberikan hati

Hanya aku yang terlalu takut pada realita dan memilih hidup dalam imaji

Tentang Laras, Nada, Tala

Posted: Sabtu, 11 September 2021 by Iqbal Fajar in
0

Terjaga lagi aku di malam
Mencoba cari makna tentang rasa
Berusaha berdamai dalam gundah

Wahai engkau yang tidak kutahu nama penuhnya
Sang dara yang hampir kulupa parasnya
Si wanita yang berbinar matanya

Mulai lupa aku tentang mu  
Berkelibatan memori tentang kita
Yang bertemu sebanyak dua
Yang terpisah dalam maya

Tapi mengapa rasa tetap ada?
Nyaman tanganmu masih teresap di indra
Tawa mu kembali merona dalam renungan
Cerdasmu datang menjejak tak mau hilang

Kucoba kubur ingatan dalam logika
Hanya kecewa yang hadir di kepala
Tetap terjaga dalam malam yang temaram
Sembari memaki diri mengapa buang semua  

Dan kini hanya bisa aku termangu
Sembari membasuh rasa dengan sesal 
Yang tak tahu kapan akan sirna

Bersalah Si Manusia

Posted: Jumat, 03 September 2021 by Iqbal Fajar in
0

Bersalah lagi engkau manusia
Karena bodohmu yang tidak terkira
Pikirmu mampu menahan rasa
Yang dapat dikelola tanpa bermain cinta

Percaya engkau pada mimpi di dunia maya
Pada dia yang kau pikir bisa tahu makna
Padahal hanya kata hatinya yang tertera

Salah sekali nampaknya
Berharap pada dia yang hanya bersua sebanyak dua
Karena tidak penting baginya makna
Hanya rangkai huruf yang ingin dilihatnya

Kapan kau belajar manusia?
Bahwa tidak ada yang paham hatimu
Karena lembaran beribu yang kau bangun disana
Malas mereka kupas satu persatu
Tak penting kau baginya
Hanya manusia biasa kau di matanya

Maka bangun dari anganmu
Masih ada perang lain yang perlu kau tuju

Cerita tentang Matahari

Posted: Senin, 20 Juli 2020 by Iqbal Fajar in
0

Ini adalah kisah tentang bodohnya seorang manusia

Percaya Ia pada wanita tak bermakna
Yang coba cari arti dari sebuah cinta
Yang ragukan kisah singkat penuh warnanya
Dengan berjumpa tuk cerita, si wanita pun berkisah
Bahwa telah hilang makna cintanya
Maka butuh Ia seorang manusia untuk membakar hatinya

Dan seorang manusia terperdaya

Terperdaya manusia pada canda
Terbuka hatinya pada wanita
Terlupa manusia pada kata rahasia
Yang harusnya dijaga hanya untuk dirinya

Tak mengapa, kata manusia
Hanya bahagia yang kita cari
Toh hanya kata tanpa makna
Sekedar bersantap bersama dalam tawa
Atau sentuhan ringan penghela debar

Lupa manusia bahwa cinta berawal dari kata
Dari terbuka cinta meresap ke jiwa

Maka ketika wanita terhalang oleh tanda
Bimbang manusia akan jujur dari kata
Terhalau dia oleh hati yang terlanjur terbuka

Kini tiada lagi percaya di manusia
Hanya debar yang terus menggelora
Pada dunia maya yang memporakporanda

Jawab Debar tentang Tanya

Posted: Kamis, 16 Juli 2020 by Iqbal Fajar in
0

Kau tanya aku tentang jawab
Salahkan aku karena terjaga
Caci aku karena tanpa makna

Coba lihat dalam otakmu itu wahai manusia!

Apa inginmu ku tak kuasa mengatur
Jika tidak tahu jawaban jangan paksa untuk terukur
Karena kata, jawab, atau makna adalah kuasamu
Bukan aku

Tanya pada Debar

Posted: by Iqbal Fajar in
0

Wahai debar, mengapa engkau datang lagi?
Dengan makna yang kini tak terlihat di pelupuk mata

Entah karena gelisah mu pada dunia
Atau pada dia yang tak juga kunjung kau tahu siapa
Hanya diam otak mu yang tahu jawabnya

Wahai debar, beri aku tanya yang ada jawabnya
Lelah ini serasa tak ada obatnya

Beda rasa ini terjaga
Malam yang tanpa guna
Penuh pikir terlanglang buana
Harap pada mimpi yang entah apa bisa terlaksana

Ah, kenapa kau kembali debar?

Tentang Rindu pada Menulis

Posted: Kamis, 13 Oktober 2016 by Iqbal Fajar in
0

Well,,

Sudah lama sekali rasanya tidak menulis di blog ini. Hampir 2 tahun sudah ditinggalkan. Tertelan dalam rutinitas pekerjaan, kesibukan personal dan kehidupan berkeluarga. Sebenarnya sudah beberapa kali saya menyambangi blog ini. Hanya sekedar untuk melihat kembali tulisan lama atau sekilas melihat kembali masa lalu.

Dan kini saya kembali lagi.

Alasan utama mengapa saya mencoba menulis lagi di blog ini sederhana saja. Ada banyak hal telah bergerak dari jalur harapan dan rencana. Dan seperti biasa. Saya galau dan kesepian. Lagi.

Lucu ya. Blog ini dulu dimulai dari kesepian dan kegalauan saya. Berhenti karena sepi dan galau hilang. Lalu kembali terisi karena hal yang tak jauh berbeda. Bedanya konteks dari sepi dan galau itu sendiri.

Jika dulu sepi dan galau terdefinisi dalam bentuk sebenar-benarnya, tapi kini sepi dan galau terdefinisi dalam bentuk yang berbeda.

Dulu galau lebih banyak karena percintaan atau sekedar keresahan sosial terhadap fenomena disekitar saya. Kini galau adalah rindu saya pada kejujuran terhadap berkata-kata dalam makna. Dengan lingkup pekerjaan, imaji, kata, analogi, dan frasa adalah objek terlarang. Saya harus menjelaskan segala sesuatu dengan makna sejelas-jelasnya. Tanpa ambiguitas dan tanpa makna tersirat. Padahal bahasa saya sejak dahulu memang selalu bersayap. Itu mengapa saya cinta puisi. Galau juga kini berubah makna nya. Jika dulu saya bisa menulis seenak udel dalam kosakata dan kejujuran cerita, kini atas nama pekerjaan dan profesionalitas, saya harus memaksa memilih untaian kalimat agar sesuai dengan kebutuhan klien. Akhirnya saya terbiasa berkata sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Kemampuan itu memang sangat berguna di pekerjaan. Tapi menghasilkan kegalauan luar biasa. Saya rindu berkata-kata dalam jujurnya analogi, liarnya imajinasi dan masa bodohnya pendapat orang lain.

Lain cerita dengan sepi. Jika dulu makna sepi adalah karena tidak ada entitas lain yang menemani, teman bercerita ketika galau tiba atau sekedar tempat pencurahan rasa sayang. Tapi kini sepi tidak lagi bermakna sama. Sepi kini adalah kerinduan pada kesendirian itu sendiri. Rindu pada nikmatnya kesendirian di malam hari, kangen pada masa-masa introspeksi diri, dan juga rindu terhadap ke egoisan menghadapi dunia. Dengan status saat ini, kesendirian adalah barang berharga. Tapi sendiri versi saat ini tidak hanya terbatas pada kebutuhan sendiri secara fisik saja. Kini sendiri juga hadir dalam bentuk berbeda. Fisik bisa saja tidak bersama. Tapi pikiran saya sulit menyendiri. Sulit menjadi egois lagi, teramat susah untuk menyenangkan diri sendiri dan hampir mustahil memusatkan pikiran hanya untuk sekedar kosong, tanpa berfikir apa-apa. Selalu saja ada hal yang harus dipikirkan dan sedihnya, itu bukan untuk diri saya sendiri.

Dan kini saya sudah mencapai batasnya. Galau dan sepi definisi baru ini sudah begitu memuncak sehingga memaksa saya untuk menulis lagi. Karena jika tidak, hidup saya akan tambah sia-sia. Meratapi mengapa kini galau dan sepi definisi baru itu hadir lagi dan kapan hilangnya.

Dan seperti saat saya pertama kali menulis blog ini, harapannya akan tiba di suatu masa dimana galau dan sepi definisi baru ini terhenti karena saya sudah menemukan obatnya. Entah apa solusinya dan kapan selesainya. Well, I just need to write anyway. And hopefully, this will trigger me to be a better person.

Lets start.

Onward,

Faithfully Me

Thinker

Posted: Selasa, 28 Juli 2015 by Iqbal Fajar in
0

Being thinker is perks as well as flaw. 

Inilah gift sekaligus curse. Being thinker is the best perks that I always feel grateful all the time. Karena gift ini pula saya berhasil survive dalam kehidupan, mendapatkan pencapaian yang tidak pernah diduga dan berkesempatan melakukan banyak hal.

But as I said earlier. It's also my flaw. Menjadi thinker artinya mengerti sesuatu atau berusaha mengerti dengan berbagai macam aspek, pola pikir, perspektif dan sudut pandang. Menjadi thinker artinya mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan, merencanakan sesuatu yang belum terjadi, mencoba mengerti sesuatu tanpa batasan, mencari jawaban atas pertanyaan sepele atau sekedar penasaran dengan anomali tidak penting.

Padahal, tidak semua harus terjawab, tidak semua prioritas, tidak semua perlu dilihat dari berbagai pandang dan tidak seluruhnya harus dipersiapkan dengan detail. Dunia dipenuhi dengan segala ketidakpastian yang membuatnya menjadi menarik. Mencari jawaban untuk segala irregularities perlu dilakukan, tapi tidak semua harus terjawab. Ketika satu hal tidak sesuai harapan, mungkin saja memang itulah jawabannya. Sebuah kebetulan mungkin saja membawa pada pencerahan dan kebahagiaan. Tidak semua harus ada alasannya. Kita hanya perlu menjalaninya dan menikmati hidup.

Tapi tidak dengan saya (dan mungkin thinker-thinker lainnya). Selalu harus ada penjelasan, harus ada persiapan, harus ada perspektif lain, harus ada jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan bodoh yang tidak penting. Kenapa rasa makanannya tidak pas padahal sudah sesuai resep, kenapa desain rokok harus kotak, kenapa orang-orang rela berjam-jam di jalan demi mudik, kenapa target peserta tidak tercapai padahal harga sudah murah, kenapa setting grinder fine malah menyebabkan kopi bitter, kenapa setelah diskusi yang menyenangkan dia malah menghindar, kenapa dan kenapa dan kenapa lainnya.

Belum lagi bentuk pertanyaan bagaimana, apabila, seharusnya, sebaiknya, seperti apa, yang dipadukan dengan topik-topik remeh lainnya. 

Being thinker is exhausting. 

Dan puncaknya adalah 1 minggu sebelum ini. Saya menghabiskan waktu berpikir dan berasumsi hingga bermalam-malam. Berusaha mencari jawaban atas pertanyaan, fakta, kejadian, kasus dan keadaan yang terjadi. Tanpa tidur, tanpa istirahat selayaknya dan tanpa kesadaran akan setumpuk tanggung jawab...

Dan flaw overthinking ini diperparah dengan kemalasan yang entah kenapa enggan beranjak. Setelah semua pikiran tersebut, saya masih saja malas untuk bergerak mencari jawabannya. Hanya mengandalkan otak dan asumsi, saya berusaha menekan pikiran-pikiran tersebut. Mengalihkannya dengan kegiatan lain yang tidak memberi jawaban. Main game, browsing, merokok, membuat kopi, berjalan tanpa arahan dan berusaha tidur.

Tapi selayaknya thinker, pikiran saya tidak akan terpuaskan jika jawaban belum tercapai. Dan usaha untuk mengalihkan pikiran tersebut hanya berujung pada tambahan topik lainnya untuk dipikirkan.

And here we are. 

Jam 5.32 pagi, setelah 2 cup double espresso, segelas kopi, setengah bungkus rokok, berjam-jam mendengarkan lagu, main game, dan mata yang terus terjaga. 

Hufftt,, I need rest.. mind and body...

 

   

Rindu

Posted: Rabu, 04 September 2013 by Iqbal Fajar in
0

Rindu aku pada angin
Yang menerjang, tegas, tak bertulang

Dalam hening dentuman nada
Serta adrenalin yang membuka mata

Rindu aku pada cengkrama
Tentang spontan dan tanpa aba-aba
Tiada wajah yang selamatkan atau malu yang bertuan

Rindu aku pada tawa 
Berlepasan tanpa henti
Hanya tertahan oleh waktu pagi

Rindu aku pada tangis
Menetas tiba-tiba
Menyeruak dalam bising keteraturan


Wahai diriku yang dahulu
Kemana engkau tersimpan?
Apakah sudah nikmat kursi empukmu itu?
Atau terang sudah malam sendirimu?
Hingga kau lupakan bahwa hidup sejatinya adalah bergembira?

Akar

Posted: Senin, 02 September 2013 by Iqbal Fajar in
0

Sudah lama rasanya saya tidak menulis. Walaupun definisi menulis sedikit dipertanyakan. Ya, definisi menulis ini ialah menulis di blog pribadi. Bercerita tentang perasaan, pengalaman, kejadian dan romansa kehidupan. Menulis tetap saya lakukan tetapi dalam bentuk berbeda. Lebih banyak berupa artikel atau pekerjaan. Proposal, presentasi, makalah, hingga tulisan ilmiah.

Tapi hampir tidak ada yang berupa tulisan curahan hati seperti biasanya. Ini aneh. Setidaknya bagi individu pengeluh dan maniak curhat seperti saya. Tidak ada puisi, curhatan, pendapat pribadi atau sekedar kejadian bodoh sebagai tulisan. Alasan tidak ada waktu juga bukan bentuk yang tepat. Pekerjaan memang banyak tetapi masih cukup untuk dikendalikan. Ide juga bukan hambatan. Selalu ada kejadian lucu atau menarik untuk diceritakan.

Lalu apa alasannya? Well, simpel saja sebenarnya. Saya mendapatkan saluran curhat baru. Ada media untuk bercerita yang lebih mudah, cepat dan pastinya, bisa memberikan komentar secara cepat.

Yup, saya sudah memiliki pasangan. Dia yang selalu tersenyum dan tertawa lucu. Bertingkah selayaknya anak kecil sembari menyembunyikan kedewasaan dan kemandiriannya. Karena wanita itulah saya menjadi lebih manusia lagi. Lebih menjadi mahluk social yang sebagian besar hidupnya dihabiskan dengan berinteraksi dengan sesama mahluk social, bukan laptop atau note yang hanya satu arah. Bukan pula menjadi individu autis yang melihat dari satu perspektif saja, pendapat pribadi.

Jujur, ini pedang bermata dua. Satu sisi sangat bagus karena saya bisa jadi manusia normal lagi. Sisi lain yang mungkin berbahaya ialah menurunnya kreativitas menulis karena kurang latihan. Saya menjadi kurang peka dalam menyalurkan ide dan pendapat. Menjadi kurang kritis dalam menyikapi permasalahan hingga kebingungan memilih diksi yang tepat untuk ekspresi perasaan.


Tapi sejujurnya, sisi buruk itu adalah sesuatu yang saya terima. Pengalaman menjadi manusia social yang sepenuhnya berkembang, berinteraksi, berdiskusi, mengerti, bertoleransi dan mencintai manusia lainnya, adalah pengalaman yang tidak akan saya tukar dengan apapun juga. Lagipula, menulis adalah darah, passion, kebanggaan dan nyawa saya. Sebesar apapun alasan yang menahannya, saya akan tetap menulis. Karena menulis adalah akar saya yang paling utama. Sesuatu yang tidak akan hilang walau apapun yang terjadi. 

Catatan 27

Posted: Jumat, 14 Juni 2013 by Iqbal Fajar in
0

Ini mungkin catatan renungan paling cepat yang pernah saya buat. Biasanya, saya membuat catatan setelah kejadian berlangsung, bahkan sering kali hingga berbulan bulan setelah kejadian tersebut. Seperti biasa, menulis adalah salah satu media tempat saya mencatat perjalanan kehidupan. Peristiwa yang akan datang beberapa jam lagi ini sebenarnya bukan hal yang saya anggap terlalu penting. Tetapi memang layak sebagai ditulis mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya.


 So, ada apa sebenarnya? Mungkin itu yang anda pikirkan ketika membaca artikel tidak penting ini. Dari judulnya, beberapa sudah bisa menebak. Catatan 27. Angka yang saya sendiri sudah tidak sadar telah berhasil dilalui. 27 adalah angka yang menarik. Ada banyak mimpi ketika angka tersebut tercapai. Sangat banyak keinginan yang terucap ketika akhirnya momen ini tiba. Terlalu banyak juga yang datang tanpa terpikir.

27 adalah umur saya beberapa jam lagi. Cukup banyak ya? Angka yang menyadarkan saya bahwa ada banyak hal yang sudah terjadi selama ini. 10 tahun sudah berselang sejak angka 17 menghampiri dan saya merasakan dinginnya air Sukabumi karena tradisi pelemparan ke kolam di masa SMA. Atau ketika angka 20 dimana saya merasakan dinginnya udara Bandung. Tentu jangan lupakan angka 24 dimana kesendirian menjadi teman setia di kegelapan malam. Dan pastinya angka 26 yang hangat bersama keluarga besar.

Masih banyak angka lain yang punya arti dalam kehidupan. Saya tidak begitu mengingatnya. Jujur, saya sendiri bukan pecinta ultah, milad, birthday atau apapun istilahnya. Bagi saya, itu semua hanya titik, momen yang menandakan usia semakin berkurang. Alasan mengapa momen ini menjadi penting ialah karena saya terbiasa melihat kebelakang dan melakukan evaluasi atas pencapaian dan mimpi-mimpi yang masih harus dikejar.

Dan disinilah saya sekarang, berkejaran dengan waktu untuk menyelesaikan artikel ini sebelum jam berdetak ke angka 12 dan resmilah saya menyandang status umur 27.

Apa yang sudah terjadi satu tahun belakangan?

Hmm,, terlalu banyak yang terjadi. Tapi ada beberapa momen yang tidak akan terlupakan. And here they are…

Gagal menikah adalah momen yang pertama terlintas. Rasanya malam itu tetap belum bisa terlupakan. Ketika semua harapan dan keyakinan akhirnya harus runtuh dihadapan kenyataan. Saya sudah membahas beberapa kali tentang kronologis dan alasan mengapa momen tersebut terjadi. Kini, setelah hampir satu tahun, saya sudah berhasil hidup dengan lebih baik walau terkadang masih teringat momen itu.

Peristiwa yang juga melekat kuat adalah ketika saya menjalin hubungan dengan 2 orang wanita, tentu dalam waktu yang berbeda. Yang menarik dari hubungan dengan kedua wanita tersebut adalah persentase keberhasilan hubungan secara jangka panjang. Hampir nol besar. Tapi saya tetap memaksa dan percaya. Seperti yang sudah diduga, hubungan tersebut memang gagal tapi bukan tanpa pelajaran. Dari mereka saya belajar tentang ketulusan, kekuatan untuk percaya pada mimpi, bertindak dan sedikit berkata serta paling utama, ketulusan. Apapun tanggapan mereka pada saya saat ini, selalu ada tempat khusus di memori bagi mereka.

Jogja kembali menorehkan tinta khusus di kehidupan. Kali ini untuk kedua kalinya saya menyambangi Jogja dan jalur Selatan dalam single touring. Menapaki jalan yang dilalui 2 tahun lalu sangat menyenangkan. Bernostalgia dengan tikungan dan tanjakan, kedinginan di tengah malam, berhadapan dengan teriknya jalanan, menikmati keberhasilan di sudut Malioboro, terbenam sendirian dalam keramaian malam, kopi joss dengan arang menyalanya, dawet alami di pinggiran sawah serta kelelahan yang menyegarkan. Semua asa dan beban serasa hilang ditelan angin. Jalanan selalu menginspirasi dan menenangkan.

Tahun baru juga menarik. Baru kali itu saya merasakan nikmatnya kembang api bersama teman-teman lama yang menjadi dekat tiba-tiba. Berangkulan diatap kostan, mengucap mimpi dan janji diterangi oleh kiltan kembang api yang menerangi malam. Ya, itu adalah malam tahun baru terbaik saya hingga saat ini.

Wisuda S2 adalah momen yang unik. Menjadi menarik karena saya selalu berharap akan sampai pada masa dimana studi ini terselesaikan tetapi perasaan ketika wisuda selesai sangat berbeda dengan saat S1. Tidak ada after party, adik kelas yang menyambut, foto-foto kegembiraan, kesyahduan ruang wisuda serta euphoria lain yang muncul di masa sarjana. Semua rasanya terlalu biasa dan hambar.

Karier professional adalah bagian yang saya tidak sangka akan masuk dalam tulisan ini. Setelah merasakan kegalauan luar biasa untuk segera pindah ke level selanjutnya, saya berhasil berdamai dengan kesibukan project dan kepercayaan yang mulai tercurah dari atasan. Ketika semua itu menenangkan kegalauan, tiba-tiba saja tawaran untuk tanggung jawab yang lebih besar datang. Awalnya saya menolak dengan beberapa alasan. Namun kemudian kenyataan dan fakta membuka mata saya. Ada dunia diluar sana. Batas yang harus dilewati untuk mencapai tingkatan yang jauh lebih tinggi. Maka tawaran itupun diterima. Genap 2 minggu saya secara resmi berpindah pekerjaan dan merintis mimpi lainnya.

Tapi semua peristiwa tersebut tidak sebanding dengan momen utama yang terjadi menjelang angka 27 menghampiri saya. Mimpi terbesar kembali hadir dengan bentuk yang paling sempurna. Wanita yang saya harapkan selalu berada di sisi hingga akhir nanti telah tiba. Dia, sang wanita yang pernah hadir sesaat dalam kehidupan, terpisah karena keputusan, menjalani masa yang tidak terpikirkan untuk kemudian kembali hadir dalam sosok berbeda.

Dia, yang bertransformasi dari pendiam dengan poni menutupi dahi menjadi wanita percaya diri serta 3 B (BB, belah tengah, behel) khas ibukota. Dia yang saat itu sedang bersama orang lain dan berkata sudah melupakan momen singkat 2 tahun lalu itu. Entah apa yang terjadi padanya. Tapi malam itu di Seven Eleven Tebet, saya melihat sosok berbeda. Dan saya hanya bisa terpana. Terdiam sambil berpikir, “Is she the same person as before??”

Malam itu adalah permulaan dari mimpi yang kembali menyala. Impian tentang berkeluarga dan hidup bersama dalam kebahagiaan. Mimpi yang sudah saya lupakan sejak kegagalan menikah sebelumnya. Kini, saya bisa mengakhiri tulisan ini dengan penuh senyum. Senyum yang akan saya ingat apapun yang terjadi kedepannya. Karena pada akhirnya kita semua hidup dalam momen saat ini. Bukan masa lalu, bukan pula masa depan. Saat ini, jam ini, detik ini. Dan sekali lagi saya bisa berkata dengan lantang bahwa, saya tersenyum lebar saat ini. Saat dimana angka 27 akan segera hadir di kehidupan.

Lelah Cinta

Posted: Selasa, 09 April 2013 by Iqbal Fajar in
0


Berteriaklah wahai sunyi
Kabarkan pada terang cerita mu
Biar mereka sadar akan tangis ini
Yang tertahan tanpa mengalir

Kita adalah si bodoh yang terlena
Pada setiap kesalahan yang berulang
Akan keterbukaan yang menghancurkan
Dan dia yang tetap belum bergerak dari lalunya

Wahai Cinta !
Mengapa kau berkelakar selalu?
Belum bosankah sakiti hati?
Hingga kapan kau ingin terbagi?

Lelah sudah kita mengejar cinta
Kapan cinta datang tanpa dipinta?

Pagi Sunyi

Posted: Jumat, 29 Maret 2013 by Iqbal Fajar in
0


Tebaran abu melayang
Tertiup angin, dia menghilang
Walau sudah bosan dalam gelap
Tetap menghamba pada setitik sinar
Yang berikan harapan akan kegembiraan

Kita adalah nyawa yang terus bertahan
Bergantung pada mimpi tentang kebersamaan
Pagi ini kita tetap terdiam dalam sunyi

Alone

Posted: by Iqbal Fajar in
0


Its kind of funny. I tend to forget how its feel to be alone for couple months. And still when those feelings come across, I still don’t manage to handle it in good way.

Kesibukan pekerjaan dan beberapa hal lainnya membuat saya melupakan sejenak rasa kesepian. On going project yang membuat frustasi, kenyamanan berinteraksi dengan passion, individu-individu yang datang silih berganti, transisi ke pekerjaan selanjutnya adalah alasan mengapa hidup menjadi sangat menyenangkan beberapa waktu kebelakang.

Walaupun harus diakui saya sedikit kehilangan waktu privasi, khususnya untuk menulis. Pekerjaan adalah anugrah sekaligus beban yang harus ditanggung. Saya hampir tidak punya waktu luang untuk sekedar menulis puisi atau menceritakan pengalaman. And that’s a big problem for me. Menulis adalah media relaksasi paling diandalkan dan teruji. Melalui tulisan saya bisa mengungkapkan keluh kesah, mencaci maki, memuji, merenung, belajar dari kesalahan, menemukan fokus serta paling penting tetap menjaga semangat untuk maju. Maka ketika waktu menulis harus digadaikan dengan pekerjaan, quality time dengan orang terdekat, istirahat panjang sebagai dampak kelelahan, saya tetap tidak nyaman dengan semua ini.

Alasan lain mengapa saya berhenti menulis belakangan ini ialah karena adanya muara baru untuk bercerita. Ada beberapa orang yang mendekat di keseharian. Mereka dengan sabarnya mendengar keluh kesah bodoh saya yang terkadang tidak seharusnya dibagikan begitu saja. Dari mereka juga saya diingatkan kembali bahwa hidup bukan sekedar bekerja dan menjalani keseharian. Hanya sekedar melewati hari untuk kembali pada rutinitas lainnya.

Terlepas dari kenyamanan tersebut, saya tetap sendiri. Tanpa komitmen tanpa kepastian. Sedekat apapun mereka hadir, pada akhirnya saya sampai juga di saat ini. Masa ketika kamar menjadi kosong, waktu santai datang, dan kesepian merayap pelan. Pagi itu saya terbangun hanya untuk sadar bahwa kamar apartemen tetap kosong. Hanya ada gelap, udara pengap, keringat yang mengucur, mimpi buruk yang kembali datang dan tentu saja kesunyian yang menyakitkan. Subuh itu juga yang mengingatkan saya akan masa-masa ketika hingar bingar dan kegembiraan berganti dengan kekecewaaan dan kesepian. Pada akhirnya, rokok, kopi, dan lagu adalah rekan yang tetap setia.

Saya tidak tahu berapa lama lagi kesepian ini akan bertahan. I’ve taken too much damage. And the way I handle it is not helping me to fix it. Maybe all this loneliness is simply made by me. Maybe its me that refuse to be close to others. Maybe its just the way I know to handle problems. Keep alone and rely on myself. Or maybe its just God’s way to preparing me for the best moment that yet to come. Because, even after all those frustrating moment, I never lost hope in finding someone that will erasing this loneliness.  

A Note about Passion

Posted: Senin, 04 Maret 2013 by Iqbal Fajar in
0


Bekerja dengan kebanggaan. Mungkin itu anugrah terbesar yang dapat saya dapatkan saat ini. Melakukan sesuatu yang disukai, melakukannya dengan penuh tanggung jawab serta menghasilkan karya yang dengan bangga menaruh nama diatasnya. Sign with Proud. Tidak banyak dari rekan dan kenalan yang dapat mencicipi perasaan ini. To be frankly, it’s really nice. Melakukan sesuatu bukan karena mengejar uang atau jabatan. Hanya demi aktualisasi diri.

Saya memulai pekerjaan ini sejak 1,5 tahun yang lalu. Tapi waktu yang singkat ini telah memberikan banyak kegembiraan dan kepuasan lebih dari 4 tahun masa professional saya. Bermula dari seorang project coordinator yang berkutat dengan survey dan laporan, saya mendapat kesempatan melihat dunia lebih besar dari sisi manajemen dan marketing. Promosi dari atasan yang sejak awal tidak disangka, membawa saya pada dunia marketing.

Awalnya saya cukup yakin berada di profesi tersebut. Kemampuan komunikasi dan karakter sanguine yang diturunkan oleh ayah, membuat karier melejit cepat. Tentu saja ada banyak kenikmatan disana. Fasilitas, jaringan, power serta kebanggaan sebagai talent dari sebuah korporasi besar. Walau akhirnya saya memutuskan mundur, karier saya selanjutnya juga tidak jauh dari dunia marketing dan sales. 3 tahun total dihabiskan dalam profesi tersebut dan saya tidak merasakan kepuasan yang selalu dicari.

Semua atribut yang awalnya sangat menarik perlahan menjadi semu. Hanya menyisakan kekosongan. Marketing bukan jalur karier saya. Bukan panggilan hidup yang akan dikejar hingga akhir. Bukan sesuatu yang akan mengisi malam-malam dengan semangat untuk menciptakan karya terbaik.

Passion saya yang sesungguhnya adalah belajar, mencari tahu lebih banyak, mengerti lebih dalam, mendapatkan jawaban, mengungkapkannya dalam lisan dan tulisan, berbagi dan menciptakan sesuatu yang akan bertahan lama, membantu mereka yang kesulitan untuk kemudian melihat karya dan keberhasilan orang lain sebagai legacy. Marketing sayangnya bukan jalur yang cocok untuk passion tersebut.

Dan datanglah kesempatan itu. Konsultan, pekerjaan yang disebut sebagai the ultimate career of professional. Tidak hanya sekedar bekerja, profesi ini mempertemukan saya dengan seorang luar biasa yang mengajarkan tentang professionalism, attention to detail, perfectionism, serta paling penting, disiplin. Dari beliau pula, saya mengerti lebih jauh tentang passion dan bagaimana hal sederhana tersebut dapat mengubah cara seseorang memandang dunia dan memberikan respon terhadap tantangan-tantangannya.

Profesi ini memberikan saya kesempatan belajar sekaligus mengubahnya menjadi masterpiece. Membantu pihak lain mencapai tujuannya dan mendapatkan bayaran untuk itu. Mengatur diri sendiri untuk disiplin dan disaat yang sama menikmati waktu untuk menemukan saat-saat terbaik mengaktualisasikan diri.

Banyak dari kita yang memandang pekerjaan, karier, dan tugas hanya sebagai sebuah aktivitas rutin yang harus dilewati. Percayalah, saya pernah mengalami hal tersebut. Tidak ada yang menyenangkan dan menyedihkan dari kondisi tersebut. Datang tepat waktu, mengerjakan tugas dengan seadanya, melakukan perintah atau arahan yang tidak sesuai nurani, terbelunggu oleh sistem, lelah karena apresiasi yang tidak didengar dan pada akhirnya menjadi skeptis terhadap keadaan. Hanya menjalani pekerjaan hanya sebagai kewajiban atas nama bertahan hidup.

Saya tidak mengatakan hidup sebagai karyawan atan pekerja profesional sebagai sesuatu yang buruk. Melakukan wirausaha dan hanya menjalaninya sekedar beraktivitas juga bisa menjadi kejenuhan baru. Saya pernah memiliki rekan yang keluar dari pekerjaannya dan memilih untuk berbisnis rumah makan. Dia melakukan investasi besar dengan membeli peralatan masak dan makan, menyewa ruko, membeli furniture dan melakukan dekorasi besar-besaran. Konsep rumah makannya menarik dan masakannya juga tergolong enak, tetapi beberapa tahun kemudian dia menutup rumah makan itu dan kembali ke pekerjaan lamanya. Ketika saya bertanya mengapa dia berhenti, jawabannya adalah karena bisnis tidak semenarik yang dibayangkan. Dia justru tidak punya waktu untuk beristirahat, keuntungan yang naik turun, serta rasa nyaman yang selalu ditemukan di pekerjaan.

Gerber dalam buku fenomenalnya, E Myth, mengatakan bahwa sebagian besar entrepreneur bekerja dalam bisnisnya (work in the business). Mereka menciptakan sistem, melakukan pekerjaannya, menyusun strategi dan melakukan investasi demi ekspansi. Nyatanya, terlalu banyak entrepreneur yang kecewa karena harapan akan kebebasan financial dan waktu yang tidak terpenuhi. Mereka terjebak dalam rutinitas, kerumitan, intrik, persaingan serta laba yang tidak sesuai harapan. Mereka memilih berbisnis tetapi tetap bekerja dengan mindset seorang karyawan. Melakukan segala sesuatu atas nama uang dan atribut tambahan lainnya.

Seorang pebisnis seharusnya bekerja diatas bisnisnya (work on the business), bukan dalam bisnis (work in the business). Diatas dan didalam adalah dua hal yang sangat berbeda. Bekerja diatas bisnis berarti memandang bisnis sebagai suatu karya, pencapaian dan aktualisasi diri sehingga apapun yang dikerjakan dalam bisnis, tujuannya bukan mendapatkan memuaskan pelanggan keuntungan atau bahkan mendapatkan keuntungan. Bekerja diatas bisnis berarti bekerja semaksimal mungkin untuk memberikan karya, produk, hasil terbaik. Keuntungan, kepuasan, pelanggan, kesuksesan adalah atribut yang akan datang sebagai kompensasi dari penciptaan tertinggi.

Menariknya, konsep ini tidak hanya berlaku bagi bisnis tetapi juga bagi karyawan, professional, bahkan profesi seperti musisi sekalipun. Salah seorang adik kelas saya menjalani konsep ini dengan sempurna. Dia adalah mahasiswa salah satu institut kesenian di Jogja. Demi mengejar kecintaannya pada bass dan musik, dia meninggalkan kuliahnya di Universitas negeri di daerah yang sama. Awalnya orang tuanya tidak setuju, tetapi dia meyakinkan mereka bahwa jurusan yang diambil tersebut bukan passion nya. Kalaupun lulus dia hanya akan menjadi professional biasa dengan karier rata-rata dan hidup yang membosankan. Setelah debat panjang, akhirnya orang tuanya mengizinkan dan dia pun menjalani hidup sebagai seorang seniman musik.

Tapi bukan itu yang membuat saya tertarik dengan kisahnya. Sebagai pemusik, dia jauh lebih disiplin dan berdedikasi daripada professional seperti saya. Minimal 12 jam dia habiskan untuk berlatih bass. Bangun tidur dia langsung berlatih hingga waktu kuliah dimulai. Malam hari mulai dari jam 7 hingga jam 3 pagi, gitar bass tidak pernah lepas dari tangannya. Bahkan sanking kerasnya berlatih, dia pernah tidak sadar kalau tangannya berdarah dan mengganggu petikan bass. Hebatnya, dia hanya mengambil perban, membersihkan darah dan luka untuk kemudian berlatih lagi. Perkataan yang sangat diingat darinya adalah, “Kak, gw kayak gini cuma karena bass udah jadi jalan hidup. Sukses, terkenal, kaya itu cuma hasil akhir aja. Tanpa itupun gw akan tetap latihan bass dan main musik”

Salahkah berharap kaya, terkenal, memiliki power dan atribut lainnya? Tentu tidak. Tetapi apakah dengan atribut itu kita bisa puas? Jawabannya tidak. Gaji misalnya. Apakah gaji 10 juta besar? Jika iya, mengapa banyak orang yang keluar dari pekerjaannya ketika ditawarkan gaji yang lebih besar? 10 juta mungkin kurang banyak bagi Anda. Bagaimana dengan 100 juta? Sudah cukup besar? Kalau iya jawabannya, apakah Anda yakin tidak akan pindah jika ada rekan yang menawarkan gaji 200 juta? Gaji, kekuasaan, jabatan, fasilitas adalah hygiene factor, sesuatu yang akan terus berubah, dan tidak pernah dapat terpuaskan.

Mudahnya, hygiene factor seperti mobil yang diberi pemberat. Mobil adalah Anda dan pemberat adalah hygiene factor nya. Apa yang terjadi jika mobil berjalan dengan pemberat? Tentu kecepatannya akan berkurang. Apa yang terjadi ketika pemberat dilepaskan? Mobil akan berjalan dengan lebih kencang tetapi hanya sekencang kecepatan maksimal mobil tersebut. Bagaimana jika mobil tersebut diberikan turbo? Walau seberat apapun beban yang ada di mobil, selama kekuatan turbo lebih besar dari berat beban, maka mobil akan melaju lebih cepat dari kecepatan maksimalnya. Anda tentu sudah tahu apa yang saya maksud sebagi turbo. Itulah yang disebut sebagai passion, kebanggaan akan pekerjaan, aktualisasi diri, penciptaan masterpiece dan semua yang saya ceritakan di awal tulisan ini.

In the end it’s all about mindset. The little things that change the way you see the world and of course, change the way you live it. Be passionate, be proud, whatever you do. And you’ll see that fame, glory, wealth and those attribute simply a product of masterpiece that you made.   

Debar

Posted: Senin, 18 Februari 2013 by Iqbal Fajar in
0


Hilang sudah dia
Tapi mengapa tetap berdebar?

Tatkala sosok berjalan kosong
Entah hendak kemana tujuan
Aku hanya menduga
Tanpa menyapa atau bertanya

Kau hanya lalu yang coba dikubur
Semua rasa kini hanya semu

Tapi mengapa berdebar?

Walau diam selalu jadi bahasa
Dan marah akan tetap membara
Serta sendiri yang dijadikan pilihan
Atas nama ketakutan dan penyerahan

Tapi mengapa tetap berdebar?

Wahai engkau yang berpiyama merah
Mohon berikan jawaban