Cerita tentang Matahari

Posted: Senin, 20 Juli 2020 by Iqbal Fajar in
0

Ini adalah kisah tentang bodohnya seorang manusia

Percaya Ia pada wanita tak bermakna
Yang coba cari arti dari sebuah cinta
Yang ragukan kisah singkat penuh warnanya
Dengan berjumpa tuk cerita, si wanita pun berkisah
Bahwa telah hilang makna cintanya
Maka butuh Ia seorang manusia untuk membakar hatinya

Dan seorang manusia terperdaya

Terperdaya manusia pada canda
Terbuka hatinya pada wanita
Terlupa manusia pada kata rahasia
Yang harusnya dijaga hanya untuk dirinya

Tak mengapa, kata manusia
Hanya bahagia yang kita cari
Toh hanya kata tanpa makna
Sekedar bersantap bersama dalam tawa
Atau sentuhan ringan penghela debar

Lupa manusia bahwa cinta berawal dari kata
Dari terbuka cinta meresap ke jiwa

Maka ketika wanita terhalang oleh tanda
Bimbang manusia akan jujur dari kata
Terhalau dia oleh hati yang terlanjur terbuka

Kini tiada lagi percaya di manusia
Hanya debar yang terus menggelora
Pada dunia maya yang memporakporanda

Jawab Debar tentang Tanya

Posted: Kamis, 16 Juli 2020 by Iqbal Fajar in
0

Kau tanya aku tentang jawab
Salahkan aku karena terjaga
Caci aku karena tanpa makna

Coba lihat dalam otakmu itu wahai manusia!

Apa inginmu ku tak kuasa mengatur
Jika tidak tahu jawaban jangan paksa untuk terukur
Karena kata, jawab, atau makna adalah kuasamu
Bukan aku

Tanya pada Debar

Posted: by Iqbal Fajar in
0

Wahai debar, mengapa engkau datang lagi?
Dengan makna yang kini tak terlihat di pelupuk mata

Entah karena gelisah mu pada dunia
Atau pada dia yang tak juga kunjung kau tahu siapa
Hanya diam otak mu yang tahu jawabnya

Wahai debar, beri aku tanya yang ada jawabnya
Lelah ini serasa tak ada obatnya

Beda rasa ini terjaga
Malam yang tanpa guna
Penuh pikir terlanglang buana
Harap pada mimpi yang entah apa bisa terlaksana

Ah, kenapa kau kembali debar?

Tentang Rindu pada Menulis

Posted: Kamis, 13 Oktober 2016 by Iqbal Fajar in
0

Well,,

Sudah lama sekali rasanya tidak menulis di blog ini. Hampir 2 tahun sudah ditinggalkan. Tertelan dalam rutinitas pekerjaan, kesibukan personal dan kehidupan berkeluarga. Sebenarnya sudah beberapa kali saya menyambangi blog ini. Hanya sekedar untuk melihat kembali tulisan lama atau sekilas melihat kembali masa lalu.

Dan kini saya kembali lagi.

Alasan utama mengapa saya mencoba menulis lagi di blog ini sederhana saja. Ada banyak hal telah bergerak dari jalur harapan dan rencana. Dan seperti biasa. Saya galau dan kesepian. Lagi.

Lucu ya. Blog ini dulu dimulai dari kesepian dan kegalauan saya. Berhenti karena sepi dan galau hilang. Lalu kembali terisi karena hal yang tak jauh berbeda. Bedanya konteks dari sepi dan galau itu sendiri.

Jika dulu sepi dan galau terdefinisi dalam bentuk sebenar-benarnya, tapi kini sepi dan galau terdefinisi dalam bentuk yang berbeda.

Dulu galau lebih banyak karena percintaan atau sekedar keresahan sosial terhadap fenomena disekitar saya. Kini galau adalah rindu saya pada kejujuran terhadap berkata-kata dalam makna. Dengan lingkup pekerjaan, imaji, kata, analogi, dan frasa adalah objek terlarang. Saya harus menjelaskan segala sesuatu dengan makna sejelas-jelasnya. Tanpa ambiguitas dan tanpa makna tersirat. Padahal bahasa saya sejak dahulu memang selalu bersayap. Itu mengapa saya cinta puisi. Galau juga kini berubah makna nya. Jika dulu saya bisa menulis seenak udel dalam kosakata dan kejujuran cerita, kini atas nama pekerjaan dan profesionalitas, saya harus memaksa memilih untaian kalimat agar sesuai dengan kebutuhan klien. Akhirnya saya terbiasa berkata sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Kemampuan itu memang sangat berguna di pekerjaan. Tapi menghasilkan kegalauan luar biasa. Saya rindu berkata-kata dalam jujurnya analogi, liarnya imajinasi dan masa bodohnya pendapat orang lain.

Lain cerita dengan sepi. Jika dulu makna sepi adalah karena tidak ada entitas lain yang menemani, teman bercerita ketika galau tiba atau sekedar tempat pencurahan rasa sayang. Tapi kini sepi tidak lagi bermakna sama. Sepi kini adalah kerinduan pada kesendirian itu sendiri. Rindu pada nikmatnya kesendirian di malam hari, kangen pada masa-masa introspeksi diri, dan juga rindu terhadap ke egoisan menghadapi dunia. Dengan status saat ini, kesendirian adalah barang berharga. Tapi sendiri versi saat ini tidak hanya terbatas pada kebutuhan sendiri secara fisik saja. Kini sendiri juga hadir dalam bentuk berbeda. Fisik bisa saja tidak bersama. Tapi pikiran saya sulit menyendiri. Sulit menjadi egois lagi, teramat susah untuk menyenangkan diri sendiri dan hampir mustahil memusatkan pikiran hanya untuk sekedar kosong, tanpa berfikir apa-apa. Selalu saja ada hal yang harus dipikirkan dan sedihnya, itu bukan untuk diri saya sendiri.

Dan kini saya sudah mencapai batasnya. Galau dan sepi definisi baru ini sudah begitu memuncak sehingga memaksa saya untuk menulis lagi. Karena jika tidak, hidup saya akan tambah sia-sia. Meratapi mengapa kini galau dan sepi definisi baru itu hadir lagi dan kapan hilangnya.

Dan seperti saat saya pertama kali menulis blog ini, harapannya akan tiba di suatu masa dimana galau dan sepi definisi baru ini terhenti karena saya sudah menemukan obatnya. Entah apa solusinya dan kapan selesainya. Well, I just need to write anyway. And hopefully, this will trigger me to be a better person.

Lets start.

Onward,

Faithfully Me