Semangat
Posted: Minggu, 02 Desember 2012 by Iqbal Fajar in
0
Pernahkah anda merasa sangat bersemangat. Detak jantung seakan ingin
berlari. Kaki yang terus menghentak, tangan yang terus menerus bergerak,
melakukan apa saja untuk menyalurkan adrenalin yang terpompa kencang. Pikiran
tidak bisa berhenti, berpikir sangat cepat, ide dan keinginan berlompatan
meminta dipenuhi. Waktu terasa sangat singkat dan semua orang, lingkungan dan
dunia bergerak terlalu lambat bagi anda. Semua rasanya tidak cukup dan yang
anda inginkan hanyalah lebih banyak waktu, tubuh yang tak kenal lelah, enrgi
yang terus tersedia, serta mata yang terus terbuka.
Saya sendiri tidak tahu istilah apa yang cocok untuk keadaan itu. Ada
yang menyebutnya sebagai trance, overload
adrenaline, fokus, passion, ADD,
atau apalah itu. Saya benar-benar tidak tahu dan tidak mau tahu. Tapi yang
penting adalah keadaan itu sangat menyenangkan. Berada dalam situasi itu
membuat monotansi kehidupan, keharusan berhenti, bertoleransi atas keadaan
orang lain, beristirahat karena alasan kelelahan atau sekedar menikmati
ketenangan, menjadi tidak perlu diperdulikan lagi. Semua menjadi tidak penting.
Yang penting ialah terus mengalirkan energy meluap itu pada sesuatu. Dan jika
bisa mengatasinya, energy itu akan bertransformasi dalam karya, hasil
pekerjaan, tulisan, pencapaian-pencapaian besar yang mungkin baru bisa
diselesaikan setelah berapa waktu lamanya.
Sayangnya, keadaan itu tidak datang dengan jadwal yang pasti. Dia
absurd, seperti juga namanya. Datang entah kapan, tak terjadwal lama tinggalnya,
lalu menghilang begitu saja menyisakan kelelahan yang tidak terkira. Kadang dia
datang ketika berbicara dengan seseorang, mendengarkan musik, dalam letupan
ditengah rutinitas membosankan, atau dalam tidur lelap di malam buta. Dia hadir
berupa ide, gagasan yang melompat, keluar tidak tertahankan. Kaki yang tidak
mau berhenti, tangan yang terus menulis, lompatan bodoh ditengah keramaian,
atau bahkan di masa keheningan.
Saya tidak tahu dan sungguh tidak mau tahu apa, bagaimana, seperti apa
bentuknya, berapa lama dia hadir, kapan dia selesai, atau apa dampak yang
dihasilkannya. Yang saya tahu ketika trance
atau apapun namanya itu datang, saya harus menyalurkannya. Berhenti, berpikir
dan berusaha memperlambatnya adalah cara yang salah untuk menyambutnya. Dia
harus keluar, menikmati indahnya dunia dengan semua kecepatan dan
ketidaksabarannya. Dia berhak untuk bebas, mencari bentuk diri yang tertahan
entah untuk berapa lama. Saya adalah medianya, perantara yang memiliki
tugas untuk memastikan dia puas.
Dan saat ini saya sedang menjamunya. Mungkin yang paling lama yang
pernah dia datang. Hampir 1 minggu keadaan ini hadir. Sejujurnya, keadaan ini
sering terjadi. Saya punya sedikit kecenderungan hiperaktif. Setidaknya itu
kata dokter yang menguji saya. Itupun baru saya ketahui beberapa tahun yang
lalu ketika dirawat di sebuah RS swasta internasional. Yah, setidaknya itu jadi
jawaban kenapa selama ini saya selalu berbicara terlalu cepat. Guru psikologi
di SMA pernah berkata, kecepatan berbicara saya dikarenakan pikiran saya yang bergerak
lebih cepat dari pada kemampuan mulut menterjemahkannya dalam bentuk suara,
kata, kalimat. Itu juga jawaban kenapa saya tidak mau berhenti dan selalu tidak
sabar. Kelebihan energy kata orang tua.
Well, whatever. I don’t really
care bout’ that. I enjoy and love it.
Yang menarik ialah jangka waktu keadaan itu hadir. Biasanya, dia hanya
datang dalam hitungan jam. Atau paling lama hari. Tapi jarang sekali dia hadir
selama ini. Terakhir kali dia datang dan selama ini ialah beberapa tahun yang
lalu. Dan itu juga jadi jawaban mengapa saya merasakan hal yang sama. Simple.
Saya akan melakukan kegiatan yang tidak jauh berbeda dengan beberapa tahun yang
lalu. Dan seperti sudah diduga, efeknya sudah hadir sejak jauh-jauh hari.
Muncul dalam gairah yang membuncah, pergerakan yang tidak mau melambat,
metabolism yang menuntut banyak energy, serta pastinya pikiran yang penuh oleh
segala macam hal, mulai dari yang sepele hingga yang paling penting. Semua
berpacu melupakan prioritas.
Saat ini saya hampir tidak bisa mengendalikan keadaan yang terjadi.
Tidak ada lagi pertimbangan, analisis logika, ketakutan akan akibat, kekhawatiran
atas dampak, semua rasanya tidak bisa terkontrol. Dan itu berbahaya. Sangat
berbahaya. Apalagi dengan semua tanggung jawab yang masih ada di depan. Semua
yang harus diselesaikan sebelum masa itu tiba.
Untuk itulah tindakan preventif harus dilakukan. Saya pun berusaha tidur
lebih cepat, melambatkan diri, melelahkan tubuh, mengurangi asupan energy. Tapi
tampaknya itu tidak juga berhasil. Buktinya dengan keadaan yang lemas seperti
ini saya juga masih berkutat dengan rokok dan kopi menulis cerita yang entah
untuk apa tujuannya. Saya juga mencoba menekannya keluar sesedikit mungkin
dengan mendengarkan lagu santai, menonton komedi, berbaring di kasur yang
nyaman. Semua demi menjaga agar semangat itu tidak kehabisan nafas ketika
saatnya diperlukan.
Yup, this is marathon. Not a
sprint. Masa itu masih
beberapa waktu lagi hadir. Saya harus jeli menghemat energy positif ini hingga
saat-saat terakhir itu tiba. Masa dimana hanya optimisme dan kepercayaan akan
mimpi itu datang. Ketika semua keadaan menjadi tidak dapat diperhitungkan. Saat
waktu berjalan terlalu lama dan semua kebosanan melanda. Ketika hitungan detik,
bahkan kurang dari itu, dapat menyelamatkan dari kematian. Di masa itu, saya
memerlukan semua energy dan semangat yang saat ini berloncatan minta keluar.
Maka ketika masa itu tiba. Semua rasa, semangat, optimisme, debaran
jantung, adrenalin, totalitas fokus, tangan yang tidak mau berhenti, mulut yang
akan terus berteriak dan mata yang akan selalu terjaga dapat menemukan
muaranya, menghilang bersama jalanan, kecepatan, derasnya angin dan keindahan
alam. Untuk kemudian menggantikan diri dengan kegembiraan pencapaian, yang
melekat, tersimpan rapi, berbekas dalam memori. Kekal. Abadi.
And for now, my friend, lets ease
your pace a lil bit. We will go there and your feast will be fulfilled. Till
the day, please slow down and enjoy the time. Till the day that will come
forth…