Titik Mula

Posted: Selasa, 05 Oktober 2010 by Iqbal Fajar in
1

“Mencintai adalah resiko, hanya orang yang berani dan bertanggung jawab yang dapat melakukannya.”

Menjadi manusia artinya berinteraksi dengan dunia. Itulah anugrah dan kodrat yang diberikan pada kita. Dan cinta adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah tahapan menjadi manusia. Itulah mengapa saya berusaha untuk menjadi manusia yang seutuhnya dengan berusaha mengenal cinta. Walaupun sifat dasar egois, cuek, masa bodoh dan semua istilah lainnya tentang pencinta kesendirian adalah rintangan yang harus saya tekan dalam-dalam.

Pada akhirnya saya memang bisa mencintai seseorang. Dia yang saya bisa mempercayainya untuk berbagi kesendirian, kesedihan, tawa, kemarahan hingga ketakutan. Dan pada beberapa waktu saya bisa mencintainya dengan cinta yang tulus dan murni. Cinta adalah sebuah hubungan timbal balik antara dua orang manusia. Hubungan yang terjadi akibat dari sebuah kepercayaan, pengorbanan, dan akhirnya dilengkapi dengan sebuah kasih sayang tulus. Hasil dari perkawinan tiga hal penting itu ialah cinta yang murni tanpa alasan dan penyerahan terhadap ketidakberdayaan. Itulah cinta yang sesungguhnya.

Saya, entah untuk keberapakalinya, terbukti bukan mahluk yang bisa menekuni itu dengan baik dan benar. Cinta saya masih mengharapkan balasan dari pasangan. Pengharapan terhadap persamaan persepsi, pemahaman terhadap istilah dan akhirnya permohonan terhadap penghormatan. Jelas bukan bentuk cinta yang sebenarnya. Hanya cinta tak sempurna yang masih berusaha menemukan bentuknya.

Itulah keadaan yang terjadi saat ini. Ketika keputusan untuk berpisah terlontar diantara kami, saya masih berharap bahwa dengan memberikan perhatian, persahabatan dan kasih sayang akan ada balasan berupa pengkoreksian atas keputusan tersebut. Nyatanya saya tidak mendapatkan itu semua, terlepas dari saya yang mungkin memang tidak bisa menangkap sinyal itu..

Dan ketika pengharapan itu berujung pada ketidakpuasan, saya pun berusaha lari dan mengalihkan semua. Mencoba menjadi pria baik hati dengan topeng manisnya yang mencintai tanpa berharap apapun. Topeng cinta sejati. Ternyata saya memang tidak bisa mencintainya secara penuh, tidak bisa mencintainya dengan cinta yang sejati karena topeng tetaplah topeng hingga kapanpun.

Jika saya tidak bisa berharap lagi maka lebih baik menghapus semua kenangan tentangnya. Pilihan paling masuk akal bagi otak logis ini. Dan keputusan itulah yang terlontar. Egoisme ini memang pada akhirnya memenangi semua perdebatan. Lebih baik menyelamatkan diri sendiri daripada mengharapkan sesuatu yang tidak jelas. Ini adalah pilihan yang terbaik, solusi dengan resiko paling rendah dan efek yang paling minimal.

Maka saya pun kembali menutup hati, mengubur semua dalam-dalam. Berusaha kembali pada jati diri yang sebenarnya. Pria egois dengan kesendiriannya yang hidup dalam dinginnya angin malam. Ironis,, setelah serangkaian kemajuan dalam mempercayai manusia, saya pun harus kembali ke titik nol. Believe only myself.

Tapi sekali lagi, ini adalah pilihan paling logis dengan resiko paling kecil. Maka disinilah saya sekarang, kembali hidup dengan kedataran perasaan dan kekosongan nurani. I’m back..

1 comments:

  1. setiap awal pasti ada akhirnya kan,,,sooo cari dan temukanlah akhir yang plg indah buat lo ya...lo slalu pny temen,kadang lo sendiri yg ga sadar kl mereka`ada buat lo....chayo2...:)